Tren Rambut Terus Berubah, Kompetensi Guru Kecantikan Perlu Diperbarui

Mendukung itu, L'Oreal Indonesia melatih guru tata rambut dan membuka akses pendidikan kecantikan gratis.

Diterbitkan 28 Oktober 2026, 08:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tren tata rambut terus berkembang, mulai dari teknik pemangkasan hingga pewarnaan yang mengikuti perubahan gaya dan teknologi produk. Perubahan tersebut menuntut guru tata kecantikan untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan agar dapat mengajarkan teknik yang relevan dengan kebutuhan industri.

Pembaruan kompetensi guru menjadi salah satu perhatian L'Oreal Indonesia dalam mengembangkan sumber daya manusia (SDM) di industri kecantikan. Melalui program pelatihan, perusahaan membekali pendidik dengan pengetahuan dari industri yang dapat mereka terapkan dalam proses pembelajaran di sekolah.

"Karena satu industri itu hanya akan bisa berkembang kalau manusianya berkembang," kata Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement & Sustainability L'Oreal Indonesia, saat jumpa pers di Jakarta, Selasa, 27 Oktober 2026.

Ia menilai pendidik berperan penting dalam menyiapkan tenaga profesional di berbagai bidang. Mereka tidak hanya menyampaikan materi, tapi juga membantu peserta didik mengenali potensi, mengasah keterampilan, dan mempersiapkan diri menghadapi kebutuhan dunia kerja.

"Menurut saya, pendidik merupakan profesi yang fundamental karena merekalah yang mencetak tenaga profesional di berbagai bidang," ujar Melanie.

Melalui program Haireducation, pihaknya membekali guru tata rambut dengan kurikulum yang menyesuaikan perkembangan industri kecantikan. Materi pelatihan tersebut dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah agar siswa mempelajari teknik yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

"Melalui program Haireducation, kami melatih guru dan membekali mereka dengan kurikulum yang mengikuti perkembangan industri kecantikan agar mereka dapat menerapkan pengetahuan dari industri dalam proses pembelajaran," sebut Indra Tanudarma, Head of Education Performance Professional Products Division L'Oreal Indonesia.

 

Cerita Guru Tata Kecantikan

Made Sumiati, guru tata kecantikan rambut di SMKN 3 Bogor, memanfaatkan pengetahuan dari pelatihan L'Oreal untuk mengembangkan materi pembelajaran. Ia menyusun buku tentang teknik pemangkasan dan pewarnaan rambut yang digunakan di sekolah.

Dalam kegiatan mengajar, Made juga menghadapi keterbatasan fasilitas praktik. Ia pernah menangani kelas dengan jumlah hingga 45 siswa ketika fasilitas yang tersedia belum bertambah.

Kondisi tersebut membuatnya perlu mengatur kegiatan belajar agar setiap siswa tetap memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan teknik yang dipelajari.

Selain mengembangkan kompetensi guru, L'Oreal Indonesia menjalankan program Beauty for a Better Life (BFBL) untuk membuka akses pelatihan kecantikan gratis bagi masyarakat yang menghadapi keterbatasan sosial dan ekonomi.

 

Pelatihan Tata Rias

Program BFBL menyediakan pelatihan tata rias selama dua bulan dan tata rambut selama empat bulan. Peserta mempelajari keterampilan teknis yang dapat digunakan untuk memasuki dunia kerja, termasuk teknik cutting, coloring, dan smoothing untuk tata rambut serta riasan natural, pernikahan, dan dekoratif untuk tata rias.

Achadiningtyas, yang akrab disapa Aca, telah menjadi trainer di BFBL Training Center Cianjur sejak 2015. Selama menjalankan peran tersebut, ia membantu melatih dan meluluskan sekitar 4.800 peserta yang dapat mengembangkan karier di bidang kecantikan.

Magdalena Rospita, Corporate Affairs and Impact Director L'Oreal Indonesia, menjelaskan bahwa trainer perlu menyesuaikan metode pengajaran dengan kemampuan dan kondisi peserta. Pendekatan tersebut membantu pendidik mendampingi peserta selama mengikuti pelatihan.

"Peran trainer itu adalah melatih dengan empati, menyesuaikan ritme pembelajaran," ungkapnya.

Tantangan Mengajar dan Mendampingi Peserta

Sebanyak 80 persen lulusan BFBL berkarya di industri kecantikan. Aca juga menghadapi tantangan ketika peserta mengalami persoalan pribadi yang mengganggu proses belajar. Ia berusaha membangun komunikasi dan memberikan dukungan agar peserta dapat melanjutkan pelatihan.

"Kadang peserta sudah ingin ikut pelatihan, tapi terkendala masalah dengan suaminya. Saya dekati lagi sampai akhirnya bilang, mungkin suaminya dibawa saja ke sini. Di sini tak ada cowok, jadi tenang saja," cerita Aca.

Magdalena menyebut kemampuan berkomunikasi dan mendampingi peserta sebagai bagian penting dari tugas pendidik di bidang kecantikan. "Pendidik tidak hanya perlu memahami teknik, tapi juga tahu cara menyampaikan materi dan mengayomi peserta," tandasnya.