Adik Kim Jong Un Tolak Ajakan Damai Presiden Baru Korea Selatan

Apa yang membuat Korea Utara menolak tawaran rekonsiliasi dari Korea Selatan?

Diperbarui 28 Juli 2025, 11:56 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Pyongyang - Korea Utara tidak tertarik pada kebijakan atau proposal apapun untuk rekonsiliasi dari Korea Selatan. Hal ini ditegaskan oleh saudari Kim Jong Un pada Senin (28/7/2025), menandai tanggapan pertama terhadap upaya perdamaian yang disodorkan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung.

Kim Yo Jong, yang merupakan pejabat senior partai berkuasa Korea Utara dan diyakini mewakili suara pemimpin negara tersebut, mengatakan bahwa janji Lee untuk tetap berkomitmen pada aliansi keamanan Korea Selatan-Amerika Serikat (AS) menunjukkan dia tidak berbeda dari pendahulunya yang bersikap bermusuhan.

"Jika Korea Selatan berharap membalikkan semua konsekuensi dari (tindakannya) hanya dengan beberapa kata yang penuh perasaan maka itu adalah perhitungan yang paling keliru," kata Kim Yo Jong dalam pernyataan yang dimuat oleh kantor berita resmi KCNA.

Lee, yang mulai menjabat pada 4 Juni setelah memenangkan pemilu dadakan yang digelar menyusul pemakzulan presiden konservatif Yoon Suk Yeol karena upaya kudeta militernya yang gagal, telah berjanji untuk memperbaiki hubungan dengan Korea Utara yang mencapai titik terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Sebagai isyarat untuk meredakan ketegangan, Lee menghentikan siaran pengeras suara yang menyebarkan propaganda anti-Korea Utara di sepanjang perbatasan dan melarang aksi penerbangan selebaran oleh para aktivis yang selama ini membuat marah Pyongyang.

Namun Kim Yo Jong menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut hanyalah pembatalan atas tindakan bermaksud buruk yang dilakukan Korea Selatan—tindakan yang, menurutnya, seharusnya tidak pernah terjadi sejak awal.

"Dengan kata lain, itu bahkan tidak layak untuk kami nilai," ujarnya. "Kami kembali menegaskan posisi resmi bahwa kebijakan apa pun yang ditetapkan di Seoul atau proposal apa pun yang diajukan, kami tidak tertarik, dan kami tidak akan duduk bersama Korea Selatan karena tidak ada hal yang perlu dibicarakan."

Tidak Akan Mengorbankan Aliansi dengan AS

Kementerian Unifikasi Korea Selatan seperti dilansir AP mengatakan, pernyataan Kim Yo Jong menunjukkan tembok ketidakpercayaan antara Selatan dan Utara sangat tinggi sebagai akibat dari kebijakan bermusuhan dan konfrontatif selama beberapa tahun terakhir.

Juru bicara Kementerian Unifikasi Korea Selatan Koo Byoung-sam menegaskan pihaknya akan terus berupaya untuk mewujudkan rekonsiliasi dan kerja sama dengan Korea Utara.

Ada sedikit optimisme di Korea Selatan bahwa Korea Utara mungkin memberikan respons positif dan bahkan menunjukkan kesediaan untuk kembali berdialog, terutama setelah Pyongyang juga mematikan pengeras suaranya — sebuah langkah yang menurut Lee terjadi lebih cepat dari yang diperkirakan.

Meski begitu, Lee, yang pemerintahannya sedang menjalani negosiasi sulit dengan AS untuk menghindari kebijakan tarif tinggi Donald Trump mengatakan bahwa aliansi dengan AS merupakan pilar utama diplomasi Korea Selatan.

Dalam peringatan gencatan senjata Perang Korea pada Minggu (27/7), Lee menegaskan bahwa Seoul akan terus berupaya di segala bidang untuk memperkuat aliansi dengan AS—sebuah hubungan yang, menurutnya, terjalin lewat perjuangan dan pengorbanan nyawa.

Korea Utara juga memperingati hari jadi yang mereka sebut sebagai hari kemenangan itu dengan berbagai acara, termasuk parade di Pyongyang, meskipun laporan media pemerintah mengindikasikan perayaan kali ini berlangsung dengan skala yang relatif lebih kecil dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Kedua Korea, AS, dan China — yang merupakan pihak-pihak utama yang terlibat dalam Perang Korea 1950–1953 — belum pernah menandatangani perjanjian damai hingga saat ini.