Liputan6.com, Washington D.C - Ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan baru dengan Pakistan untuk mengeksplorasi cadangan minyak yang disebutnya "besar-besaran", banyak warga Pakistan terkejut dan bingung.
Pernyataan optimistis Trump itu disampaikan melalui unggahan di platform Truth Social miliknya, di mana ia menyebut bahwa "Pakistan dan Amerika Serikat akan bekerja sama dalam mengembangkan cadangan minyak besar mereka."
Ia bahkan menambahkan, "Siapa tahu, mungkin suatu hari nanti mereka bisa menjual minyak ke India!"
Advertisement
Namun, sejumlah pihak mengatakan, hal itu tidak seindah yang digambarkan. Selama beberapa dekade, Pakistan telah bermimpi menjadi negara produsen minyak besar, tetapi upaya demi upaya yang dilakukan selalu berakhir dengan kegagalan.
Negeri ini sangat bergantung pada impor minyak -- sekitar 80 persen pasokannya berasal dari luar negeri. Ketika pasokan menipis, pemadaman listrik pun menjadi hal yang lumrah, dikutip dari Washingtonpost, Minggu (10/8/2025).
Data dari Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan bahwa Pakistan mungkin memiliki cadangan minyak yang dapat dipulihkan sebanyak 9,1 miliar barel.
Angka ini kerap digunakan pemerintah Pakistan untuk menarik minat investor asing. Namun, menurut Afia Malik, peneliti energi terkemuka di Pakistan, cadangan ini belum terbukti secara teknis. Bahkan, cadangan minyak terbukti Pakistan tergolong kecil secara global—sekitar peringkat ke-50, di bawah negara-negara seperti Rumania, Vietnam, dan Brunei.
Pada tahun 2023, produksi minyak Pakistan tercatat kurang dari 100.000 barel per hari. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang memproduksi sekitar 13 juta barel per hari, dan menjadi produsen terbesar dunia. Dengan latar belakang seperti ini, banyak warga Pakistan yang merasa skeptis dengan pernyataan Trump. Sejarah panjang hambatan birokrasi, intervensi politik, dan ketidakpastian hukum membuat investor asing enggan untuk menanamkan modal di sektor energi Pakistan.
Investasi AS
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2704251/original/000193900_1547530828-bendera_AS.jpg)
Trump menyebut bahwa investasi akan datang dari perusahaan-perusahaan swasta AS dan bahwa saat ini tengah dilakukan proses pemilihan perusahaan minyak yang akan memimpin kemitraan tersebut. Namun, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa janji besar belum tentu membuahkan hasil. Upaya ambisius terakhir dilakukan pada 2019, ketika konsorsium internasional yang termasuk ExxonMobil melakukan eksplorasi di dekat Karachi -- tanpa hasil apa pun.
Baru-baru ini, sebuah kilang minyak di Pakistan mengumumkan kesepakatan untuk mengimpor minyak mentah dari Amerika Serikat—tanda awal hubungan energi yang mungkin berkembang. Gedung Putih pun menegaskan kembali komitmen kerja sama ini. "Pengembangan cadangan minyak Pakistan akan memperkuat keamanan ekonomi kedua negara," kata juru bicara Anna Kelly.
Pemerintah Pakistan menyambut baik langkah ini. Menteri Energi, Awais Leghari, menyatakan keterbukaan terhadap investasi dari negara mana pun, termasuk AS dan Cina. Namun di kalangan analis dan pengamat politik dalam negeri, banyak yang meragukan motif sebenarnya di balik pengumuman Trump. Beberapa menduga bahwa Pakistan hanyalah alat tawar-menawar dalam hubungan Amerika dengan India, rival berat Pakistan di kawasan.
Hubungan Trump dengan India memang merenggang belakangan ini, terutama dalam hal perdagangan. Trump bahkan mengancam akan menggandakan tarif atas barang-barang dari India karena terus membeli minyak dari Rusia.
Di sisi lain, Washington juga menunjukkan tanda-tanda ingin mempererat hubungan dengan Islamabad. Baru-baru ini, Trump menjamu Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Jenderal Asim Munir, untuk makan siang di Gedung Putih. Bahkan ada laporan bahwa Pakistan mempertimbangkan untuk mencalonkan Trump sebagai penerima Nobel Perdamaian, setelah berhasil menengahi gencatan senjata antara India dan Pakistan pada bulan Mei lalu.
Namun, beberapa pengamat menilai bahwa ketertarikan baru AS terhadap Pakistan tidak semata soal minyak. Pakistan diyakini memiliki cadangan tanah jarang (rare earth elements) yang besar dan belum dieksplorasi—sumber daya yang krusial untuk industri teknologi dan pertahanan. Dalam konteks persaingan dagang dengan Cina—pemasok utama tanah jarang dunia—AS mulai memandang Pakistan sebagai alternatif strategis. Pada bulan April, delegasi Amerika bahkan menghadiri Forum Investasi Mineral Pakistan.
Advertisement
Cadangan Mineral Pakistan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3545301/original/017030700_1629368526-pakistan-895319_1280.jpg)
Sayangnya, seperti sektor minyak, cadangan mineral Pakistan juga masih belum tergarap dengan baik. Cina sendiri telah berupaya menghubungkan wilayah-wilayah kaya sumber daya di Pakistan dengan jaringan jalan, rel, dan pipa melalui proyek besar China-Pakistan Economic Corridor (CPEC). Namun, proyek ini terganggu oleh situasi keamanan yang terus memburuk.
Kelompok separatis di Baluchistan dan militan Taliban Pakistan di Khyber Pakhtunkhwa terus melancarkan serangan. Pekan lalu, separatis Baluch mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua truk tambang, dan memperingatkan bahwa siapa pun yang terlibat dalam eksploitasi sumber daya alam akan menjadi target.
Kekhawatiran juga muncul dari tokoh-tokoh dalam negeri yang menilai bahwa selama ini masyarakat lokal tidak pernah benar-benar dilibatkan dalam proses eksploitasi sumber daya alam. G.A. Sabri, mantan pejabat tinggi Kementerian Perminyakan, mengatakan bahwa penduduk lokal kerap merasa tersisih dari keuntungan yang diperoleh. Ketika mereka tidak melihat manfaat langsung dari eksplorasi, sulit untuk mengharapkan dukungan mereka dalam menjaga stabilitas keamanan.
Afia Malik menambahkan bahwa melibatkan masyarakat lokal sebagai mitra sejati dalam proyek energi dan mineral bisa menjadi kunci keberhasilan di masa depan. "Ketika mereka melihat manfaat nyata dari eksplorasi," ujarnya, "mereka akan lebih merasa memiliki dan termotivasi untuk menjaga keberlangsungan proyek tersebut."
Antara janji Trump, realitas ekonomi Pakistan, dan situasi politik yang kompleks, masa depan eksplorasi minyak di negeri ini masih jauh dari pasti. Harapan tetap ada, namun jalan menuju kemandirian energi tampaknya masih panjang dan penuh rintangan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2741121/original/045300700_1551439726-190301_PAKISTAN-INDIA_DI_AMBANG_PERANG_banner__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5490270/original/075910100_1770004204-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-02T104539.335.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8627383/original/048072800_1782622786-153948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782357/original/057831900_1782883984-Cek_fakta-_disabilitas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782154/original/031089800_1782878025-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-01T104708.110.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4363973/original/012046500_1679223657-n-beefsteak-a-20171103.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1384773/original/024567600_1477395058-Donald_Trump.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389971/original/012637700_1782270142-AP26174800285397.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5556659/original/033473100_1776274063-000_A6D679V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782365/original/061503000_1782884376-AP26181805083891.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782203/original/029416800_1782879842-mex4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782208/original/070447800_1782879843-mex9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776307/original/030285700_1782873381-AP26182087478676.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8524757/original/078321100_1782454482-AP26176835585287.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262583/original/036434300_1781838197-000_B7LE9YQ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776146/original/063906300_1782856231-Sweden_s_Lucas_Bergvall__7__and_Yasin_Ayari__18__defend_France_s_Ousmane_Dembele.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8584006/original/084196900_1782546499-AP26178201151443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776154/original/033634700_1782859536-France_s_Kylian_Mbappe__10__celebrates_scoring_their_third_goal_with_Michael_Olise.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5516473/original/017053500_1772306812-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/thumbnails/8718856/original/038435100_1782812866-pg30-iran-amerika-185036.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5004749/original/093594200_1731553174-20241114-Trump_Bertemu_Biden-AFP_6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5563533/original/046149400_1776904156-AP26108447326306.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5546340/original/050246100_1775287307-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488493/original/037865300_1769753942-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8451107/original/036314100_1782347531-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5461829/original/047106800_1767458658-Untitled.jpg)