Liputan6.com, Jakarta - Menunda pekerjaan hingga mendekati tenggat waktu kerap dianggap sebagai tanda kemalasan atau kurangnya kedisiplinan. Padahal, kebiasaan ini bisa berkaitan dengan cara seseorang memandang tugas, menghadapi tekanan, dan mengelola perasaan tidak nyaman saat harus menyelesaikan pekerjaan.
Sebagian orang menunda karena takut gagal, sementara yang lain terlalu terpaku pada kesempurnaan atau merasa kesulitan mengerjakan tugas yang dianggap membosankan. Memahami alasan di balik perilaku tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang terus menunda pekerjaan meskipun mengetahui konsekuensinya.
Psikolog Jayson Moran menjelaskan bahwa kebiasaan menunda atau procrastination dapat dipengaruhi oleh pola pikir yang memunculkan kecemasan, kebosanan, maupun frustrasi. Ia menguraikan enam pola yang berkaitan dengan perilaku menunda pekerjaan. Namun, pola-pola tersebut bukan ciri kepribadian yang menetap karena seseorang dapat menunjukkan pola berbeda dalam situasi yang berbeda.
Advertisement
Lebih lanjut, berikut ciri kepribadian orang yang suka mennda pekerjaan hingga mepet deadline yang dikutip dari laman Jayson Moran pada Rabu (28/10).
1. Takut Gagal Sebelum Mencoba
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5189954/original/081894400_1744815799-young-asian-lady-english-teacher-video-conference-looking-camera-talk-by-webcam-learn-teach-online-chat-home_7861-2805.jpg)
Salah satu pola yang berkaitan dengan kebiasaan menunda pekerjaan adalah kecenderungan mengkhawatirkan kegagalan sebelum memulai. Seseorang mungkin merasa tugas yang dihadapi terlalu sulit atau meragukan kemampuannya sendiri sehingga memilih menunda daripada mengambil risiko mendapatkan hasil yang tidak sesuai harapan.
Menunda dapat memberikan kelegaan sementara karena orang tersebut belum harus menghadapi kemungkinan gagal. Namun, jika pekerjaan terus dihindari, waktu untuk menyelesaikannya semakin terbatas. Akibatnya, kekhawatiran yang semula ingin dihindari justru dapat bertambah ketika tenggat waktu semakin dekat.
Advertisement
2. Terlalu Perfeksionis dalam Mengerjakan Tugas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5190169/original/000162200_1744857543-maranda-vandergriff-7aakZdIl4vg-unsplash.jpg)
Orang yang memiliki kecenderungan perfeksionis dapat menunda pekerjaan karena ingin memastikan semuanya berjalan sesuai standar yang ditetapkan. Mereka mungkin merasa belum siap memulai sebelum seluruh persiapan selesai atau khawatir hasil akhirnya tidak cukup baik.
Pola pikir tersebut membuat proses memulai pekerjaan terasa lebih berat. Sebagai contoh, seseorang bisa terus menunda penyusunan laporan karena merasa masih perlu mengumpulkan informasi tambahan atau memperbaiki rencana. Padahal, memulai dengan persiapan yang tersedia dan menyempurnakannya secara bertahap dapat menjadi pilihan yang lebih realistis.
3. Sulit Menentukan Prioritas karena Terlalu Banyak Tanggung Jawab
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5262926/original/069455300_1750757365-medium-shot-woman-working-with-laptop.jpg)
Kebiasaan menunda tidak selalu terjadi karena seseorang enggan bekerja. Dalam pola yang disebut the over-doer, seseorang cenderung menerima terlalu banyak tugas sekaligus hingga kesulitan menentukan pekerjaan mana yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Keinginan untuk memenuhi banyak tanggung jawab dapat membuat tugas penting justru terabaikan. Ketika perhatian terbagi ke berbagai pekerjaan, seseorang mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan semuanya sesuai tenggat. Situasi ini dapat semakin rumit jika ia merasa harus memenuhi seluruh harapan, baik dari diri sendiri maupun orang lain.
Advertisement
4. Merasa Lebih Produktif saat Deadline Sudah Dekat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5141816/original/032017600_1740385458-young-business-woman-have-break-with-coffee-while-working-laptop-office.jpg)
Sebagian orang terbiasa menunggu hingga waktu pengerjaan semakin sempit karena merasa tekanan dapat membantu mereka lebih fokus. Melansir artikel Jayson Moran, pola ini disebut the crisis maker, yaitu kecenderungan mengandalkan situasi mendesak untuk memunculkan motivasi.
Ketika tenggat waktu masih lama, pekerjaan mungkin terasa kurang menarik atau tidak mendesak. Sebaliknya, saat waktu hampir habis, tekanan yang muncul membuat seseorang merasa harus segera bertindak. Meski demikian, kebiasaan ini bukan jaminan bahwa hasil pekerjaan akan lebih baik karena waktu yang terbatas dapat mengurangi kesempatan untuk memeriksa kesalahan dan memperbaiki hasil.
5. Lebih Suka Membayangkan Hasil daripada Memulai Prosesnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376697/original/033132000_1792387354-vitaly-gariev-vIweEjnF0AQ-unsplash.jpg)
Pola lain yang dibahas adalah the dreamer. Orang dengan kecenderungan ini memiliki banyak gagasan dan gambaran mengenai hasil yang ingin dicapai, tetapi kesulitan menjalankan langkah-langkah praktis untuk mewujudkannya.
Ketika proses pengerjaan terasa membosankan atau membutuhkan usaha lebih besar daripada yang dibayangkan, mereka dapat kehilangan dorongan untuk melanjutkan. Akibatnya, pekerjaan yang semula ingin diselesaikan justru tertunda. Kesenjangan antara rencana dan tindakan inilah yang membuat sebuah tujuan sulit tercapai jika tidak disertai langkah konkret.
Advertisement
6. Menunda karena Merasa Tugas Tidak Penting
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5227929/original/040320500_1747828549-steptodown.com388790.jpg)
Seseorang juga bisa menunda pekerjaan ketika menganggap tugas yang diberikan tidak menarik, tidak bermanfaat, atau tidak sepadan dengan usaha yang dibutuhkan. Dalam pengelompokan Moran, pola ini disebut the defier, yaitu kecenderungan menolak atau menunda tugas karena merasa tidak seharusnya perlu mengerjakannya.
Misalnya, seorang karyawan menunda tugas administratif yang dianggap monoton karena merasa ada pekerjaan lain yang lebih penting. Ia kemudian memilih mengerjakan tugas yang lebih disukai, meskipun pekerjaan yang ditunda tetap harus diselesaikan. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini dapat menghambat penyelesaian tanggung jawab dan meningkatkan tekanan menjelang tenggat waktu.
Mengapa Kebiasaan Menunda Bisa Terus Berulang?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4722623/original/053703200_1705887794-vasilis-caravitis-WGOpvIKwq3Y-unsplash.jpg)
Perilaku menunda dapat berkaitan dengan upaya menghindari perasaan yang tidak menyenangkan. Ketika suatu tugas memunculkan kecemasan, kebosanan, atau frustrasi, seseorang mungkin memilih melakukan aktivitas lain agar merasa lebih nyaman untuk sementara waktu.
Masalahnya, kelegaan tersebut tidak menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Ketika tenggat waktu semakin dekat, tekanan justru bisa meningkat dan membuat tugas terasa semakin berat. Karena itu, memahami pola pikir yang melatarbelakangi kebiasaan menunda dapat menjadi langkah awal untuk mengubah cara seseorang menghadapi pekerjaannya.
Perlu diingat, enam pola tersebut bukan label mutlak untuk menilai kepribadian seseorang. Satu orang dapat menunjukkan beberapa pola sekaligus, bergantung pada jenis tugas dan situasi yang dihadapi.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Kepribadian Orang yang Suka Menunda Pekerjaan hingga Mepet Deadline
1. Mengapa seseorang suka menunda pekerjaan hingga mendekati deadline?
Kebiasaan menunda pekerjaan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti takut gagal, perfeksionisme, kesulitan menentukan prioritas, atau merasa lebih termotivasi ketika berada di bawah tekanan.
2. Apakah orang yang suka menunda pekerjaan berarti malas?
Tidak selalu. Kebiasaan menunda bisa berkaitan dengan kecemasan, kesulitan memulai tugas, atau kecenderungan menghindari perasaan tidak nyaman. Karena itu, perilaku ini tidak bisa langsung dijadikan ukuran kemalasan seseorang.
3. Bagaimana cara mengurangi kebiasaan menunda pekerjaan?
Mulailah dengan membagi pekerjaan menjadi tugas-tugas kecil, menentukan prioritas, dan menetapkan target penyelesaian secara bertahap. Hindari menunggu motivasi muncul atau tekanan meningkat sebelum mulai bekerja.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291533/original/094652600_1783567822-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-09T102907.971.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5150531/original/011713400_1741077091-Kuda1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370019/original/097624000_1791544375-asap.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5041778/original/033342300_1733738907-Sampul1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5262980/original/004368200_1750759720-front-view-young-attractive-businesswoman-black-shirt-black-jacket-using-her-silver-laptop-working-inside-her-office-work-job-building__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311499/original/049377200_1785403837-0fc7f2d8-2807-4879-9db1-7059320cb74a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384223/original/083318300_1793162064-Golden_Banana_Nuggets_with_Chocolate_Dip.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5555649/original/054012600_1776170772-WhatsApp_Image_2026-04-14_at_19.05.26.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369414/original/075369200_1791522360-IMG_2882.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4206904/original/051627000_1666947484-doa-keselamatan-dunia-akhirat-arab-dan-latin-amalkan-setiap-hari.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384237/original/051661400_1793163182-d516f529-e50c-4104-9752-fbc16e05a3be.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384254/original/091863000_1793164209-944af695-6af7-4c15-85b9-6ed10218e224.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361089/original/035499400_1790675481-01M3P53T44BB6D9HGDY9S05XK1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384199/original/057343900_1793160193-Rustic_Beef_Meatball_Soup_with_Herbs.jpg)