CEO COP30 Ana Toni Serukan Aksi Iklim sebagai Mesin Pertumbuhan Berkelanjutan

CEO COP30 Ana Toni menggarisbawahi pentingnya aksi iklim bukan hanya sebagai solusi krisis lingkungan, tetapi juga sebagai penggerak utama pembangunan ekonomi berkelanjutan.

Diterbitkan 26 Juli 2025, 21:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - CEO COP30 Ana Toni menyampaikan penuh harapannya dalam acara Indonesia Net Zero Summit 2025 yang digelar di Jakarta pada Sabtu (26/7/2025).

Dalam sambutannya, Ana Toni menggarisbawahi pentingnya aksi iklim bukan hanya sebagai solusi krisis lingkungan, tetapi juga sebagai penggerak utama pembangunan ekonomi berkelanjutan, terutama bagi negara-negara dengan kekayaan ekosistem dan posisi strategis seperti Indonesia dan Brasil.

“Topik sesi ini sangat penting -- bagaimana aksi iklim dapat menjadi mesin pertumbuhan berkelanjutan yang sesungguhnya," ujar Toni dalam INZS 2025 pada sesi bertajuk Middle Powers Rising! How Countries Turn Climate Action into Growth Engines in the 21st Century.

Ia menyampaikan lima refleksi kunci dari perspektif kepemimpinan Brasil sebagai tuan rumah COP30 yang akan digelar pada November mendatang.

Pengentasan Kemiskinan dan Aksi Iklim Tidak Bisa Dipisahkan

Ana Toni menekankan bahwa aksi iklim harus dilihat sebagai fondasi bagi pembangunan ekonomi yang adil dan tangguh. Ia mencontohkan keberhasilan Brasil dalam menurunkan angka deforestasi sebesar 46% dalam dua tahun terakhir, yang dibarengi dengan keberhasilan mengangkat sekitar 9 juta orang dari kemiskinan dan lebih dari 20 juta orang dari ancaman kelaparan.

“Ini bukti nyata bahwa aksi iklim dan pengentasan kemiskinan bisa berjalan berdampingan," katanya.

Dalam poin keduanya, Toni menyebut bahwa berinvestasi dalam adaptasi iklim merupakan keputusan ekonomi yang cerdas. Ia memaparkan hasil studi terbaru yang menunjukkan bahwa setiap satu dolar investasi dalam adaptasi dapat menghasilkan pengembalian rata-rata 27%, dan berpotensi mencegah kerugian empat kali lipat di masa depan.

Ia juga mengajak dunia untuk memandang hutan tropis bukan sebagai tanggungan, tetapi sebagai kekayaan strategis global. “Brasil, bersama Indonesia dan negara-negara tropis lainnya, telah meluncurkan TFF - Tropical Forest Forever Facility, sebagai instrumen ekonomi baru untuk mendorong pendanaan iklim yang adil dan berkelanjutan," jelasnya.

Toni mendorong negara-negara maju untuk memberikan dukungan pendanaan yang adil, dapat diprediksi, dan berdasarkan kontribusi nasional yang jelas (NDCs), demi mendukung pelestarian hutan dan menarik investasi yang lebih luas.

 

Aksi Iklim Harus Jadi Kebijakan Negara, Bukan Sekadar Program Pemerintah

Menurut Toni, konsistensi kebijakan adalah kunci agar aksi iklim benar-benar terwujud. Ia menegaskan bahwa emisi tidak akan turun jika kebijakan iklim hanya menjadi program sementara. Ia menyerukan perlunya kerja sama internasional untuk memperkuat kelembagaan di negara-negara berkembang, termasuk dukungan teknologi dan kapasitas lokal.

Di poin terakhir, Toni menyoroti peran penting diplomasi negara-negara berpenghasilan menengah. "Negara seperti Indonesia memiliki kekuatan untuk menjembatani kepentingan, meredakan polarisasi, dan membangun kepercayaan global," ucapnya. Ia menyebut semangat COP30 sebagai "gebrakan percepatan implementasi" yang lahir dari Amazon, tapi terbuka bagi dunia.

Ana Toni menutup pidatonya dengan mengajak semua pihak untuk berfokus pada hasil konkret dan transformasi yang menyeluruh -- baik untuk masyarakat, ekonomi, maupun planet ini.

"Kami ingin COP30 menjadi panggung aksi nyata yang berlandaskan inklusi dan keberlanjutan. Mari kita tempuh jalan ini bersama," tutupnya.

Apa Itu COP30?

COP30 atau Conference of the Parties ke-30 adalah pertemuan tahunan ke-30 dari negara-negara anggota United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), sebuah perjanjian internasional yang ditandatangani pada 1992 untuk mengatasi masalah perubahan iklim secara global.

Pertemuan ini bertujuan mengevaluasi kemajuan implementasi Kesepakatan Paris, memperbarui komitmen negara-negara terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca (NDC atau Nationally Determined Contributions), serta menyepakati langkah konkret untuk menjaga suhu bumi agar tidak naik lebih dari 1,5 derajat Celsius dibandingkan era pra-industri.

COP30 dijadwalkan berlangsung pada November 2025 di kota Belém, Brasil, yang terletak di jantung wilayah Amazon. Pemilihan Belém sebagai tuan rumah memiliki makna simbolis dan strategis karena kawasan Amazon dikenal sebagai paru-paru dunia yang memegang peran penting dalam menyerap emisi karbon dan menjaga keseimbangan iklim global. Penyelenggaraan COP30 di Amazon juga menjadi bentuk pengakuan terhadap pentingnya melibatkan negara-negara berkembang—khususnya di kawasan tropis—dalam pengambilan keputusan global terkait krisis iklim.

Konferensi ini diselenggarakan oleh UNFCCC dan melibatkan hampir 200 negara anggota, serta ribuan peserta dari berbagai sektor termasuk kepala negara, menteri, ilmuwan, aktivis lingkungan, organisasi non-pemerintah, pegiat iklim muda, dan pelaku sektor swasta.

COP30 juga akan menjadi tonggak penting karena negara-negara diharapkan memperbarui target iklim mereka dengan lebih ambisius, sesuai dengan siklus lima tahunan dalam Kesepakatan Paris.

Lebih dari sekadar forum negosiasi, COP30 akan menjadi ajang penting untuk menunjukkan komitmen politik, memperkuat solidaritas internasional, serta membuka peluang pendanaan dan kolaborasi teknologi untuk mewujudkan transisi energi berkelanjutan di seluruh dunia.