Liputan6.com, Jakarta - Orang yang tidak mudah tersinggung sering disalahpahami sebagai pribadi yang pasif atau tidak peduli. Padahal, di balik ketenangannya ada batin yang disiplin, kemampuan untuk tidak menyerahkan kendali emosi kepada orang lain.
Kunci utamanya pada cara seseorang memproses atau merespons pemicu emosi. Alih-alih mendendam, dia memilih memaafkan. Bukan karena pelaku berhak mendapatkannya, tetapi karena pemberi maaf berhak atas ketenangan hidupnya sendiri.
Psikologi positif menempatkan pemaafan sebagai kekuatan karakter yang esensial bagi kesehatan mental. Kajian Christian Siregar dalam jurnal Menyembuhkan Luka Batin dengan Memaafkan menegaskan bahwa luka batin yang dibiarkan akan menjadi ‘borok yang semakin menganga,’ dan salah satu kuncinya adalah memaafkan.
Advertisement
Sementara itu, tradisi Islam memberikan landasan teologis yang sangat kaya. Al-Qur’an tidak sekadar menganjurkan pemaafan, tetapi membingkainya sebagai tindakan mulia yang mengangkat derajat manusia. Quraish Shihab, dalam Tafsir Al-Mishbah, menjelaskan bahwa QS. Asy-Syura: 4: “Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan”, mengisyaratkan kesabaran atas gangguan dan pemaafan tanpa membela diri, yang oleh Al-Qurthubi disebut sebagai sikap bagi mereka yang dizalimi.
Ketenangan bukanlah hasil dari menutup mata terhadap kejahatan, melainkan dari keputusan sadar untuk tidak membiarkan kejahatan itu menguasai ruang batin. Berikut ini ulasan lengkapnya.
Mengapa Ada Orang yang Tidak Mudah Tersinggung?
Ada beberapa rahasia psikologis dan spiritual di balik ketenangan orang yang tidak mudah tersinggung. Pertama, mereka memiliki kendali atas amarah, bukan amarah yang mengendalikan mereka. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang kuat bukanlah yang pandai bergulat, melainkan orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah” (HR. Muslim).
Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menjelaskan bahwa marah yang terkontrol adalah sikap ideal: seseorang tetap tegas ketika diperlukan, tetapi tidak terbawa oleh ledakan emosi sesaat. Orang yang tidak mudah tersinggung adalah orang yang “memiliki” dirinya sendiri.
Kedua, mereka tidak menyamakan kritik atau perlakuan buruk dengan serangan terhadap harga diri. Sensitivitas berlebihan sering kali merupakan sinyal bahwa mental belum cukup matang untuk menghadapi realitas yang tidak selalu ramah.
Pemaafan, dalam perspektif para ahli seperti Enright, adalah “kemauan untuk meninggalkan hak mengumbar kebencian, penilaian negatif, dan perilaku acuh tak acuh terhadap orang yang telah bertindak melukai hati dengan tidak adil”. Ini adalah tindakan melepaskan klaim atas balas dendam, bukan berpura-pura bahwa luka itu tidak pernah ada.
Ketiga, mereka memiliki empati yang cukup untuk melihat pelaku sebagai manusia yang lemah, tanpa merendahkan luka yang diderita. Worthington, sebagaimana dikutip Siregar, menemukan bahwa empati adalah faktor paling menentukan dalam proses pemaafan.
Empati tidak berarti membenarkan perbuatan jahat; ia berarti memahami bahwa pelaku juga bergulat dengan keterbatasannya sendiri, sehingga korban tidak perlu terjebak dalam posisi “korban abadi” yang terus-menerus menuntut pembalasan.
Keempat, mereka memegang prinsip bahwa pemaafan adalah keputusan, bukan perasaan. Siregar menekankan bahwa “pengampunan pertama-tama adalah soal keputusan dan bukan perasaan”. Orang yang tidak mudah tersinggung tidak menunggu hatinya “terasa lega” sebelum memaafkan.
Dia memutuskan untuk melepaskan, dan perasaan lega mengikuti kemudian. Inilah yang membedakannya dari orang yang terus-menerus menunda pemaafan karena menunggu permintaan maaf yang mungkin tidak pernah datang.
Menjaga Batasan Batin Lewat Prinsip Memaafkan Tanpa Syarat
Memaafkan tanpa syarat bukan berarti membuka kembali pintu bagi orang yang telah menyakiti. Justru sebaliknya, pemaafan tanpa syarat adalah mekanisme pertahanan batin yang paling elegan: ia memutus rantai dendam tanpa menyerahkan kembali kendali atas diri kita kepada pelaku. Berikut langkah-langkahnya.
1. Mengingat dan Mengakui Luka dengan Jujur
Langkah pertama justru bukan melupakan, melainkan mengingat kembali pengalaman terluka dengan keberanian. Siregar mengutip Mawan yang menyebut ini sebagai langkah tersulit karena “harus mengalami luka itu kembali”.
Tanpa pengakuan yang jujur, pemaafan hanyalah pelarian. Dalam psikologi positif, fase ini disebut uncovering—mengonfrontasi rasa sakit emosional yang disebabkan oleh peristiwa yang menyakitkan.
2. Memisahkan Peristiwa dari Nilai Diri
Setelah luka diakui, langkah berikutnya adalah memaknai ulang. Korban perlu menyadari bahwa apa yang dilakukan orang lain terhadap dirinya tidak mendefinisikan nilai dirinya. Quraish Shihab, dalam Tafsir Al-Mishbah, menjelaskan tiga tingkatan sikap menghadapi kesalahan orang lain, yaitu menahan amarah (al-kāẓimīn), memaafkan (al-‘āfīn), dan berbuat kebajikan (al-muḥsinīn).
Pada tahap memaafkan, seseorang “menghapus bekas luka hatinya akibat kesalahan orang lain”. Ini adalah tindakan kognitif yang disengaja: memilih untuk tidak lagi membiarkan luka itu menjadi pusat identitas diri.
3. Melepaskan Hak untuk Membalas, Bukan Hak untuk Melindungi Diri
Memaafkan tanpa syarat berarti melepaskan hak untuk menghukum atau membalas dendam, tetapi sama sekali tidak melepaskan hak untuk menetapkan batasan. Dalam fikih Islam, pemaafan tidak mewajibkan seseorang untuk mempertahankan hubungan dekat dengan pelaku, kecuali dalam hubungan keluarga yang memiliki hak silaturahmi.
Psikologi modern juga menegaskan bahwa pemaafan dan rekonsiliasi adalah dua hal yang berbeda: memaafkan adalah proses personal, sedangkan memulihkan hubungan memerlukan pertobatan dan perilaku yang dapat dipercaya dari pelaku. Inilah batasan batin yang dijaga: pintu maaf terbuka, tetapi pintu hubungan tetap dijaga oleh kebijaksanaan.
4. Berempati Tanpa Menghapus Tanggung Jawab Pelaku
Empati yang dimaksud dalam pemaafan bukanlah memaklumi perbuatan jahat. Worthington membedakan empati akurasi (memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan pelaku saat peristiwa terjadi), empati identifikasi (merasakan bahwa penderitaan adalah pengalaman manusiawi yang bisa dialami siapa saja), dan empati belas kasih (perasaan haru terhadap pelaku).
Orang yang tidak mudah tersinggung mampu berempati pada level pertama dan kedua tanpa harus jatuh ke dalam belas kasih yang mengaburkan batas antara korban dan pelaku kejahatan.
5. Memegang Teguh Komitmen Pemaafan Ketika Emosi Negatif Kembali Muncul
Langkah terakhir dan yang paling sering dilupakan adalah holding on to forgiveness. Siregar mengutip Worthington yang menegaskan bahwa emosi negatif dan perasaan terluka bisa muncul kembali, dan saat itulah korban perlu mengelola emosinya agar tidak menarik kembali maaf yang telah diberikan.
Pemaafan bukan peristiwa sekali jadi, melainkan komitmen yang dirawat. Inilah yang membedakan orang yang benar-benar tenang dari orang yang hanya menekan amarahnya.
Manfaat Menjaga Ketenangan Batin dengan Memaafkan
1. Menurunkan Stres dan Kecemasan secara Signifikan
Studi multidisiplin menunjukkan bahwa pemaafan berkorelasi positif dengan kesejahteraan psikologis dan berbanding terbalik dengan gejala depresi dan kecemasan. Orang yang memaafkan lebih sering melaporkan suasana hati yang lebih positif dan tingkat stres yang lebih rendah.
Dalam perspektif Islam, Quraish Shihab menegaskan bahwa sabar dan pemaafan adalah solusi untuk mencapai kesehatan mental. Ketenangan bukanlah efek samping kebetulan, melainkan hasil langsung dari melepaskan beban emosional yang selama ini menguras energi batin.
2. Memutus Rantai Dendam yang Merusak Diri Sendiri
Siregar mengingatkan bahwa korban yang mempertahankan kemarahannya “sebenarnya secara diam-diam sedang membuat dirinya menderita”. Dendam adalah racun yang diminum sendiri sambil berharap orang lain menderita.
Dengan memaafkan, seseorang menghentikan siklus tersebut. Ia tidak lagi bangun setiap pagi dengan beban kebencian yang sama; ia bangun dengan ruang batin yang lebih lapang untuk hal-hal yang lebih bermakna.
3. Meningkatkan Kualitas Hubungan Interpersonal
Pemaafan memungkinkan seseorang untuk tidak menarik diri dari pergaulan sosial. Dalam kajian psikologi, pemaafan interpersonal membantu individu berperilaku konstruktif terhadap orang yang pernah berperilaku destruktif, sehingga mengurangi upaya menghindar dan menarik diri.
Orang yang tidak mudah tersinggung lebih mudah membangun kembali kepercayaan dan kerja sama, karena ia tidak terjebak dalam penghindaran yang berkepanjangan.
4. Memperkuat Ketahanan Psikologis (Resiliensi)
Penelitian tentang pemaafan tanpa syarat pada korban genosida di Rwanda menemukan bahwa kemampuan memaafkan tanpa syarat berkaitan erat dengan sentiment rekonsiliasi interpersonal yang lebih baik, bahkan ketika pelaku tidak pernah meminta maaf.
Ini menunjukkan bahwa pemaafan tanpa syarat adalah bentuk ketahanan psikologis yang luar biasa: korban tidak menunggu dunia menjadi adil terlebih dahulu untuk bisa merasa tenang. Ia mengambil kembali kendali atas ketenangannya sendiri.
5. Mendekatkan Diri pada Dimensi Spiritual yang Lebih Dalam
Bagi banyak orang, pemaafan adalah pintu menuju kedamaian spiritual. Al-Qur’an menyebut pemaafan sebagai perbuatan mulia (QS. Asy-Syura: 43). Dalam psikologi positif, dimensi spiritualitas diakui sebagai salah satu pilar kebahagiaan sejati.
Ketika seseorang memaafkan, ia tidak hanya membersihkan hatinya dari dendam; ia juga menyelaraskan dirinya dengan nilai-nilai transendental yang memberinya makna hidup. Ketenangan yang diraih bukan sekadar ketenangan psikologis, melainkan ketenangan batin yang berakar pada keyakinan bahwa ada keadilan yang lebih tinggi daripada balas dendam manusiawi.
Pertanyaan Seputar Kunci Jiwa yang Tenang
1. Apakah memaafkan berarti harus melupakan luka?
Tidak. Memaafkan adalah keputusan untuk melepaskan hak membalas dan menghapus kebencian, bukan menghapus memori. Quraish Shihab menjelaskan bahwa memaafkan berarti “menghapus bekas luka di hati,” bukan menghilangkan pengetahuan tentang peristiwa itu. Psikolog juga menegaskan bahwa melupakan bukanlah syarat pemaafan; yang penting adalah luka itu tidak lagi mengendalikan emosi dan perilaku seseorang.
2. Apakah memaafkan tanpa syarat berarti harus kembali berhubungan baik dengan pelaku?
Tidak. Pemaafan adalah proses personal antara korban dengan dirinya sendiri (dan Tuhannya), sedangkan rekonsiliasi adalah proses interpersonal yang memerlukan pertobatan dan perubahan perilaku dari pelaku. Dalam Islam, memaafkan tidak mewajibkan seseorang untuk mempertahankan hubungan dekat dengan pelaku, kecuali dalam ikatan keluarga yang memiliki hak silaturahmi. Batasan batin tetap dijaga.
3. Apa perbedaan antara menahan amarah dan memaafkan?
Menahan amarah (al-kāẓimīn) adalah tingkatan pertama: seseorang masih merasakan panasnya emosi, tetapi ia menahannya agar tidak meledak menjadi kata-kata atau tindakan buruk. Memaafkan (al-‘āfīn) adalah tingkatan kedua: ia telah menghapus bekas luka itu dari hatinya. Orang yang tidak mudah tersinggung tidak berhenti pada menahan amarah; ia bergerak menuju pemaafan yang membebaskannya dari beban batin.
4. Mengapa orang yang memaafkan justru lebih kuat?
Karena kekuatan sejati bukanlah kemampuan untuk membalas, melainkan kemampuan untuk mengendalikan diri. Rasulullah SAW mendefinisikan orang kuat sebagai “orang yang mampu menguasai dirinya ketika marah” (HR. Muslim). Membalas mungkin terasa memuaskan sesaat, tetapi memaafkan membebaskan. Orang yang memaafkan tidak lagi menjadi budak dari masa lalunya; ia adalah tuan atas masa depannya sendiri.
5. Apakah ada batasan dalam memaafkan?
Ya. Memaafkan tanpa syarat tidak berarti membiarkan kejahatan berulang. Korban berhak menetapkan batasan yang tegas untuk melindungi diri, termasuk memutus hubungan yang berbahaya. Yang dilepaskan dalam pemaafan adalah dendam, bukan kewaspadaan. Islam mengajarkan prinsip dar’u al-mafāsid muqaddamun ‘alā jalbi al-maṣāliḥ—menolak kerusakan lebih diutamakan daripada menarik kemaslahatan. Memaafkan boleh, tetapi menjaga diri dari kerusakan yang berulang adalah kewajiban.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5150531/original/011713400_1741077091-Kuda1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370019/original/097624000_1791544375-asap.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5041778/original/033342300_1733738907-Sampul1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383535/original/061676900_1793090887-bpjs_kesehatan_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317322/original/086214400_1786008601-28ec66d8-530c-4f30-b7e4-08579033ae89.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384017/original/084221300_1793147810-20261027_145345.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334902/original/057214100_1787904674-1000420049.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4397210/original/034811800_1681628824-Malam_25_Ramadan__Ribuan_Jemaah_Khusyuk_Menjemput_Lailatul_Qadar_di_Masjid_Istiqlal-ARBAS_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4722623/original/053703200_1705887794-vasilis-caravitis-WGOpvIKwq3Y-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384011/original/073363400_1793143589-1001798898.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334878/original/016778100_1787903186-Yusuf_Mahardika_as_Damar__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384009/original/016790500_1793142038-Screenshot_2026-10-28_055813.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384007/original/099322200_1793140722-IMG-20261027-WA0074.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383867/original/086430500_1793106616-1000550805.jpg)