10 Ciri Kepribadian Seseorang yang Bisa Berteman, Bukan Sekadar Ramah

Kenali ciri kepribadian seseorang yang bisa berteman, mulai dari ramah, empatik, terbuka, hingga mampu menjaga kepercayaan dan menghargai perbedaan.

Diterbitkan 28 Oktober 2026, 15:40 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ciri kepribadian seseorang yang bisa berteman dengan banyak orang dapat terlihat dari cara mereka berkomunikasi, memahami perasaan orang lain, dan menyikapi perbedaan. Orang dengan kemampuan sosial yang baik biasanya membuat orang lain merasa dihargai tanpa harus selalu menjadi pusat perhatian.

Penelitian Weixi Kang berjudul Establishing the Associations Between the Big Five Personality Traits and Self-Reported Number of Close Friends (2023) mengaitkan keramahan, keterbukaan terhadap pengalaman, dan ekstraversi dengan jumlah teman dekat. Penelitian tersebut menganalisis data dari puluhan ribu orang, tetapi hasilnya menunjukkan hubungan statistik, bukan jaminan bahwa seseorang pasti memiliki banyak teman.

Kemampuan berteman juga berkaitan dengan empati, keterbukaan dalam berkomunikasi, dan kemampuan menyelesaikan konflik secara sehat. Berikut ciri kepribadian seseorang yang bisa berteman dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Rabu (28/10/2026).

1. Ramah dan Mudah Membuka Percakapan

Orang yang ramah biasanya tidak kesulitan memulai percakapan sederhana. Mereka menyapa lebih dahulu, tersenyum secara wajar, dan menunjukkan ketertarikan terhadap orang yang sedang diajak bicara.

Keramahan membuat interaksi terasa lebih nyaman, terutama ketika bertemu orang baru. Mereka tidak harus selalu banyak bicara, tetapi mampu menciptakan suasana yang membuat orang lain tidak merasa canggung.

Tanda lainnya terlihat dari sikap yang tidak membeda-bedakan orang berdasarkan pekerjaan, penampilan, atau status sosial. Mereka memperlakukan orang lain dengan sopan tanpa mengharapkan keuntungan tertentu.

2. Mau Mendengarkan dengan Penuh Perhatian

Mendengarkan merupakan salah satu kemampuan penting dalam membangun pertemanan. Orang yang memiliki sifat ini tidak hanya menunggu giliran berbicara, tetapi berusaha memahami cerita dan maksud lawan bicaranya.

Mereka biasanya tidak langsung memotong pembicaraan atau mengalihkan setiap topik menjadi pengalaman pribadi. Ketika teman bercerita tentang masalahnya, mereka memberi waktu untuk menyampaikan perasaan tanpa terburu-buru menghakimi.

Sikap tersebut membuat orang lain merasa keberadaannya dihargai. Mereka juga tahu kapan perlu memberikan saran dan kapan cukup menjadi pendengar yang baik.

3. Memiliki Empati terhadap Perasaan Orang Lain

Empati adalah kemampuan memahami perasaan dan sudut pandang orang lain. Orang yang empatik berusaha melihat situasi dari sisi temannya sebelum menentukan tanggapan.

Penelitian Chong Man Chow, Holly Ruhl, dan Duane Buhrmester berjudul The Mediating Role of Interpersonal Competence Between Adolescents' Empathy and Friendship Quality: A Dyadic Approach (2013) menemukan hubungan antara empati, kemampuan membangun kedekatan, dan pengelolaan konflik dalam pertemanan remaja.

Dalam kehidupan sehari-hari, empati terlihat ketika seseorang tidak meremehkan kesedihan teman atau memaksanya segera merasa lebih baik. Mereka berusaha memberikan dukungan yang sesuai dengan keadaan dan kebutuhan orang tersebut.

4. Terbuka terhadap Perbedaan Pendapat

Orang yang mudah berteman tidak selalu memiliki pandangan yang sama dengan orang lain. Mereka memahami bahwa perbedaan pendapat, kebiasaan, dan latar belakang merupakan hal yang wajar dalam hubungan sosial.

Sikap terbuka membuat mereka bersedia mendengarkan sudut pandang baru tanpa langsung menganggap pendapatnya paling benar. Mereka juga mampu menerima kritik yang disampaikan dengan baik.

Dalam penelitian Weixi Kang (2023), keterbukaan terhadap pengalaman berkaitan dengan jumlah teman dekat dalam analisis potong lintang dan perubahan jumlah teman dalam analisis longitudinal. Temuan ini menunjukkan bahwa kesediaan menerima pengalaman baru dapat menjadi salah satu faktor yang relevan dalam hubungan sosial.

5. Jujur dan Terbuka dalam Berkomunikasi

Kejujuran membantu membangun rasa percaya dalam pertemanan. Orang dengan sifat ini berusaha menyampaikan pendapat secara jelas tanpa sengaja menyesatkan atau mempermainkan perasaan orang lain.

Mereka juga mampu mengungkapkan kebutuhan dan ketidaknyamanan dengan cara yang sopan. Jika terjadi kesalahpahaman, mereka memilih membicarakannya daripada membiarkan masalah berlarut-larut.

Keterbukaan tidak berarti seseorang harus menceritakan seluruh kehidupan pribadinya. Mereka memahami bahwa kedekatan berkembang secara bertahap dan setiap orang memiliki kenyamanan yang berbeda dalam berbagi cerita.

6. Dapat Dipercaya dan Konsisten dalam Bersikap

Orang yang mudah membangun pertemanan biasanya berusaha menepati janji dan menjaga kepercayaan. Mereka tidak mudah mengumbar rahasia yang diberikan teman untuk konsumsi pribadi.

Konsistensi juga terlihat dari kesesuaian antara perkataan dan tindakan. Mereka tidak hanya hadir ketika membutuhkan bantuan, tetapi berusaha menjaga komunikasi dalam situasi biasa maupun sulit.

Menurut tinjauan Kelci Harris dan Simine Vazire dalam On Friendship Development and the Big Five Personality Traits (2016), kepribadian berperan dalam proses terbentuk, terpelihara, dan berakhirnya pertemanan. Hal ini memperlihatkan bahwa kualitas hubungan tidak hanya ditentukan oleh kesan awal, tetapi juga oleh perilaku dalam jangka panjang.

7. Menghargai Batasan dan Tidak Memaksakan Kehendak

Orang yang memiliki kemampuan sosial baik memahami bahwa teman tetap mempunyai kebutuhan, waktu, dan kehidupan pribadi. Mereka tidak menganggap setiap pesan harus langsung dibalas atau setiap ajakan wajib diterima.

Mereka juga dapat menerima penolakan tanpa langsung tersinggung. Ketika teman membutuhkan waktu sendiri, mereka memberi ruang tanpa menganggapnya sebagai tanda kebencian.

Sikap ini membuat hubungan terasa lebih sehat karena setiap orang tetap memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan. Pertemanan yang baik tidak dibangun melalui tekanan, rasa bersalah, atau tuntutan untuk selalu tersedia.

8. Mampu Menyelesaikan Konflik dengan Dewasa

Perbedaan pendapat dan kesalahpahaman dapat terjadi dalam pertemanan mana pun. Orang yang matang secara emosional berusaha membicarakan persoalan tanpa menyerang karakter atau merendahkan pihak lain.

Mereka bersedia mengakui kesalahan jika memang melakukan kekeliruan. Ketika menerima kritik, mereka berusaha memahami inti persoalan sebelum memberikan tanggapan.

Penelitian Chow, Ruhl, dan Buhrmester (2013) juga menghubungkan kemampuan mengelola konflik dengan lebih rendahnya perselisihan dalam pertemanan remaja. Artinya, kemampuan memperbaiki hubungan setelah terjadi masalah sama pentingnya dengan menjaga suasana tetap menyenangkan.

9. Mau Memberi dan Menerima Dukungan

Pertemanan yang sehat tidak selalu berjalan satu arah. Orang yang mudah menjalin kedekatan bersedia membantu ketika temannya membutuhkan dukungan, tetapi juga tidak merasa harus menyelesaikan semua masalah seorang diri.

Mereka memahami bahwa dukungan bisa hadir dalam bentuk yang sederhana. Mendengarkan cerita, membantu mencari solusi, atau menanyakan kabar setelah kejadian sulit dapat menjadi bentuk perhatian yang berarti.

Mereka juga berani meminta bantuan ketika diperlukan. Kesediaan untuk saling berbagi beban dan pengalaman membantu membangun kedekatan tanpa menjadikan salah satu pihak selalu berperan sebagai pemberi.

10. Memiliki Selera Humor dan Sikap Positif

Humor dapat membantu mencairkan suasana ketika digunakan secara tepat. Orang dengan sifat ini mampu membuat percakapan lebih menyenangkan tanpa menjadikan kekurangan, penampilan, atau pengalaman sensitif orang lain sebagai bahan lelucon.

Sikap positif juga terlihat dari kemampuan menikmati kebersamaan dan mencari sisi yang membangun ketika menghadapi kesulitan. Mereka tidak harus selalu ceria, tetapi berusaha agar masalah tidak menjadi alasan untuk terus merendahkan orang lain.

Meski demikian, selera humor bukan satu-satunya penentu keberhasilan menjalin pertemanan. Orang yang pendiam atau serius tetap dapat menjadi teman yang menyenangkan selama mereka mampu menghargai orang lain dan membangun hubungan secara tulus.

Pada akhirnya, tidak ada satu kepribadian yang menjamin seseorang bisa berteman dengan semua orang. Keramahan, empati, keterbukaan, dan sikap saling menghormati merupakan beberapa kualitas yang dapat membantu seseorang membangun hubungan sosial yang lebih baik.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ciri Kepribadian Seseorang yang Bisa Berteman

1. Apa ciri kepribadian orang yang mudah berteman?

Orang yang mudah berteman biasanya ramah, empatik, terbuka terhadap perbedaan, mampu mendengarkan, dan menghargai orang lain.

2. Apakah orang pendiam bisa memiliki banyak teman?

Bisa. Kemampuan berteman tidak hanya ditentukan oleh banyaknya bicara, tetapi juga oleh cara membangun komunikasi dan menjaga hubungan.

3. Mengapa empati penting dalam pertemanan?

Empati membantu seseorang memahami perasaan teman, memberikan dukungan yang tepat, dan mengurangi kesalahpahaman.

4. Apakah orang yang mudah berteman harus selalu menyenangkan orang lain?

Tidak. Seseorang tetap dapat menjalin hubungan baik sambil menetapkan batasan, menolak ajakan, dan menyampaikan pendapat secara sopan.

5. Bagaimana cara meningkatkan kemampuan berteman?

Mulailah dengan menyapa orang lain, mendengarkan secara aktif, menunjukkan ketertarikan yang tulus, dan menjaga kepercayaan.