5 Kepribadian Orang yang Sering Dibandingkan Sejak Kecil, Bisa Terbawa hingga Dewasa

Kepribadian orang yang sering dibandingkan sejak kecil bisa terbentuk dalam berbagai cara dan tanpa disadari terbawa hingga dewasa

Diterbitkan 22 September 2026, 12:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kepribadian setiap individu merupakan aspek dinamis yang terus berkembang dan mengalami perubahan seiring dengan bertambahnya usia, serta beragam pengalaman hidup yang dilalui. Dinamika ini sejalan dengan temuan penelitian dari University of California, Berkeley, yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology. Studi terhadap 132.515 orang dewasa berusia 21 hingga 60 tahun tersebut menunjukkan bahwa kepribadian tidak sepenuhnya bersifat statis, melainkan dapat dibentuk melalui proses pendewasaan dan akumulasi pengalaman hidup. Dalam konteks ini, pengalaman yang didapatkan sejak masa kanak-kanak memegang peranan penting dalam memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang.

Salah satu pengalaman masa kecil yang cukup umum adalah ketika individu sering kali dibandingkan dengan orang lain, baik dalam hal prestasi akademik, kemampuan, penampilan, maupun perilaku. Perbandingan yang dilakukan secara berulang, terutama oleh figur terdekat seperti orang tua, dapat membentuk cara individu memandang dirinya sendiri.

Anak yang terbiasa dibandingkan mungkin merasa belum cukup baik, terdorong untuk memenuhi ekspektasi orang lain, atau bahkan mulai meragukan potensi yang dimilikinya. Oleh karena itu, memahami kepribadian orang yang sering dibandingkan sejak kecil menjadi penting karena pengalaman ini dapat secara signifikan mewarnai bagaimana individu membangun dan mengembangkan dirinya di kemudian hari.

1. Kecenderungan Membandingkan Diri Sendiri

Melansir laman Your Tango, salah satu kepribadian orang yang sering dibandingkan sejak kecil adalah kecenderungan kuat untuk terus-menerus mengukur diri sendiri dengan orang lain, bahkan setelah mereka beranjak dewasa. Individu yang di masa kecilnya sering dibandingkan, cenderung mengembangkan pola pikir di mana nilai diri mereka terikat pada perbandingan eksternal.

Meskipun individu ini mungkin berhasil mengatasi masalah rendah diri di kemudian hari, pola perbandingan tersebut sering kali terbawa ke dalam hubungan dewasa. Hal ini dapat termanifestasi dalam bentuk anxious attachment, yaitu kebutuhan mendalam akan kedekatan yang disertai ketakutan intens akan penolakan atau ditinggalkan.

Kecenderungan ini membuat mereka sulit merasakan kepuasan atas pencapaian pribadi, sebab selalu ada standar eksternal yang dijadikan tolok ukur. Setiap keberhasilan terasa kurang karena selalu dibandingkan dengan apa yang telah dicapai orang lain, menciptakan siklus ketidakpuasan yang berkelanjutan.

2. Tekanan untuk Menyenangkan Orang Lain

Masih melansir laman Your Tango, rasa takut yang mendalam untuk mengecewakan orang lain merupakan ciri kepribadian orang yang sering dibandingkan sejak kecil berikutnya. Anak-anak yang terbiasa dibandingkan sering merasakan tekanan besar untuk tidak mengecewakan, terutama figur otoritas atau orang tua mereka.

Perasaan ini dapat bermanifestasi dalam perilaku selalu ingin menyenangkan orang lain (people-pleasing) dan sifat perfeksionis. Mereka mungkin meyakini bahwa satu-satunya cara untuk mendapatkan cinta atau penerimaan adalah dengan selalu memenuhi standar yang ditetapkan oleh orang lain, bahkan jika itu berarti mengorbankan keinginan atau kebutuhan pribadi.

3. Dorongan untuk Unggul atau Menjadi Lebih Kompetitif

Individu yang sering dibandingkan sejak kecil sering kali mengembangkan kepribadian orang yang sering dibandingkan sejak kecil yang sangat kompetitif. Mereka tumbuh dengan keyakinan bahwa satu-satunya cara untuk dihargai atau dicintai adalah dengan menjadi yang terbaik atau mengungguli orang lain.

Dorongan untuk berkompetisi ini dapat menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, hal tersebut bisa memotivasi mereka untuk meraih kesuksesan yang tinggi dalam berbagai bidang. Namun, di sisi lain, sifat kompetitif yang berlebihan juga dapat menyebabkan kecemasan, kelelahan, dan kesulitan dalam membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

4. Rendah Diri dan Kurang Percaya Diri

Salah satu dampak paling umum dari perbandingan yang terus-menerus di masa kecil adalah perkembangan rasa rendah diri dan kurangnya kepercayaan diri. Ketika seorang anak secara konsisten diberitahu bahwa mereka tidak sebaik orang lain, atau ketika prestasi mereka selalu diukur dengan standar orang lain, mereka mulai menginternalisasi pesan bahwa diri mereka tidak cukup baik.

Hal ini dapat termanifestasi sebagai keraguan diri yang kronis, ketakutan untuk mengambil risiko, dan kesulitan dalam mengenali atau merayakan kekuatan mereka sendiri. Mereka mungkin menghindari tantangan baru karena takut gagal atau tidak mampu memenuhi ekspektasi tinggi yang mereka rasakan.

5. Kesulitan Membangun Identitas Diri yang Kuat

Pengalaman dibandingkan sejak kecil juga dapat menghambat pembentukan identitas diri yang kuat dan otentik. Ketika seorang anak terus-menerus didorong untuk meniru atau mencapai apa yang orang lain lakukan, mereka mungkin tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengeksplorasi minat, bakat, dan nilai-nilai mereka sendiri.

Kondisi ini dapat menyebabkan mereka tumbuh menjadi orang dewasa yang tidak yakin tentang siapa mereka, apa yang mereka inginkan, atau apa tujuan hidup mereka. Hal ini berpotensi menimbulkan kebingungan identitas, kesulitan dalam membuat keputusan, dan perasaan hampa. Mereka mungkin terus mencari validasi eksternal karena tidak memiliki fondasi internal yang kokoh untuk identitas diri mereka.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kepribadian Orang yang Sering Dibandingkan Sejak Kecil

1. Apa dampak utama dari perbandingan sejak kecil terhadap kepribadian seseorang?

Dampak utamanya adalah pembentukan kepribadian orang yang sering dibandingkan sejak kecil yang cenderung suka membandingkan diri sendiri, takut mengecewakan, lebih kompetitif, rendah diri, dan kesulitan membangun identitas diri yang kuat.

2. Bagaimana perbandingan di masa kecil dapat memengaruhi hubungan dewasa?

Perbandingan di masa kecil dapat menyebabkan pola anxious attachment di masa dewasa, di mana individu memiliki kebutuhan mendalam akan kedekatan dan ketakutan intens akan penolakan atau ditinggalkan.

3. Mengapa orang yang sering dibandingkan cenderung menjadi perfeksionis?

Mereka merasakan tekanan besar untuk tidak mengecewakan orang lain dan harus memenuhi standar tinggi, yang bermanifestasi sebagai perilaku people-pleasing dan perfeksionisme.

4. Apakah menjadi kompetitif selalu merupakan hal yang buruk bagi kepribadian orang yang sering dibandingkan sejak kecil?

Tidak selalu buruk karena dapat mendorong kesuksesan, tetapi perbandingan berlebihan dapat menyebabkan kompetisi tidak sehat, kecemasan, kelelahan, dan kesulitan kolaborasi.

5. Bagaimana perbandingan sejak kecil menghambat pembentukan identitas diri?

Perbandingan konstan dapat mencegah individu mengeksplorasi minat dan nilai-nilai mereka sendiri, membuat mereka tidak yakin siapa diri mereka dan apa yang diinginkan dalam hidup.