Liputan6.com, Jakarta - Ciri orang sayang sama kita umumnya terlihat dari tindakan kecil yang konsisten, bukan sekadar ucapan manis atau kejutan besar. Orang yang menyayangi cenderung mau mendengarkan, menanggapi ajakan kita untuk terhubung, ikut senang atas keberhasilan kita, hadir saat sulit, dan menghargai batasan kita.
Menurut artikel psikoedukasi Unit Konsultasi Psikologi (UKP) Fakultas Psikologi UGM, hubungan yang sehat ditandai rasa saling menghargai perbedaan, kesetaraan, kemampuan menyampaikan perasaan secara asertif, dan kebiasaan saling mendengarkan dengan penuh perhatian. Pola serupa muncul dalam berbagai riset psikologi hubungan, yang menyoroti besarnya pengaruh respons sehari-hari terhadap kedekatan dua orang.
Berikut Liputan6 rangkum delapan ciri orang sayang sama kita berdasarkan kajian psikologi hubungan, Minggu (20/9/2026).
Advertisement
Ciri Orang Sayang Sama Kita Menurut Psikologi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5258101/original/052077200_1750335149-Penuh_empati_dan_mendengarkan.jpg)
1. Mau Mendengarkan dengan Penuh Perhatian
Orang yang sayang sama kita biasanya benar-benar hadir saat kita bercerita. Ia tampak fokus, mengajukan pertanyaan lanjutan, dan sesekali merangkum ulang cerita kita untuk memastikan ia paham.
Teknik ini dikenal sebagai active listening. Greater Good Science Center di University of California, Berkeley, menyebut cara mendengarkan seperti ini dapat membuat lawan bicara merasa lebih dipahami dan meningkatkan kepuasan hubungan. Panduan yang sama mengingatkan bahwa buru-buru memberi saran belum tentu membantu sebelum kedua pihak merasa didengar.
Kebiasaan ini juga tercermin dalam riset John Gottman. The Gottman Institute menggambarkan pasangan yang berhasil sebagai pasangan yang atentif, termasuk meletakkan ponsel saat pasangannya ingin mengobrol.
2. Menanggapi Ajakan Kecil untuk Terhubung
Dalam riset Gottman, ajakan kecil untuk terhubung disebut bids. Bentuknya bisa berupa pertanyaan, komentar, senyum, sentuhan, atau helaan napas panjang yang sebenarnya meminta perhatian. Menurut The Gottman Institute, ajakan semacam ini sering dibuat samar karena orang takut terlihat rentan.
Ada tiga cara menanggapinya: menoleh dan merespons, mengabaikan, atau menolak dengan sinis. Orang yang sayang sama kita cenderung memilih yang pertama. Dalam pengamatan di laboratorium Gottman, pasangan yang tetap bahagia enam tahun kemudian menoleh pada ajakan pasangannya 86 persen dari waktu, sedangkan pasangan yang berpisah atau tidak bahagia hanya 33 persen.
Menanggapi ajakan tidak harus sempurna. The Gottman Institute mencatat tidak ada yang mampu menyambut semua ajakan pasangannya, tetapi pasangan yang bahagia lebih sering melakukannya. Kedekatan pun dibangun lewat perhatian harian, bukan hanya gestur besar.
3. Ikut Senang Saat Kita Berhasil
Kasih sayang tidak hanya terlihat saat kita sedang susah. Orang yang menyayangi kita juga antusias ketika kita membawa kabar baik, entah itu promosi jabatan, kelulusan, atau hal kecil yang membuat hari terasa cerah.
Psikologi menyebut respons ini active-constructive responding, yakni tanggapan yang jelas-jelas mendukung dan antusias. Menurut University of Rochester Medical Center, respons seperti ini menunjukkan bahwa pendengar mendengar cerita kita, menganggapnya penting, mengakui usaha kita, dan ikut merasa senang.
Studi Gable dan rekan (2004) yang diulas lembaga tersebut menemukan bahwa orang yang merasa ditanggapi secara active-constructive menilai kesejahteraan diri dan kualitas hubungannya lebih tinggi, termasuk rasa percaya, kedekatan, kepuasan, dan komitmen. Ulasan di Noba Project bahkan menyebut respons terhadap kabar baik cenderung lebih memprediksi kesejahteraan hubungan dibanding respons terhadap kabar buruk.
4. Tetap Hadir Saat Kita Menghadapi Masa Sulit
Menurut UKP UGM, cinta yang sehat menciptakan ruang untuk saling mendukung, baik saat menghadapi masa sulit maupun saat meraih tujuan pribadi. Dukungan itu terlihat dari kesediaannya tetap ada di samping kita ketika keadaan berat.
Peneliti menyebut kualitas ini partner responsiveness, yaitu sejauh mana seseorang menunjukkan pemahaman, pengakuan atas perasaan, dan kepedulian kepada pasangannya. Sebuah studi longitudinal di PubMed Central pada pasangan orang tua baru menemukan bahwa penilaian responsivitas yang lebih rendah, baik yang diterima maupun yang diberikan, meramalkan penurunan kepuasan hubungan selama dua tahun pertama menjadi orang tua.
Bentuknya bisa sederhana. Contoh dari The Gottman Institute: saat pasangan menghela napas setelah membaca surel, ia bertanya apa yang terjadi. Sikap kecil ini membuat kita merasa dilihat dan dihargai.
5. Menanyakan Kita Butuh Saran atau Sekadar Didengar
Ketika kita mengeluh, banyak orang refleks langsung menawarkan solusi. Niatnya baik, tetapi bisa terasa meremehkan atau membebani bagi orang yang sedang mencurahkan perasaan. Psikolog Mark Travers, Ph.D., dalam tulisannya di Psychology Today, menyebut orang yang bertanya lebih dulu apakah kita butuh saran atau hanya ingin didengar sebagai salah satu tanda pasangan yang menghormati kita.
Ia mengutip penelitian di Journal of Social and Clinical Psychology yang membedakan dukungan nondirektif, saat penolong membantu tanpa mengambil alih, dengan dukungan direktif, saat penolong mendikte cara mengatasi masalah. Dukungan nondirektif dikaitkan dengan harapan dan optimisme yang lebih tinggi, sedangkan dukungan direktif dikaitkan dengan depresi dan kesepian yang lebih besar.
Dengan bertanya, seseorang menunjukkan bahwa ia menghormati kita sebagai pribadi yang bisa memutuskan dukungan apa yang dibutuhkan. Kita pun merasa dipahami, bukan diatur.
6. Menghargai Perbedaan dan Batasan Kita
Cinta yang sehat ditandai rasa saling menghargai perbedaan, baik dalam sifat, keputusan, maupun hal yang melibatkan orang lain di luar hubungan, menurut UKP UGM. Situs edukasi hubungan sehat love is respect menegaskan bahwa rasa hormat bukan soal mengendalikan orang lain, melainkan kebebasan untuk menjadi diri sendiri dan dicintai apa adanya.
Rasa hormat itu juga tampak saat berbeda pendapat. Meski tidak selalu sepakat, orang yang menyayangi kita memilih memercayai penilaian kita. Artinya, kasih sayang tidak dijadikan alasan untuk memaksakan kehendak.
7. Mendorong Kita Tumbuh dan Mengejar Tujuan
Cinta yang sehat mendorong pertumbuhan pribadi, bukan membuat seseorang kehilangan jati diri. Orang yang menyayangi kita ikut senang ketika kita berkembang. Love is respect mencantumkan dukungan terhadap minat, hobi, dan karier masing-masing sebagai wujud rasa hormat dalam hubungan yang sehat.
UKP UGM juga memaparkan tanda seseorang mulai kehilangan jati diri dalam hubungan, seperti terlalu fokus pada kehidupan pasangan, kurang punya waktu untuk diri sendiri, terlibat aktivitas yang tidak disukai demi menyenangkan pasangan, atau merasa perlu menjauh dari keluarga dan teman. Kasih sayang yang sehat semestinya tidak menuntut hal-hal tersebut.
8. Berselisih Tanpa Menyerang Karakter
Perbedaan pendapat itu wajar, bahkan dalam hubungan yang penuh kasih sayang. Yang membedakan adalah sasaran kritiknya. Menurut Mark Travers di Psychology Today, ketika seseorang menyerang karakter, bukan perilaku, perselisihan berhenti menjadi konstruktif dan mulai mengikis rasa hormat.
Ia merujuk temuan John dan Julie Gottman tentang empat pola destruktif yang paling terkait dengan perceraian: kritik, defensif, menarik diri (stonewalling), dan penghinaan (contempt). Penghinaan, yang muncul lewat ejekan, sarkasme, atau sikap merasa lebih unggul, disebut sebagai prediktor perceraian paling kuat.
Sebagai gambaran, kalimat "aku sakit hati saat kamu bersikap begitu" membahas perilaku, sedangkan "kamu egois" menyerang pribadi. Orang yang sayang sama kita memilih cara pertama karena ia tidak ingin merendahkan kita demi memenangkan argumen.
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3492185/original/036979100_1624529107-happy-married-couple-having-fun-together-fresh-air_247147-96__2_.jpg)
Delapan ciri di atas menunjukkan bahwa kasih sayang lebih sering hadir lewat kebiasaan kecil yang diulang setiap hari daripada lewat momen istimewa. The Gottman Institute mencatat perpisahan umumnya lahir dari jarak dan kekecewaan yang menumpuk akibat ajakan terhubung yang terus diabaikan, bukan dari satu pertengkaran besar.
Namun, tidak semua sikap yang dibungkus perhatian berarti sayang. UKP UGM menyebut hubungan bersifat toxic ketika salah satu atau kedua pihak merasa tidak didukung, disalahpahami, direndahkan, atau bahkan diserang secara emosional.
Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga profesional. Jika sebuah hubungan terus membuat kamu tertekan atau merasa tidak aman, berkonsultasilah dengan psikolog.
Advertisement
Pertanyaan Seputar Ciri Orang Sayang Sama Kita
1. Apa saja ciri-ciri orang yang sayang sama kita?
Ciri utamanya meliputi mau mendengarkan dengan penuh perhatian, menanggapi ajakan kecil kita untuk terhubung, ikut senang atas keberhasilan kita, hadir saat sulit, dan menghargai perbedaan serta batasan kita.
2. Bagaimana cara tahu seseorang sayang sama kita tanpa diucapkan?
Perhatikan pola sikapnya sehari-hari, terutama caranya merespons saat kita bercerita atau butuh dukungan. Riset Gottman menunjukkan pasangan yang tetap bahagia lebih sering menanggapi ajakan kecil pasangannya.
3. Apakah orang yang sayang harus selalu mengungkapkannya lewat kata-kata?
Tidak. Menurut Cleveland Clinic, setiap orang punya cara berbeda dalam memberi dan menerima kasih sayang, misalnya lewat kata-kata, tindakan membantu, waktu bersama, sentuhan fisik, atau hadiah.
4. Apa bedanya sayang dengan sikap mengekang?
Kasih sayang yang sehat memberi ruang untuk menjadi diri sendiri dan berkembang. Sikap mengekang, sebaliknya, membuat seseorang merasa tidak didukung, direndahkan, atau kehilangan jati diri.
5. Apa yang perlu dilakukan jika merasa orang terdekat kurang menunjukkan sayang?
Cermati apakah sikap itu berulang atau hanya kejadian sesaat, lalu sampaikan perasaan dan kebutuhan secara terbuka dan asertif. Jika hubungan terus membuat tertekan, berkonsultasilah dengan psikolog.
Â
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340558/original/047338600_1788510282-cek_fakta_-_BNI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5491146/original/066985700_1770086696-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-03T094228.234.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323076/original/064136000_1786599582-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-13T123857.729.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351957/original/080906700_1789720927-cek_fakta_suahasil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5265929/original/046369000_1750935813-medium-shot-happy-people-with-coffee.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350795/original/061905200_1789630521-ChatGPT_Image_17_Sep_2026__14.15.53.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4647050/original/096680300_1699881296-Tempat_Sampah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9347871/original/082698900_1789371708-ChatGPT_Image_14_Sep_2026__14.36.52.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352169/original/056693800_1789732852-Foto_1_credit_WWF-Indonesia_Ilham_Andriansyah.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346285/original/094214300_1789120119-file_0000000047f882308af83e40b22f096a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1176605/original/028391000_1458444646-20160319-Earth-Hour-di-kawasan-Bundaran-HI-Fanani-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3929526/original/096494900_1644470631-jesse-schoff-Ph2KtIqKs7c-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349154/original/070984700_1789475303-WhatsApp_Image_2026-09-15_at_7.23.17_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5349953/original/059135700_1757945389-Bapenas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346936/original/048560000_1789222746-WhatsApp_Image_2026-09-12_at_19.50.01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5010796/original/017006400_1731931573-20241117_084948.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3518881/original/000279300_1627027346-karbon_un.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3135483/original/039776200_1590210872-photo-of-woman-using-mobile-phone-3367850__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579486/original/060830400_1778053242-Sulit_Mengakui_Kesalahan_dan_Meminta_Maaf.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9351161/original/065792800_1789642498-disruptivo-vIAGW486ewo-unsplash.jpg)