Cara Mengenali Orang yang Pura-Pura Baik-Baik Saja dari Ucapannya Menurut Psikolog

Pelajari cara mengenali orang yang pura-pura baik-baik saja dari ucapannya menurut psikolog lewat kalimat halus yang sering menyembunyikan luka batin.

Diterbitkan 08 Agustus 2026, 13:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Senyum lebar dan kalimat "aku baik-baik saja" tidak selalu berarti seseorang benar-benar tenang. Justru, cara mengenali orang yang pura-pura baik-baik saja dari ucapannya menurut psikolog sering dimulai dari kalimat yang terdengar paling meyakinkan.

Ada pola bahasa khas yang muncul ketika seseorang menutupi badai di dalam dirinya. Dengan memahami cara mengenali orang yang pura-pura baik-baik saja dari ucapannya menurut psikolog, kamu bisa hadir lebih peka bagi orang terdekat.

Kebiasaan menyembunyikan perasaan kerap terbentuk sejak seseorang diajarkan untuk tidak menunjukkan emosinya. Padahal, berbagai penelitian menyebutkan bahwa memendam emosi tidak membuat perasaan itu hilang, melainkan menumpuk dan berpotensi mengganggu kesehatan mental dalam jangka panjang. Untuk lebih jelasnya, simak pembahasan selengkapnya berikut ini, sebagaimana telah Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Selasa (4/8/2026).

Cara Mengenali Orang yang Pura-Pura Baik-Baik Saja dari Ucapannya Menurut Psikolog

Bahasa menjadi jendela paling jujur untuk membaca isi hati, bahkan saat wajah seseorang tampak tenang. Inilah beberapa cara mengenali orang yang pura-pura baik-baik saja dari ucapannya menurut psikolog yang bisa kamu perhatikan dari lima kalimat sehari-hari.

  1. "Aku Baik-Baik Saja, Jangan Khawatirkan Aku": Kalimat penenang ini justru sering menyembunyikan perasaan yang sedang berantakan. Banyak orang mengucapkannya karena malu mengakui bahwa dirinya sedang tidak stabil dan takut dianggap cengeng.

  2. "Aku Tidak Mau Membicarakannya": Ucapan ini merupakan respons defensif terhadap topik yang menyakitkan. Mereka merasa terlalu rentan dan berharap terlihat kuat dengan cara menghindari pembicaraan sama sekali.

  3. "Aku Bisa Mengatasinya Sendiri": Pernyataan ini menjadi bentuk pertahanan diri untuk menutupi rasa tidak aman. Seseorang ingin tampak mandiri dan memegang kendali, meski kenyataannya sedang kewalahan dan enggan menerima bantuan.

  4. "Aku Sudah Terbiasa dengan Hal Ini": Kalimat ini menormalkan luka batin yang sebetulnya belum sembuh. Sekadar terbiasa bukan berarti keadaannya baik-baik saja, dan pembiasaan itu justru menunda pemulihan.

  5. "Aku Tidak Ingin Membebani Siapa Pun": Ucapan ini menandakan seseorang menekan perasaannya demi melindungi orang yang ia sayangi. Rasa takut menjadi beban membuatnya memilih diam ketimbang terbuka.

Kalimat pertama biasanya keluar bukan karena hati sedang tenang, melainkan karena penuturnya kehilangan kata untuk menjelaskan perasaannya. Neuropsikolog Dr. Sanam Hafeez, dikutip dari Parade, menyebut, "Ini adalah bahasa bertahan hidup untuk menghindari kerentanan atau konfrontasi."

Pola serupa terlihat pada mereka yang menolak bercerita. Psikolog klinis Jill P. Weber, dikutip dari YourTango, menuturkan, "Orang cenderung menahan emosi yang sulit karena rasa takut yang mendalam untuk menjadi rentan, terlihat, lalu dipermalukan." Karena itu, membedakan senyum tulus dari sekadar topeng juga penting agar kamu tidak salah menilai; kamu bisa mempelajari lebih jauh tanda orang pura-pura bahagia di sekitarmu.

Baca juga: 11 Ciri Orang Pura-Pura Baik yang Sering Tidak Disadari

Kalimat Halus Lain yang Menandakan Seseorang Tidak Baik-Baik Saja

Selain penyangkalan yang lugas, ada ungkapan-ungkapan halus yang mudah luput dari perhatian. Untuk melengkapi cara mengenali orang yang pura-pura baik-baik saja dari ucapannya menurut psikolog, kenali lima frasa berikut yang kerap dipakai untuk menutup diri.

Sebagaimana dilaporkan Bolde, kalimat "tidak ada apa-apa" bekerja seperti papan "dilarang masuk" bagi emosi seseorang. Riset psikolog James Pennebaker yang dikutip media tersebut menegaskan bahwa menolak mengakui perasaan justru dapat meningkatkan stres dari waktu ke waktu.

  1. "Tidak Ada Apa-Apa, Kok": Frasa ini menutup pintu percakapan dan membuat orang lain berhenti bertanya. Padahal, di baliknya bisa tersimpan persoalan yang sengaja tidak ingin diakui.

  2. "Aku Cuma Capek": Keluhan lelah kerap menjadi tameng ketika kelelahan emosional menyamar sebagai kelelahan fisik. Rasa capek yang terus-menerus tanpa sebab jelas patut diperhatikan.

  3. "Ini Bukan Masalah Besar": Seseorang meremehkan lukanya sendiri agar terlihat tangguh dan menghindari konflik. Yang sebenarnya ia butuhkan adalah pengakuan bahwa perasaannya valid.

  4. "Aku Fine-Fine Saja, Terserah": Nada pasrah ini sering menyimpan kejengkelan yang tidak diungkapkan secara langsung. Ini bentuk komunikasi pasif-agresif yang menuntut perhatian tanpa perlu meminta.

  5. "Sudahlah, Lupakan Saja": Kalimat ini muncul saat seseorang sempat ingin terbuka, lalu memilih menutup diri. Baginya, mengalihkan topik terasa lebih aman daripada menjelaskan perasaan yang rumit.

Rasa lelah yang tak kunjung hilang pun bisa menjadi sinyal penting, sebab kelelahan konstan termasuk salah satu gejala depresi yang jarang disadari. Psikoterapis Myron Nelson, LCPC, dikutip dari YourTango, menjelaskan, "Mereka mungkin merasa bingung atau malu dengan situasinya, dan tidak punya kata-kata untuk mengungkapkan perasaan mereka."

Adapun frasa yang terdengar pasrah seperti "terserah" biasanya tidak sesederhana kelihatannya. Konsultan hubungan Rhoberta Shaler, dikutip dari YourTango, menggambarkan, "Orang pasif-agresif tampak manis, penurut, dan menyenangkan, tetapi sebenarnya penuh dendam, marah, dan picik." Perubahan cara bicara yang mendadak datar atau menghindar juga menyerupai ciri-ciri orang depresi yang sering terlewatkan.

Alasan dan Dampak di Balik Kebiasaan Berpura-Pura Baik-Baik Saja

Di balik semua kalimat itu, ada alasan psikologis yang bisa dimengerti. Banyak orang menutupi kesulitannya karena takut dianggap lemah, merasa malu, atau tidak ingin merepotkan orang lain. Sebagian bahkan sudah begitu terbiasa memasang wajah kuat sehingga tidak lagi menyadari bahwa dirinya sedang berjuang. Bahasa penyangkalan yang berulang, menurut sejumlah psikolog, kerap mencerminkan pola keputusasaan yang terpelajar, yakni keyakinan bahwa bercerita pun tidak akan mengubah keadaan.

Kebiasaan memendam ini punya harga yang tidak murah bagi tubuh. Mengutip Psychology Today, menekan emosi terbukti menaikkan aktivitas sistem saraf simpatik yang menjadi penanda stres, dan kebiasaan tersebut dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung serta hipertensi. Tidak heran jika kebiasaan emosi yang dipendam berdampak pada kesehatan fisik sekaligus mental.

Berdasarkan studi Harvard School of Public Health dan University of Rochester, orang yang gemar memendam emosi meningkatkan risiko kematian dini dari segala sebab lebih dari 30 persen, dengan risiko terdiagnosis kanker naik hingga 70 persen. Psikolog klinis Victoria Tarratt, dikutip dari HCF, menegaskan, "Memendam emosi, entah amarah, kesedihan, duka, atau frustrasi, dapat menimbulkan stres fisik pada tubuh Anda." Karena itulah kebiasaan memendam perasaan bisa memicu depresi bila dibiarkan berlarut-larut.

Dampaknya tidak berhenti pada tubuh. Mengacu pada riset NYU Steinhardt, penekanan ekspresi emosi secara konsisten dikaitkan dengan kondisi kesehatan mental yang lebih buruk, meski konteks dan keasliannya turut menentukan seberapa besar kerugiannya. Ketika seseorang sulit mengekspresikan diri, kedekatan emosional berkurang, hubungan menjadi renggang, dan ia makin rentan pada gejala depresi. Memahami arti depresi secara utuh membantu kita menyadari bahwa "baik-baik saja" yang dipaksakan bukanlah tanda kekuatan.

Cara Bijak Menyikapi Orang yang Berpura-Pura Baik-Baik Saja

Setelah mengenali sinyalnya, langkah berikutnya adalah merespons dengan tepat tanpa membuat orang tersebut merasa dihakimi. Kuncinya bukan memaksa ia bercerita, melainkan menciptakan rasa aman agar ia mau membuka diri dengan sukarela.

Sebagaimana diungkapkan VegOut, orang yang cerdas secara emosional cenderung menawarkan kehadiran tanpa menuntut pengakuan, misalnya lewat kalimat observasi yang lembut alih-alih interogasi.

  1. Dengarkan tanpa menghakimi: Beri ruang bagi ia untuk bicara sesuai kecepatannya sendiri. Ada banyak cara mendukung seseorang yang berjuang dengan kesehatan mental, dan mendengarkan adalah yang paling sederhana.

  2. Gunakan kalimat observasi: Alih-alih menuntut penjelasan, katakan "Aku perhatikan kamu tampak berbeda akhir-akhir ini." Kalimat ini mengakui perubahan tanpa melabeli perasaannya.

  3. Validasi perasaannya: Hindari meremehkan dengan ucapan seperti "gitu aja kok dipikirin." Akui bahwa apa yang ia rasakan itu berat dan wajar.

  4. Tawarkan bantuan konkret: Temani ia melakukan aktivitas ringan tanpa harus selalu membahas masalah. Ada pula cara sederhana untuk membantu teman atau keluarga yang sedang depresi yang bisa kamu terapkan.

  5. Dorong penyaluran emosi yang sehat: Ajak ia mengenali cara mengendalikan emosi secara sehat, atau perkenalkan manfaat journaling sebagai wadah menuangkan perasaan.

  6. Sarankan bantuan profesional: Bila bebannya terasa terlalu berat, tak ada salahnya mengajak berkonsultasi dengan psikolog. Beberapa cara mengontrol emosi menurut para ahli juga bisa menjadi pintu masuk pembicaraan.

Mengenali kalimat-kalimat samar itu bukan untuk membuatmu curiga pada semua orang, melainkan untuk menumbuhkan empati yang lebih dalam. Menjaga kesehatan emosional diri sendiri sambil membangun relasi dengan teman yang tulus akan membuat lingkaranmu terasa lebih hangat. Sikap peka semacam ini pula yang membedakanmu dari orang yang minim empati, dan menjadikan ucapan "aku baik-baik saja" tak lagi menjadi tembok yang memisahkan.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Orang yang Pura-Pura Baik-Baik Saja

Q: Kenapa seseorang sering berkata "aku baik-baik saja" padahal sedang tidak baik-baik saja?

A: Umumnya karena rasa takut dianggap lemah, malu terlihat rentan, atau tidak ingin membebani orang lain. Menekan perasaan terasa lebih aman untuk sesaat, meski sebenarnya justru membuat beban emosinya menumpuk.

Q: Apa saja tanda orang yang pura-pura baik-baik saja dari ucapannya?

A: Perhatikan kalimat seperti "aku bisa mengatasinya sendiri", "aku tidak mau membicarakannya", "aku cuma capek", "ini bukan masalah besar", hingga "sudahlah, lupakan saja". Kalimat-kalimat ini kerap menjadi tameng untuk menutupi perasaan yang sesungguhnya.

Q: Bagaimana cara membantu orang yang pura-pura baik-baik saja?

A: Dengarkan tanpa menghakimi, validasi perasaannya, dan tunjukkan kehadiran tanpa memaksanya bercerita. Bila bebannya terasa berat, dorong dengan lembut untuk mencari dukungan dari orang tepercaya atau tenaga profesional.