Sukses

Dengan Teknologi Pelacak Mata, Penyandang Disabilitas Bisa Mainkan Harpa Digital

Liputan6.com, Jakarta Teknologi yang semakin canggih dapat membantu penyandang disabilitas mendapatkan akses pada hal-hal yang sebelumnya sulit dilakukan.

Hal ini dirasakan Alexandra Kerlidou, penyandang disabilitas cerebral palsy (lumpuh otak) asal Athena, Yunani yang gemar bermain harpa.

Tak seperti orang pada umumnya yang memainkan harpa dengan tangan dan jari-jarinya, perempuan usia 21 ini bermain harpa dengan menggunakan mata dan komputer.

Pada dasarnya, ia memang tidak bisa menggerakkan tangan, kaki, bahkan tak bisa berbicara. Namun, dengan teknologi harpa digital atau yang disebut pula “Eyeharp”, ia cukup duduk di kursi rodanya dan mengalihkan pandangannya ke layar komputer.

Eyeharp merupakan perangkat lunak digital yang dikendalikan pandangan yang memungkinkan penyandang disabilitas untuk memainkan musik. Ini adalah sesuatu yang bahkan tak pernah ia pikirkan sebelumnya.

"Saya merasa aneh, saya tidak pernah membayangkan hal seperti itu," kata Alexandra dengan bantuan program komputer penghasil kata-kata saat dia menggambarkan pengalamannya mencoba Eyeharp untuk pertama kalinya di rumahnya di Lesbos dengan pencipta Eyeharp Zacharias Vamvakousis.

Vamvakousis adalah seorang ilmuwan komputer dan musisi, ia terinspirasi untuk membuat program setelah seorang teman musisi terluka dalam kecelakaan sepeda motor sesaat sebelum mereka bermain konser bersama.

"Pada awalnya tidak jelas apakah dia bisa menggerakkan lengan, tangannya, dan memainkan musik lagi," kata Vamvakousis dari temannya, yang memainkan lyra Kreta.

"Itu mengejutkan bagi saya dan saya menyadari ada kebutuhan untuk teknologi semacam ini," mengutip Channel News Asia, Jumat (6/5/2022).

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Teknologi Pelacak Mata

Teknologi pelacakan mata digital yang banyak digunakan dalam permainan, keamanan, dan kedokteran, memantau gerakan mata untuk melakukan perintah.

Mata tertuju pada setiap not musik yang ditempatkan pada roda di layar dan rata-rata dapat memainkan tiga hingga empat not per detik. Program ini dapat memainkan 25 alat musik berbeda.

"Tanpa melakukannya secara digital, ini tidak akan mungkin memutar musik secara real time," kata Vamvakousis. "Itu menghilangkan tindakan sebenarnya dari memetik akord."

Program ini membutuhkan disiplin dan konsentrasi, katanya, karena kita harus menjaga mata agar tidak terlalu cepat beralih ke nada berikutnya, tetapi siswa senang ketika mereka mendengar upaya mereka.

“Kebanyakan anak-anak pertama kali mulai dengan suara gendang hanya untuk membuat kebisingan, hanya untuk berinteraksi dengan lingkungan sekarang,” kata Vamvakousis.

Dia telah mengajar program ini di sekolah kebutuhan khusus di Barcelona, ​​tempat dia belajar, dan mengatakan lebih dari 2.000 orang telah mengunduh program tersebut.

3 dari 4 halaman

Mengajar Anak-Anak Cerebral Palsy

Karena pandemi COVID-19, ia saat ini mengajar secara daring. Para murid kebanyakan adalah anak-anak dengan cerebral palsy, tetapi program ini juga dirancang untuk mereka yang menyandang distrofi otot, amputasi tungkai, quadriplegia, atau cedera tulang belakang.

"Saya menangis, ibunya juga," kata ayah Kerlidou, Anastasios, setelah putrinya pertama kali memainkan Eyeharp.

Alexandra, yang ingin bekerja dalam pemrograman komputer setelah menyelesaikan sekolah, menyukai lagu-lagu Yunani populer dan piano. Dia tidak bisa membayangkan hidup tanpa musik.

"Ketika saya sedih, atau bahagia, saya menyetel musik," katanya.

Penggunaan berbagai teknologi yang bisa memudahkan penyandang disabilitas dalam memudahkan kegiatan sehari-hari juga sangat diharapkan ada di Indonesia. Bahkan, Presiden Joko Widodo atau Jokowi meminta kementerian/lembaga serta pemerintah daerah terus berinovasi untuk mengimplementasikan hak-hak penyandang disabilitas.

Misalnya, dengan melibatkan keluarga dan komunitas serta melakukan kerja residensial yang terintegrasi dengan berbagai program layanan kesejahteraan sosial.

"Para penyandang disabilitas harus diajak untuk menggunakan teknologi adaptif, misalnya penyediaan alat bantu dan alat usaha bagi penyandang disabilitas, baik itu kursi roda, motor roda tiga, serta tongkat penuntun yang adaptif," jelas Jokowi dalam Peringatan Hari Disabilitas Internasional, dikutip dari situs Sekretariat Kabinet, Sabtu (4/12/2021).

4 dari 4 halaman

Ikut Serta dalam Kegiatan Produktif

Selain itu, Jokowi ingin para penyandang disabilitas dapat diikutsertakan dalam kegiatan produktif, seperti perakitan kursi roda, motor roda tiga, hingga pembuatan tongkat penuntun adaptif.

Hal ini dinilai dapat memberikan ruang dan kesempatan bagi penyandang disabilitas mengembangkan potensinya.

Menurut dia, cara ini juga menjadi modal penting penyandang disabilitas menolong diri sendiri serta dapat berkontribusi bagi masyarakat dan lingkungan sekitar. Di sisi lain, Jokowi meminta agar penyandang disabilitas terus diberi akses dalam mendapatkan kesempatan pekerjaan.

"Yang juga harus diprioritaskan adalah fasilitasi peningkatan kemampuan diri, pendidikan formal dan informal, akses penyandang disabilitas untuk terus upskilling dan reskilling, akses penyandang disabilitas untuk memperoleh kesempatan kerja dan berwirausaha harus terus difasilitasi dan ditingkatkan," katanya.

Untuk itu, lanjut Jokowi, kapasitas kelembagaan sosial, koperasi, dan UMKM yang memberikan kesempatan kerja kepada penyandang disabilitas harus didukung. Caranya, dengan memberikan insentif.

"Bukan hanya pengembangan kapasitas individu-individu penyandang disabilitas, penguatan kapasitas kelembagaan sosial, koperasi, dan UMKM yang mempekerjakan disabilitas harus terus didukung dan diberikan insentif-insentif," tutur Jokowi.