Cara Makan Pakai Sumpit yang Benar, dari Teknik Memegang hingga Etika di Meja Makan

Cara makan pakai sumpit yang benar, mulai dari teknik memegang, menyantap beragam hidangan, melatih kelenturan jari, hingga etika dan pantangannya.

Diterbitkan 21 September 2026, 13:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Cara makan pakai sumpit yang benar sebenarnya bertumpu pada satu prinsip sederhana: sumpit bawah tetap diam, sedangkan sumpit atas bergerak. Pegang sumpit bagian atas seperti memegang pensil, kemudian jepit makanan dengan menggerakkan ujung sumpit menggunakan tiga jari.

Posisikan jari sekitar dua pertiga dari ujung sumpit, bukan terlalu dekat dengan bagian yang digunakan untuk mengambil makanan. Posisi ini membuat gerakan lebih stabil dan mudah dikendalikan. Dengan pegangan yang rileks dan sedikit latihan, menggunakan sumpit akan terasa jauh lebih mudah daripada yang dibayangkan.

Sumpit telah menjadi alat makan utama bagi sebagian besar masyarakat di sejumlah negara Asia. Mengutip Tasting Table, lebih dari seperlima populasi dunia menggunakan sumpit sebagai alat makan utama. Oleh karena itu, memahami cara makan pakai sumpit yang benar dapat membantu ketika menyantap berbagai hidangan khas Asia Timur.

Cara Memegang Sumpit yang Benar sebagai Fondasi Utama

Sebelum bisa menyantap apa pun dengan lincah, fondasi dari cara makan pakai sumpit yang benar terletak pada cara memegangnya. Kuncinya bukan pada seberapa kuat cengkeraman, melainkan pada posisi jari yang santai serta pembagian tugas yang jelas antara batang atas dan bawah.

Anda bisa menguasai cara memegang sumpit dengan benar hanya dalam beberapa langkah ringkas berikut.

  1. Tentukan titik pegang: Peganglah sumpit sekitar dua pertiga dari ujung bawahnya. Titik ini memberi jangkauan gerak yang cukup bagi jari, sekaligus menjaga tangan tidak terlalu dekat dengan makanan.

  2. Pasang sumpit bawah: Selipkan satu batang di lekukan antara pangkal ibu jari dan telunjuk, lalu sandarkan ujungnya pada sisi jari manis. Batang inilah yang harus diam dan berfungsi sebagai tumpuan tetap.

  3. Pegang sumpit atas seperti pensil: Jepit batang kedua dengan ujung ibu jari, telunjuk, dan jari tengah persis seperti memegang pena. Biarkan buku jari tengah menopang batang atas agar tidak mudah tergelincir.

  4. Sejajarkan kedua ujung: Rapikan agar kedua ujung sama panjang dan tidak menyilang. Sisakan sedikit celah supaya batang atas leluasa dibuka-tutup.

  5. Gerakkan hanya sumpit atas: Buka dan tutup ujungnya dengan telunjuk serta jari tengah, sementara ibu jari menjadi poros. Dari gerakan menjepit inilah Anda bisa mengambil sebutir nasi sampai potongan yang lebih besar.

  6. Jaga pegangan tetap rileks: Hindari mengepalkan sumpit dengan seluruh jari. Genggaman yang tegang justru membuat makanan terpelanting dan gerakan terlihat kaku.

Prinsip "sumpit bawah diam, sumpit atas bergerak" juga dijelaskan oleh koki profesional. Mengutip The Takeout, Rich Wang, koki restoran Taiwan Minyoli di Chicago, menjelaskan bahwa mekanisme dasar menggunakan sumpit adalah membiarkan sumpit bawah tetap diam dengan bertumpu pada ujung jari manis, sementara sumpit atas digerakkan menggunakan ibu jari, jari telunjuk, dan jari tengah.

Ken Hosoki, Executive Chef Blue Ribbon Sushi, menegaskan bahwa menjaga sumpit bagian bawah tetap stabil merupakan kunci dari teknik tersebut. Menurutnya, sumpit bawah sebaiknya tetap diam dan hanya sumpit atas yang digerakkan. Pada awalnya, cara ini mungkin terasa sedikit canggung, tetapi latihan akan membuat gerakannya terasa lebih alami.

Bila ujung sumpit sering menyilang atau makanan sulit terjepit, biasanya penyebabnya adalah titik pegang yang terlalu pendek atau jari tengah yang salah posisi.

Perlu diingat bahwa saat digunakan dengan tepat, bagian yang bergerak hanyalah batang atas saja, sedangkan batang bawah tetap ditahan ibu jari dan jari manis. Jika Anda kesulitan menjepit potongan mungil, latih dulu teknik dasar mengambil makanan berukuran kecil agar jari terbiasa dengan gerakan menjepit yang presisi.

Cara Makan Pakai Sumpit yang Benar untuk Beragam Hidangan

Setiap hidangan menuntut penyesuaian kecil pada teknik, dan di sinilah cara makan pakai sumpit yang benar diuji. Nasi, sup, sushi, hingga mi masing-masing punya pendekatan tersendiri agar makanan tetap utuh dan penampilan tetap rapi. Berikut panduannya per jenis makanan.

  1. Menyantap nasi: Angkat mangkuk nasi dengan tangan nondominan, topang bagian bawahnya dengan jari, lalu suap dalam porsi kecil. Menyendok terlalu banyak sekaligus membuat suapan terlihat kurang santun.

  2. Makanan berkuah: Untuk sup, tahan bahan padat dengan ujung sumpit sambil menyeruput kuahnya, atau angkat potongan besar seperti tahu lebih dulu. Di Korea, sumpit dan sendok justru saling melengkapi, sumpit untuk lauk padat dan sendok untuk sup serta nasi berkuah.

  3. Sushi: Baringkan potongan nigiri ke sisinya di piring, jepit dengan kedua batang, lalu celupkan sisi ikannya saja ke kecap asin agar nasinya tidak hancur. Idealnya satu potong habis dalam sekali suap.

  4. Sashimi: Perlakukan dengan lembut, letakkan sedikit wasabi di atas irisan, lalu celupkan satu tepiannya ke kecap asin secukupnya. Satu irisan sebaiknya dinikmati dalam satu gigitan.

  5. Mi dan ramen: Jepit beberapa helai, celupkan bagian depannya ke kuah atau saus, lalu seruput perlahan tanpa mengecipak berlebihan. Jika terlalu panjang, boleh digigit sembari menutup mulut secara halus.

  6. Makanan kecil dan berbagi: Untuk kacang atau potongan mungil, andalkan ketepatan ujung sumpit. Saat mengambil dari piring bersama, gunakan sumpit saji; bila tidak ada, balik sumpit dan pakai ujung tumpulnya.

Untuk urusan sushi, sebenarnya tidak ada aturan yang kaku. Banyak sumber kuliner Jepang menegaskan bahwa sushi bisa dinikmati dengan tangan maupun sumpit, dengan mencelupkan bagian ikannya, bukan nasinya, ke dalam shoyu.

Seorang chef sushi bahkan menuturkan bahwa sushi bebas dinikmati dengan cara apa saja, baik memakai tangan, sumpit, maupun sendok. Menariknya, di restoran sushi Jepang, secara tradisi orang justru menyantap sashimi terlebih dahulu sebagai pembuka sebelum beralih ke sushi.

Saat menyeruput ramen, ada satu etika yang kerap terlewat, yakni larangan menggesek-gesekkan sumpit sekali pakai untuk membuang serpihan kayu, karena dianggap seolah menuduh sumpitnya murahan. Jika ragu memulai, memahami cara makan pakai sumpit yang benar beserta pantangannya akan membuat Anda lebih percaya diri di meja makan mana pun.

Cara Melatih dan Membiasakan Diri Memakai Sumpit

Keterampilan memakai sumpit tumbuh dari kebiasaan, bukan bakat. Dengan latihan bertahap, siapa pun bisa menguasai cara makan pakai sumpit yang benar dalam hitungan minggu. Berikut rangkaian latihan yang bisa dilakukan di rumah.

  1. Mulai dari benda besar: Pindahkan kacang tanah atau kedelai dari satu wadah ke wadah lain. Benda besar dan ringan membantu jari mengenali gerakan menjepit tanpa mudah frustrasi.

  2. Naik ke benda kecil dan licin: Setelah lancar, coba kacang merah kecil, manik-manik, potongan agar-agar, atau tahu. Variasi ukuran dan kelicinan melatih kontrol ujung sumpit.

  3. Latih mengangkat mi: Angkat beberapa helai spageti rebus atau somen sekaligus. Karena panjang dan berbobot, mi menuntut tekanan yang stabil dan menjadi latihan tingkat lanjut.

  4. Gunakan alat bantu: Sumpit latihan dengan penghubung silikon sangat membantu pemula maupun anak-anak. Secara darurat, jepitan jemuran atau kertas pembungkus yang digulung dan diikat karet bisa menjadi pegas sederhana.

  5. Perhatikan postur: Duduk dengan tinggi yang pas terhadap meja, rilekskan siku tanpa mengembang, dan jaga bahu tetap santai. Postur yang baik membuat gerakan tangan lebih luwes.

  6. Kenalkan pada anak sejak dini: Banyak anak mulai belajar pada usia 2 sampai 4 tahun, meski genggaman yang stabil biasanya baru terbentuk pada usia 6 atau 7 tahun. Untuk mereka, pilih sumpit pendek dan tersedia pula sumpit khusus tangan kiri bagi anak kidal.

Jangan berkecil hati jika pada awalnya masih kesulitan menggunakan sumpit. Mengutip The Takeout, Rich Wang menjelaskan bahwa banyak orang merasa penggunaan sumpit sulit karena menganggap alat makan tersebut membutuhkan ketangkasan atau teknik khusus. Padahal, menurutnya, sumpit pada dasarnya hanyalah alat yang digunakan untuk membantu mengambil makanan.

Manfaat belajar menggunakan sumpit juga tidak hanya berkaitan dengan kemampuan makan. Dalam buku Chopsticks: A Cultural and Culinary History, Q. Edward Wang menyebutkan bahwa penggunaan sumpit dapat membantu mengembangkan keterampilan motorik halus dan kemandirian anak saat makan. Namun, penelitian yang dibahas dalam buku tersebut juga menunjukkan adanya kemungkinan peningkatan risiko osteoartritis pada sendi tangan pada orang lanjut usia yang menggunakan sumpit sepanjang hidup.

Latihan singkat setiap hari lebih efektif daripada sesekali dalam durasi panjang. Anda bisa menjadikannya permainan, misalnya menghitung berapa butir kacang yang bisa dipindahkan dalam satu menit. Bagi yang benar-benar baru, tersedia banyak cara mudah menggunakan sumpit bagi pemula yang bisa langsung dipraktikkan dengan alat seadanya di dapur.

Satu detail kecil yang sering diabaikan adalah cara membuka sumpit sekali pakai. Alih-alih menariknya menyamping, membelah sumpit dengan mematahkannya ke atas dinilai lebih rapi dan aman. Jika selama ini Anda merasa sering salah dalam menahan salah satu batang sumpit, kembalikan saja tangan ke bentuk pegangan yang benar secara sadar sampai menjadi refleks.

Etika dan Pantangan Memakai Sumpit yang Wajib Dihindari

Menguasai teknik saja belum cukup; ada tata krama yang menyertai setiap gerakan. Sebagian besar aturannya berakar pada budaya dan kepercayaan, sehingga memahaminya adalah bentuk penghormatan terhadap tuan rumah. Sebelum menghadiri jamuan bertema oriental, ada baiknya menambah wawasan tentang cara memakai sumpit yang benar lengkap dengan etikanya.

Mengutip Gulf News, sumpit China cenderung lebih panjang dan tebal karena digunakan untuk mengambil hidangan yang diletakkan di tengah meja. Sementara itu, sumpit Jepang umumnya lebih pendek dengan ujung yang meruncing, sedangkan sumpit Korea dikenal dengan bentuk pipih dan bahan logam.

Menariknya, penggunaan sumpit memiliki sejarah yang panjang. Mengutip Taste of Home, sumpit diperkirakan mulai digunakan di China sekitar 1200 SM dan hingga kini menjadi bagian dari kebiasaan makan sehari-hari di berbagai negara Asia, termasuk Korea, Jepang, dan Vietnam.

Alasan sumpit begitu lekat dengan budaya makan di Asia juga berkaitan dengan filosofi dan kebiasaan makan pada masa lampau. Mengutip Smithsonian Magazine, Konfusius mengajarkan bahwa orang yang terhormat dan berbudi luhur sebaiknya menjauhkan diri dari tempat pemotongan hewan maupun dapur serta tidak menggunakan pisau di meja makan.

Pandangan tersebut turut dikaitkan dengan kebiasaan memotong makanan menjadi potongan kecil sebelum disajikan, sehingga penggunaan pisau di meja makan tidak lagi diperlukan. Dalam konteks inilah, sumpit menjadi alat yang praktis untuk mengambil dan menyantap makanan.

Berikut sejumlah pantangan umum, yang dalam tradisi Jepang dikelompokkan sebagai "kirai-bashi" atau penggunaan sumpit yang dibenci, dan sebaiknya Anda hindari:

  • Tate-bashi: Menancapkan sumpit tegak lurus di atas nasi. Posisi ini menyerupai sesajen di pemakaman sehingga dianggap sangat tabu.

  • Hashi-watashi: Mengoper makanan langsung dari sumpit ke sumpit orang lain. Kebiasaan ini mengingatkan pada pemindahan tulang saat kremasi, jadi letakkan makanan di piring terlebih dahulu.

  • Sashi-bashi: Menusuk makanan dengan sumpit seolah memakai garpu. Selain dianggap kasar, makanan berisiko terlepas dan jatuh.

  • Neburi-bashi: Menjilat ujung sumpit atau sisa saus yang menempel. Gerakan ini terlihat jorok dan kurang sopan.

  • Yose-bashi: Menyeret atau menarik mangkuk dan piring menggunakan sumpit. Gunakan tangan untuk memindahkan wadah.

  • Watashi-bashi: Meletakkan sumpit melintang di atas mangkuk saat jeda makan. Ini menandakan Anda sudah selesai, jadi gunakan sandaran sumpit.

  • Mayoi-bashi: Menggerakkan sumpit melayang-layang di atas hidangan karena bingung memilih. Tentukan dulu pilihan, baru ambil makanannya.

  • Kosuribashi: Menggosokkan dua sumpit sekali pakai untuk menghilangkan serpihan. Di Jepang, hal ini seolah menyiratkan sumpitnya berkualitas rendah.

Tata krama menggunakan sumpit juga memiliki makna tersendiri dalam budaya makan. Dalam bukunya The Rituals of Dinner, Margaret Visser menjelaskan bahwa menggunakan sumpit dengan kikuk untuk mengutak-atik makanan dapat dipandang bukan hanya sebagai tanda kurang terampil, tetapi juga sebagai bentuk keengganan yang disayangkan.

Memahami cara memegang dan menggerakkan sumpit dengan tepat tidak hanya membantu mengambil makanan dengan lebih mudah, tetapi juga menjadi bagian dari etika saat menggunakannya.

Pantangan tersebut berlaku lintas negara, meski penekanannya bisa berbeda. Ada baiknya mengenali etika makan di berbagai negara sebelum bepergian, karena beberapa kebiasaan yang dianggap buruk di sejumlah negara mungkin tidak kita sadari.

Salah satu aturan yang paling konsisten adalah larangan menancapkan sumpit di mangkuk nasi, sementara di Jepang sumpit juga tidak boleh dipakai untuk mengoper makanan ke orang lain. Di Korea, tata kramanya bahkan lebih menekankan kesopanan, termasuk mendahulukan yang lebih tua dan makan dengan tenang.

Selain menjadi bagian dari budaya makan, penggunaan sumpit dapat mendorong ritme makan yang lebih perlahan karena makanan diambil dalam porsi kecil setiap suapan. Mengutip Colgate, makan dan mengunyah secara perlahan memberi tubuh waktu untuk mengenali rasa kenyang.

Kebiasaan makan lebih lambat juga dikaitkan dengan berat badan. Penelitian dalam jurnal BMJ Open menunjukkan bahwa memperlambat kecepatan makan berkaitan dengan penurunan risiko obesitas sekitar 42 persen.

Tidak mengherankan jika kebiasaan makan perlahan begitu dianjurkan. Anda bisa membaca lebih jauh soal manfaat makan secara perlahan untuk mencegah kembung, memahami cara mengunyah makanan yang benar dan manfaatnya, hingga menyadari bahwa langkah pertama pencernaan justru dimulai dari mengunyah. Dengan begitu, menguasai sumpit tidak sekadar soal keterampilan tangan, tetapi juga cara menikmati makanan dengan lebih sadar dan sehat.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Makan Pakai Sumpit

Bagaimana cara memegang sumpit yang benar untuk pemula?

Peganglah kedua sumpit sekitar dua pertiga dari ujung bawah. Letakkan batang bawah di lekukan antara ibu jari dan telunjuk lalu sandarkan pada jari manis sebagai tumpuan yang diam, sementara batang atas dijepit seperti memegang pensil dan digerakkan naik-turun dengan telunjuk serta jari tengah. Kunci utamanya, hanya batang atas yang bergerak dan pegangan harus tetap rileks.

Mengapa sumpit tidak boleh ditancapkan berdiri di mangkuk nasi?

Karena menancapkan sumpit tegak lurus di nasi menyerupai sesajen dalam tradisi pemakaman di sejumlah negara Asia, seperti Jepang, China, dan Korea. Posisi ini diasosiasikan dengan ritual bagi orang yang telah meninggal sehingga dianggap membawa kesan buruk. Saat ingin meletakkan sumpit, gunakan sandaran sumpit atau letakkan mendatar di tepi wadah.

Sumpit berasal dari negara mana?

Sumpit berasal dari China dan diperkirakan sudah digunakan sejak ribuan tahun lalu, dengan catatan paling awal sekitar 1200 SM. Mulanya sumpit dipakai sebagai alat memasak untuk mengambil makanan dari panci, lalu berkembang menjadi alat makan. Seiring waktu, penggunaannya menyebar ke Jepang, Korea, dan Vietnam dengan bentuk serta bahan yang khas di tiap negara.