Sukses

Kilas Balik Keterlibatan Najib Razak dalam Skandal 1MDB

Liputan6.com, Jakarta Mantan Perdana Menteri Malaysia, Najib Razak akan disidang terkait kasus megakorupsi pada Selasa, 12 Februari 2019.

Diduga sekitar seperempat dana curian dari megaproyek nasional 1Malaysia Development Berhad (1MDB) berakhir di rekening bank pribadi Najib, yang digunakan untuk mendanai pengeluaran kartu kredit untuk gaya hidup mewah dirinya dan sang istri, Rosmah Mansour.

Berkali-kali Najib dan Rosmah menyangkal tuduhan itu. Meskipun demikian, proses penyelidikan tetap berjalan, salah satunya dilakukan oleh Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI).

Hingga saat ini, Najib Razak telah dijatuhi 42 dakwaan, sedangkan istrinya mendapatkan 16 tuntutan pidana.

Berikut adalah sepak terjang Najib Razak dalam perpolitikan Malaysia dilansir dari CNN, Senin (11/2/2019) termasuk kilas balik terbongkarnya kasus megakorupsi 1MDB, yang mencatut nama sang mantan perdana menteri Negeri Jiran.

Datang Dari Keluarga Elit Politik

Ekspresi eks PM Malaysia Najib Razak saat tiba di Kantor Komisi Anti-Korupsi Malaysia (MACC) di Putrajaya, Kamis (24/5). Najib diperiksa terkait penyelidikan korupsi miliaran dolar atas dana 1Malaysia Development Berhad (1MDB). (AP Photo/Vincent Thian)

Najib dibesarkan dengan keistimewaan yang besar, mengingat ia datang dari keluarga elit politik yang telah mendominasi pemerintahan Malaysia sejak kemerdekaan. Ayahnya adalah Abdul Razak Hussein, yang juga merupakan Mantan Perdana Menteri Negeri Jiran.

Pada usia 15 tahun ia telah mengawali pendidikan di sekolah elit Inggris, Malvern College. Selanjutnya, ia berkuliah di University of Nottingham dengan mengambil studi ekonomi.

Simak pula video berikut:

2 dari 6 halaman

Segera Menjadi Petinggi Partai Besar

Pada usia 23 tahun, Najib memasuki dunia politik setelah sebelumnya bekerja sebagai salah satu pimpinan di perusahaan minyak negara, Petronas. Ia mampu mendapatkan kursi parlemen dan dalam waktu singkat berhasil menjadi bagian dari jajaran tinggi UMNO (United Malays National Organisation), partai terbesar dalam koalisi Barisan Nasional.

Di antara 1976 hingga 1999, Najib memegang portofolio bidang Keuangan, Budaya, Pendidikan, dan Pertahanan; yang menempatkannya dalam relasi kuasa politik yang diperhitungkan. Mengingat, bidang pertahanan kala itu berperan signifikan dalam modernisasi pasukan bersenjata Malaysia.

Ia memiliki kemampuan yang baik dalam menggalang dukungan massa. Dibuktikan dengan mendapatkan marjin terbesar dalam sejarah kemenangan pemilu di Malaysia, yakni 23.000 pada pemilihan 2004, dan 26.000 pada pada 2008.

Tahun 2009, meskipun UMNO mendapatkan dukungan yang besar dari etnis Melayu, Najib menekankan bangsa yang bersifat "multirasial, multiagama" di bawah jargon 1Malaysia.

1Malaysia dan Megaproyeknya

Ilustrasi skandal 1MDB Malaysia (AFP PHOTO/Manan Vatsyayana)

Salah satu kebijakan kunci di dalam 1Malaysia yang dicanangkan pemerintahan Najib Razak adalah 1Malaysia Development Berhad (1MDB). Menurutnya, 1MDB akan mengantarkan Negeri Jiran menjadi negara maju.

Gagasan 1MDB dimulai pada 2009, ketika Najib yang baru dilantik mendirikan dan mengawasi dana pemerintah, berjudul 1Malaysia Development Berhad atau 1MDB.

Tujuannya adalah untuk membantu menarik investasi asing masuk ke Malaysia. Alih-alih selama lima tahun setelahya, miliaran dolar digelapkan ke luar negeri atau dicuci melalui anak perusahaan oleh mereka yang menjalankannya.

Sayangnya, dana besar yang digelontorkan untuk projek 1MDB diduga oleh jaksa penuntut, dan beberapa nama dari AS dan Singapura, telah digunakan untuk membiayai gaya hidup mewahnya dan sang istri, serta kampanye di beberapa negara bagian.

3 dari 6 halaman

Megakorupsi Terkuak

Pada awal 2015, beberapa jurnalis dari Sarawak Report dan Wall Street Journal mulai melaporkan adanya jutaan dolar yang telah "disedot" dari megaproyek 1MDB. Diduga, mereka mendapatkan informasi dari beberapa dokumen yang bocor.

Xavier Justo, mantan karyawan PetroSaudi yang terkait 1MDB, dicurigai telah memeras perusahaan dengan dokumen curian, sebelum akhirnya memberitahu wartawan.

Justo yang kemudian ditangkap di Thailand, diduga telah ditekan untuk mengaku bahwa ia yang telah membuat dan meerawat dokumen yang bocor.

Najib saat itu diminta mengundurkan diri dari jabatan oleh beberapa orang kolega dan partainya. Meskipun demikian ia membantah telah melakukan megakorupsi. Ia mengatakan bahwa kasus itu telah dibuat dengan motif politik, untuk menjatuhkan dia dari kursi pemimpin pemerintahan.

"Biarkan menjadi sangat jelas: Saya tidak pernah mengambil dana untuk keuntungan pribadi seperti yang dituduhkan lawan politik saya - apakah dari 1MDB, SRC International atau entitas lain, seperti yang dikatakan oleh perusahaan-perusahaan ini," kata Najib dalam sebuah kirimannya di Facebook.

"Sekarang jelas bahwa tuduhan palsu seperti ini adalah bagian dari kampanye sabotase politik bersama untuk menjatuhkan Perdana Menteri yang terpilih secara demokratis," lanjutnya.

Pada pertengahan 2015, Jaksa Agung Abdul Gani Patail menyatakan kepada kepolisian Malaysia bahwa penyidik memiliki informasi yang cukup untuk menyiapkan lembar tuduhan terhadap Najib. Spontan, nama Abdul Gani dipindahkan dari posisinya dengan dalih "alasan kesehatan", begitu pula dengan posisi polisi senior. Dua jabatan strategis itu digantikan dengan pendukung Najib.

Sejumlah jurnalis yang memberitakan keterlibatan Najib dalam megakorupsi juga ditangkap. Malaysia menerbitkan surat penangkapan terhadap Rewcastle-Brown dan Ho Kay Tat wartawan Majalah The Edge Malaysia dengan tuduhan "merusak demokrasi parlementer" dan penghasutan.

Rewcastle-Brown berhasil melarikan diri ke Inggris, sedangkan Ho Kay Tat ditangkap. Lisensi The Edge Malaysia bahkan terancam dibekukan.

4 dari 6 halaman

Tak Bisa Cuci Tangan

Najib tidak bisa cuci tangan begitu saja. Menurut Tom Wright dan Bradley Hope, yang melaporkan kasus tersebut untuk Wall Street Journal dan menulis buku "Paus Miliaran Dolar: Pria yang Menipu Wall Street, Hollywood, dan Dunia," beberapa pejabat telah khawatir Najib akan mengabaikan skandal itu.

"Dalam Komisi Anti-Korupsi Malaysia, yang telah merekomendasikan penangkapan terhadap perdana menteri, ada kemarahan yang membara terhadap investigasi mereka," tulis Wright dan Hope. "Jadi, segelintir penyelidik mulai diam-diam memberi informasi kepada FBI," lanjutnya.

Pada Juli 2016, Malaysia dikejutkan oleh Kementerian Kehakiman AS yang mengajukan gugatan untuk mendapatkan kembali lebih dari US$ 1 miliar dalam aset yang disinyalir telah digelapkan dari 1MDB.

Ketika jaksa penuntut di AS mengejar aset dan saksi, mengingat 1MDB mulai runtuh karena beban pinjamannya yang besar.

Menanggapi usaha keras Kementerian Kehakiman AS, Najib segera pergi ke Washinton DC untuk bertemu Donald Trump, pada akhir 2017. Ternyata, usaha itu tidak menghentikan pengejaran Departemen Kehakiman atas dirinya.

Berharap Bantuan China

Ilustrasi Bendera China (AFP/STR)

Najib, yang telah lama mendekati Washington sebagai sekutu kunci, kini beralih ke China. Perusahaan China dilaporkan setuju untuk membantu menyelamatkan 1MDB, memberikan penangguhan sementara, meskipun beberapa kesepakatan kemudian gagal.

Pada awal Januari, para pejabat senior China menawarkan bantuan dana talangan kepada Malaysia, untuk mengatasi kerugian yang disebbakan oleh megakorupsi 1MDB.

Pemerintah China diduga mengatakan kepada para delegasi Malaysia, yang datang berkunjung setelah pergantian tahun, bahwa Beijing akan menggunakan pengaruhnya untuk membuat AS dan pihak internasional menarik tuduhan terhadap mantan Perdana Menteri Najib Razak, dan para sekutunya.

Sebagai imbalannya, sebagaimana dikutip dari The Star Online, Malaysia disebut menawarkan saham dalam proyek perpanjangan rel kereta dan pipa, sebagai bagian dari inisiatif Jalur Sutera Baru, atau One Belt One Road.

Tidak ada konfirmasi resmi dari otorits kedua negara tentang bocoran informasi tersebut. Namun, kementerian luar negeri China sebelumnya membantah bahwa uang dalam program investasi raksasa itu digunakan untuk membantu menyelamatkan dana 1MDB.

 

5 dari 6 halaman

Mahathir Menjabat, Najib Ditangkap

Investigasi tegas baru kembali dilakukan ketika Mahathir Mohammad mengambil alih kekuasaan pada Mei tahun lalu, setelah sebelumnya Malaysia telah mendukung kebebasan pers dan mencabut undang-undang berita palsu.

Penggerebekan di hunian pribadi Najib oleh polisi menguak keberadaan barang-barang mewah senilai US$ 273 juta (setara Rp 3,8 triliun), termasuk 1.400 kalung, 567 tas karya desainer ternama, 423 jam tangan mewah, 2.200 cincin, 1.600 bros, dan 14 tiara.

Penggebrekan itu sekaligus menjadi aksi penyitaan terbesar dari jenisnya dalam sejarah hukum Malaysia.

Selanjutnya, Najib ditangkap pada empat kesempatan terpisah, di mana yang terbaru pada Jumat 8 Februari, ketika ia tengah bersantap malam dengan istrinya.

Najib menghadapi total 42 dakwaan yang berkaitan dengan 1MDB, mulai dari korupsi dan pencucian uang hingga penyalahgunaan kekuasaan, menerima suap ilegal dan pelanggaran kepercayaan terhadap kriminal.

Sedangkan istrinya menghadapi 16 tuntutan pidana.

Keduanya mengaku tidak bersalah atas semua tuduhan dan berbicara setelah ditangkap untuk kedua kalinya pada September tahun lalu, Najib mengatakan kepada wartawan: "Saya bukan pencuri ... tapi saya senang karena sekarang saya memiliki kesempatan untuk membersihkan nama saya tentang masalah ini satu kali dan untuk semua."

Jika terbukti bersalah, Najib Razak akan dijatuhi hukuman beruntun, yang membuatnya mendekam bertahun-tahun di balik jeruji besi.

6 dari 6 halaman

Mahathir Muak

Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad memberikan banyak komentar terkait kasus yang menimpa Najib Razak. Ia menyebut dalam sebuah konferensi pers di Putrajaya pada akhir Oktober bahwa Najib Razak dapat mengatakan apa pun untuk meyakinkan publik tentang uang senilai RM 2,6 miliar (setara Rp 9,4 triliun dengan kurs Rp 3.267 per 1 ringgit), yang masuk ke rekening pribadinya, adalah donasi dari Arab Saudi.

"Tetapi dunia akan lebih tahu yang sebenarnya," ujar Mahathir.

Komentar itu diberikan setelah akhir September Mahathir menyinggung bahwa Partai UMNO telah runtuh dan tidak memiliki masa depan.

Awal Desember lalu, Mahathir juga mengatakan bahwa korupsi telah menjadi bagian budaya Melayu sejak lama.

Ia mengatakan bahwa mereka yang rusak oleh budaya tersebut, sudah tidak peduli dengan masa depan negara. Mahathir juga menyinggung tentang kebiasaan para koruptor yang sering melempar kesalahan ketika ketahuan menarima suap.

"Orang-orang yang menerima budaya korupsi ini, tidak lagi merasa malu dengan menerima atau memberi suap," katanya.

"Konflik dengan hukum, dan bahkan berdosa dalam hal agama, tidak diperhitungkan."

"Prioritasnya adalah mendapatkan sesuatu untuk memenuhi keserakahan mereka," tambahnya.

Warga Arizona Bersiap Hadapi Badai Musim Dingin

Tutup Video
Loading
Artikel Selanjutnya
Gurita Skandal Korupsi 1MDB Menyeret Nama Leonardo DiCaprio hingga Paris Hilton
Artikel Selanjutnya
Selain Korupsi 1MDB, Najib Razak Terseret Kasus Pencucian Uang