Karakter Orang yang Merasa Selalu Benar, Kenali 9 Ciri-Cirinya

Kenali karakter orang yang merasa selalu benar, mulai dari sulit menerima kritik, tidak mau mengakui kesalahan, hingga gemar mendominasi pembicaraan.

Diterbitkan 20 September 2026, 19:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pernah berbicara dengan seseorang yang selalu merasa pendapatnya paling tepat? "Pendapat saya paling tepat. Saya tidak mau mendengarkan penjelasanmu. Semua orang seharusnya mengikuti keinginan saya." Ketika terjadi perbedaan pandangan, orang tersebut justru sulit mendengarkan, menolak masukan, atau mencari alasan agar dirinya tetap terlihat benar. Situasi seperti ini bisa terjadi dalam hubungan pertemanan, keluarga, bahkan di tempat kerja.

Mengenali karakter orang yang merasa selalu benar dapat membantu kita memahami pola komunikasi yang kurang sehat. Namun, tidak semua orang yang mempertahankan pendapatnya memiliki sifat yang sama. Seseorang mungkin sedang mempertahankan keyakinan, merasa terancam oleh kritik, atau memang terbiasa menempatkan dirinya sebagai pihak yang paling tahu.

Karakter orang yang merasa selalu benar dan egomania disebut memiliki kemiripan. Dalam pembahasan mengenai egomania, Psychology Today menjelaskan kecenderungan berupa perhatian yang berlebihan terhadap diri sendiri.

Apa yang Dimaksud dengan Karakter Orang yang Merasa Selalu Benar?

Orang yang merasa selalu benar adalah seseorang yang cenderung menganggap pendapat, keputusan, atau sudut pandangnya lebih tepat daripada orang lain. Ketika mendapatkan masukan yang berbeda, ia mungkin kesulitan mempertimbangkannya secara terbuka.

Perilaku ini tidak otomatis menunjukkan gangguan mental atau gangguan kepribadian. Istilah seperti egomaniac sering digunakan dalam percakapan sehari-hari untuk menggambarkan orang yang terlalu berpusat pada dirinya sendiri, tetapi istilah tersebut bukan diagnosis klinis tersendiri. Psychology Today juga menjelaskan bahwa egomania tidak tercantum sebagai diagnosis mandiri dalam DSM-5.

Beberapa perilaku yang dapat terlihat antara lain:

  • Sulit menerima kritik, meskipun disampaikan dengan baik.
  • Menganggap pendapat berbeda sebagai bentuk serangan.
  • Lebih sering menyalahkan orang lain ketika terjadi masalah.
  • Ingin menjadi pihak yang paling didengar.
  • Kesulitan mengakui bahwa dirinya bisa melakukan kesalahan.

Penting: Satu atau dua perilaku tersebut belum cukup untuk menentukan kepribadian seseorang. Perhatikan pola yang berulang, situasinya, dan dampaknya terhadap hubungan.

Ciri-Ciri Karakter Orang yang Merasa Selalu Benar

1. Sulit Menerima Kritik dari Orang Lain

Salah satu karakter orang yang merasa selalu benar adalah kesulitan menerima kritik. Ketika seseorang memberikan masukan, ia tidak selalu melihatnya sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, kritik bisa dianggap sebagai upaya merendahkan kemampuan atau menyerang harga dirinya.

Contohnya, ketika rekan kerja menunjukkan kesalahan dalam sebuah laporan, ia langsung menjawab, "Kamu juga sering salah, kok." Pembicaraan yang seharusnya membahas perbaikan pekerjaan malah berubah menjadi saling menyalahkan.

Bolde menjelaskan respons defensif terhadap kritik dan kecenderungan mengalihkan kesalahan kepada orang lain adalah pola perilaku yang sering muncul pada orang yang merasa selalu benar.

Contoh perilaku yang bisa diamati:

  • Memotong pembicaraan ketika diberi masukan.
  • Mengungkit kesalahan orang lain untuk menghindari topik utama.
  • Menganggap kritik sebagai tanda bahwa orang lain iri.
  • Menolak mengevaluasi keputusan yang sudah dibuat.

2. Tidak Mau Mengakui Kesalahan

Setiap orang bisa melakukan kesalahan. Namun, orang yang terus-menerus berusaha terlihat benar mungkin kesulitan mengucapkan kalimat sederhana seperti, "Maaf, saya keliru."

Alih-alih mengakui kesalahan, ia bisa mencari alasan, menyalahkan keadaan, atau menjelaskan bahwa dirinya sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Jika hal ini terjadi berulang kali, komunikasi dengan orang tersebut dapat terasa melelahkan.

Misalnya, seseorang terlambat menghadiri janji yang sudah disepakati. Ketika ditegur, ia tidak membahas keterlambatannya, tetapi justru menyalahkan orang lain karena dianggap terlalu mempermasalahkan waktu.

Bolde menyoroti kecenderungan sulit meminta maaf dan penggunaan kata "tetapi" dapat mengalihkan tanggung jawab.

3. Selalu Ingin Mendominasi Pembicaraan

Apakah kamu pernah berbicara dengan seseorang yang selalu mengembalikan topik pembicaraan kepada dirinya sendiri? Ketika orang lain bercerita, ia justru berusaha menunjukkan bahwa pengalamannya lebih hebat, lebih sulit, atau lebih menarik.

Kebiasaan mendominasi pembicaraan dapat menjadi salah satu tanda perilaku yang berpusat pada diri sendiri. Namun, perlu dibedakan antara orang yang memang komunikatif, memiliki pengalaman luas, dan orang yang secara konsisten mengabaikan kesempatan orang lain untuk berbicara.

Contohnya:

  • Teman sedang menceritakan masalah pekerjaan, tetapi pembicaraan langsung dialihkan ke keberhasilan dirinya.
  • Saat diskusi, pendapat orang lain sering dipotong sebelum selesai.
  • Ia ingin menjadi orang terakhir yang berbicara.
  • Cerita orang lain selalu dibandingkan dengan pengalaman pribadinya.

Bolde menggambarkan perilaku mendominasi perhatian, mengalihkan cerita kepada diri sendiri, dan berusaha mengungguli pengalaman orang lain sebagai tanda yang dapat dikaitkan dengan egomania.

4. Merasa Pendapatnya Paling Pintar dan Paling Tepat

Orang yang merasa selalu benar bisa memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya paling memahami suatu topik. Bahkan ketika menghadapi informasi baru, ia tetap berusaha mempertahankan pendapat awal.

Misalnya, dalam diskusi keluarga tentang keuangan, ia menolak pendapat anggota keluarga lain tanpa benar-benar mendengarkan alasannya. Ia mungkin mengatakan, "Saya sudah lebih banyak pengalaman, jadi tidak perlu dijelaskan."

Kepercayaan diri dan pengalaman tentu bukan sesuatu yang buruk. Masalahnya muncul ketika seseorang menganggap pengalaman pribadi sebagai alasan untuk menutup ruang dialog.

Artikel Bolde menyebut kecenderungan menempatkan diri sebagai pihak yang paling ahli dalam berbagai topik sebagai salah satu pola egomaniak yang dibahasnya.

5. Sering Mengalihkan Kesalahan kepada Orang Lain

Ketika terjadi masalah, seseorang dapat merespons dengan mengevaluasi apa yang menjadi tanggung jawabnya. Namun, orang yang selalu ingin terlihat benar mungkin lebih sering mencari pihak lain untuk disalahkan.

Misalnya, proyek kelompok tidak selesai tepat waktu. Alih-alih membicarakan pembagian tugas dan hambatan yang terjadi, ia langsung menuding anggota lain sebagai penyebab utama.

Perilaku ini dapat membuat hubungan menjadi tidak seimbang, terutama jika hanya satu pihak yang diharapkan bertanggung jawab, sementara pihak lainnya terus menghindari evaluasi.

Dalam pembahasannya tentang karakter egomaniak, Dr. George Simon menggambarkan pola yang berpusat pada diri sendiri, pengabaian terhadap orang lain, serta kecenderungan mengabaikan batasan atau aturan. Pembahasan tersebut bersifat konseptual dan tidak berarti semua orang yang menyalahkan orang lain memiliki karakter yang sama.

6. Membutuhkan Pujian dan Pengakuan

Ada orang yang merasa senang ketika mendapatkan apresiasi. Hal ini normal. Akan tetapi, kebutuhan terhadap pujian bisa menjadi pola yang kurang sehat apabila seseorang terus-menerus membutuhkan pengakuan untuk merasa dirinya berharga.

Contohnya, seseorang sering membicarakan pencapaian, barang yang dibeli, atau hubungan sosialnya. Ketika tidak mendapatkan respons yang diharapkan, ia terlihat kecewa, merendahkan orang lain, atau kembali mengarahkan pembicaraan agar mendapatkan perhatian.

Psychology Today membahas kebutuhan akan pengakuan, pencarian pujian, dan perasaan tidak aman yang mungkin berada di balik tampilan superioritas dalam konteks narsisme. Hubungan tersebut tidak berlaku secara otomatis pada setiap orang yang senang dipuji.

Beberapa pola yang dapat diperhatikan:

  • Sering mengarahkan pembicaraan pada prestasi pribadi.
  • Mengharapkan orang lain mengakui kehebatannya.
  • Sulit merasa cukup ketika tidak mendapatkan perhatian.
  • Menganggap kurangnya pujian sebagai bentuk tidak menghargai dirinya.

7. Menganggap Aturan Tidak Berlaku untuk Dirinya

Salah satu karakter orang yang merasa selalu benar dapat terlihat dari cara seseorang memperlakukan aturan dan kesepakatan. Ia mungkin menganggap kebutuhannya lebih penting daripada aturan yang harus dipatuhi bersama.

Contohnya, ia menuntut orang lain datang tepat waktu, tetapi sering terlambat tanpa memberikan penjelasan yang memadai. Atau, ia meminta orang lain menghormati batas privasi, tetapi merasa bebas membuka urusan pribadi orang lain.

Bolde menyebut perilaku menganggap aturan sebagai sesuatu yang dapat dikesampingkan untuk dirinya sendiri dibahas sebagai salah satu tanda egomaniak. Perlu dilihat apakah perilaku tersebut terjadi secara konsisten dan bagaimana dampaknya terhadap orang lain.

8. Sulit Memahami Perasaan Orang Lain

Seseorang yang terlalu berfokus pada pendapat dan kebutuhannya sendiri mungkin kesulitan memberikan ruang bagi perasaan orang lain. Ketika temannya sedang sedih, ia justru sibuk menjelaskan mengapa dirinya lebih berpengalaman atau mengapa masalah tersebut tidak seharusnya dibesar-besarkan.

Misalnya, seorang teman sedang bercerita bahwa ia merasa kecewa. Alih-alih mendengarkan, lawan bicaranya mengatakan, "Kamu terlalu sensitif. Kalau saya jadi kamu, tidak akan seperti itu."

Perlu diingat, kemampuan berempati dapat dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk kebiasaan komunikasi, kondisi emosional, dan situasi yang sedang dihadapi. Satu respons yang kurang tepat tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa seseorang tidak memiliki empati.

Psychology Today membahas kurangnya perhatian terhadap perasaan orang lain dalam kaitannya dengan karakter narsistik yang ekstrem, sedangkan Bolde juga menyinggung kesulitan memberikan dukungan emosional pada perilaku yang berpusat pada diri sendiri.

9. Menganggap Mengalah sebagai Tanda Kekalahan

Tidak semua perbedaan pendapat harus dimenangkan. Dalam hubungan yang sehat, seseorang bisa mengakui bahwa ada sudut pandang berbeda atau memilih mengalah demi mencari solusi bersama.

Namun, orang yang merasa selalu benar mungkin menganggap mengalah sebagai tanda kelemahan. Ia terus mempertahankan pendapat meskipun perdebatan tidak lagi menghasilkan penyelesaian.

Contohnya, pasangan sedang membahas rencana akhir pekan. Salah satu pihak mengusulkan pilihan berbeda, tetapi pihak lainnya terus memaksakan keputusan sendiri karena merasa pilihannya paling masuk akal.

Sikap tegas tidak sama dengan selalu ingin menang. Perbedaannya dapat terlihat dari kesediaan mendengarkan, menghormati keputusan bersama, dan meninjau kembali pendapat ketika ada alasan yang masuk akal.

Mengapa Seseorang Bisa Merasa Selalu Benar?

Perilaku merasa paling benar tidak selalu muncul karena satu penyebab. Cara seseorang dibesarkan, pengalaman hidup, kebiasaan berkomunikasi, dan cara menghadapi rasa tidak aman dapat berperan dalam membentuk pola perilaku.

Berikut beberapa kemungkinan yang perlu dipahami.

Rasa Tidak Aman yang Ditutupi dengan Sikap Superior

Sebagian pembahasan psikologi mengenai egomania dan narsisme mengaitkan tampilan percaya diri yang berlebihan dengan perasaan tidak aman atau tidak cukup berharga. Namun, hubungan tersebut bukan penjelasan tunggal untuk semua orang yang merasa selalu benar.

Psychology Today membahas pandangan bahwa perasaan superior dapat menutupi rasa tidak mampu atau tidak aman. Your First Step dan Palm Partners juga mengangkat hubungan antara egomania dan inferiority complex. Klaim tentang penyebab ini sebaiknya dipahami sebagai salah satu perspektif, bukan kesimpulan yang bisa digunakan untuk menilai kondisi batin seseorang tanpa pemeriksaan.

Kebiasaan Selalu Mendapatkan Apa yang Diinginkan

Ada orang yang terbiasa berada dalam lingkungan yang jarang memberikan batasan atau koreksi. Akibatnya, ia mungkin tidak terbiasa menghadapi perbedaan pendapat dan merasa tidak nyaman ketika orang lain menolak keinginannya.

Kebiasaan tersebut tidak otomatis membuat seseorang memiliki sifat egois. Pengaruh lingkungan perlu dipahami bersama dengan faktor lain dan pola perilaku yang benar-benar terlihat.

Menganggap Mengakui Kesalahan sebagai Ancaman

Bagi sebagian orang, mengakui kesalahan bisa terasa memalukan atau mengancam citra dirinya. Ia mungkin khawatir terlihat kurang pintar, kurang mampu, atau kehilangan penghargaan dari orang lain.

Jika respons tersebut terus berulang, orang tersebut dapat terbiasa membela diri daripada mengevaluasi tindakannya. Namun, alasan sebenarnya tidak dapat diketahui hanya dari perilaku luar.

Apakah Orang yang Merasa Selalu Benar Termasuk Narsistik?

Pertanyaan ini sering muncul ketika seseorang berhadapan dengan orang yang sulit menerima kritik atau terus ingin dipuji.

Tidak selalu. Merasa paling benar dapat menjadi perilaku yang muncul dalam berbagai karakter dan situasi. Sementara itu, Narcissistic Personality Disorder (NPD) merupakan diagnosis klinis dengan kriteria tertentu yang perlu dinilai oleh profesional kesehatan mental.

Psychology Today membahas kemiripan antara karakter egomaniak dan sejumlah ciri narsistik, tetapi juga membedakan istilah egomania dari diagnosis formal. Dr. George Simon dalam website pribadinya membahas narsisme sebagai suatu spektrum, dari kecenderungan atau sifat narsistik hingga bentuk kepribadian yang lebih bermasalah.

Perbedaan Perilaku Egois dan Diagnosis NPD

Aspek Perilaku Merasa Selalu Benar NPD
Makna Pola sikap atau perilaku tertentu Kondisi klinis dengan kriteria diagnostik
Cara mengenali Diamati melalui situasi dan pola interaksi Memerlukan evaluasi profesional
Kritik Bisa sulit menerima masukan Dapat disertai sensitivitas terhadap evaluasi, sesuai kriteria yang dinilai
Kesimpulan Tidak cukup untuk menentukan diagnosis Tidak ditetapkan hanya dari satu ciri

Pertanyaan Seputar Karakter Orang yang Merasa Selalu Benar

1. Apa ciri paling umum orang yang merasa selalu benar?

Beberapa ciri yang dapat terlihat adalah sulit menerima kritik, tidak mau mengakui kesalahan, sering mendominasi pembicaraan, dan cenderung menganggap pendapatnya paling tepat. Ciri tersebut perlu dilihat sebagai pola perilaku, bukan bukti pasti suatu diagnosis.

2. Apakah orang yang merasa selalu benar memiliki rasa tidak aman?

Rasa tidak aman merupakan salah satu kemungkinan yang dibahas dalam literatur populer tentang egomania dan narsisme. Namun, tidak semua orang yang merasa selalu benar memiliki rasa tidak aman, dan penyebab perilaku seseorang tidak bisa dipastikan tanpa memahami konteksnya.

3. Bagaimana cara menghadapi orang yang sulit mengakui kesalahan?

Sampaikan pendapat secara tenang, gunakan batasan yang jelas, dan hindari perdebatan yang terus berulang tanpa hasil. Jika perilakunya berdampak buruk pada kesejahteraanmu, pertimbangkan dukungan dari orang yang dipercaya atau profesional yang sesuai.

Â