Liputan6.com, Jakarta Pernah bertemu seseorang yang selalu menyelipkan kalimat merendah, tetapi ujungnya justru minta dipuji? Cara mengenali orang haus validasi yang suka caper dari kalimatnya sehari-hari sebenarnya bisa dibaca dari pola bicara yang berulang dan selalu memancing tanggapan.
Kalimat seperti "kayaknya aku payah, ya" atau "nggak ada yang peduli sama aku" sering dipakai untuk menarik perhatian. Dengan memahami cara mengenali orang haus validasi yang suka caper dari kalimatnya sehari-hari, kamu bisa membedakan mana curhat yang tulus dan mana yang sekadar mencari pengakuan.
Keinginan untuk diakui sebetulnya bagian alami dari menjadi manusia dan tidak selalu buruk. Mencari sedikit kepastian dari orang lain adalah dorongan yang wajar, dan persoalan baru muncul ketika kebutuhan itu berubah menjadi berlebihan hingga kompulsif.
Advertisement
Dr. Jenn Veilleux, Profesor Ilmu Psikologi di University of Arkansas, dikutip dari Parade menyatakan, "Manusia mendambakan validasi. Kita ingin dipahami dan diberi tahu bahwa sudut pandang kita masuk akal."Â Karena itulah, mengenali orang yang benar-benar haus validasi membutuhkan ketelitian agar kita tidak sekadar menghakimi.
Cara Mengenali Orang Haus Validasi yang Suka Caper dari Kalimatnya Sehari-hari
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8334278/original/009412100_1782204744-c2b2a2f3-fbfc-4f66-91bd-8237ce97889b.jpg)
Orang yang haus pengakuan biasanya punya "kalimat andalan" yang diulang di banyak situasi. Cara mengenali orang haus validasi yang suka caper dari kalimatnya sehari-hari paling mudah dimulai dengan menyimak pola ucapan yang selalu diarahkan agar orang lain menyanggah, menghibur, atau memuji. Mengutip YourTango, bahkan kalimat halus seperti "menurut kamu gimana?" bisa menjadi sinyal bahwa seseorang tidak cukup mampu meyakinkan dirinya sendiri.
-
"Mungkin aku terdengar bodoh, ya": Kalimat merendah ini biasanya dilontarkan sebelum orang lain sempat menilai. Ketika lawan bicara buru-buru menyangkal, ia mendapat validasi bahwa dirinya tidak seburuk yang diucapkan, sehingga negatif self-talk-nya justru dikuatkan orang lain.
-
"Nggak ada yang peduli sama aku": Pernyataan ini kerap dipakai untuk memicu rasa bersalah agar orang di sekitarnya segera menghibur dan menegaskan perhatian. Padahal, orang yang sedang sibuk bukan berarti membenci atau mengabaikannya.
-
"Kenapa sih ini selalu terjadi ke aku?": Ucapan ini menempatkan diri sebagai korban keadaan agar memperoleh simpati. Ia merasa setiap masalah menyerang dirinya, padahal kadang situasi itu terjadi begitu saja pada siapa pun.
-
"Udah capek kerja keras, tapi nggak ada yang notice": Ini tanda seseorang mengharapkan pujian terus-menerus atas usahanya. Bila tepuk tangan itu tak datang, ia langsung merasa tidak dihargai bahkan tidak dicintai.
-
"Kamu marah atau benci sama aku, ya?": Kalimat ini lahir dari ketakutan ditinggalkan. Ia meminta kepastian berulang bahwa hubungan masih aman, dan rasa tenangnya hanya bertahan sebentar sebelum keraguan yang sama muncul lagi.
-
"Nggak apa-apa, kok, terserah": Diucapkan padahal hatinya sedang tidak baik-baik saja. Tujuannya agar orang lain mengejar dengan bertanya "kenapa?", sehingga fokus percakapan kembali kepadanya.
-
"Menurut kamu aku harus gimana?": Terdengar seperti minta saran biasa, tetapi bila ditanyakan untuk hal-hal sepele terus-menerus, ini menandakan ia tidak bisa mengambil keputusan kecil tanpa persetujuan orang lain.
-
"Aku nyebelin banget, ya?": Kalimat yang berharap dibantah dengan "nggak, kok, kamu asik." Ia sengaja merendahkan diri agar lawan bicara terdorong memberi pembelaan dan pujian.
Berdasarkan yang dihimpun redaksi, benang merah dari seluruh kalimat itu adalah tujuannya memancing respons, bukan menyampaikan informasi. Perhatikan pula intonasi dan frekuensinya, karena satu kalimat yang sama bisa terdengar tulus saat sesekali, tetapi menjadi tanda butuh validasi berlebih ketika diulang setiap hari.
Advertisement
Cara Memastikan Seseorang Benar-Benar Haus Validasi, Bukan Sekadar Butuh Dukungan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4599975/original/009372400_1696500307-doona-suzy-1.jpeg)
Tidak semua orang yang meminta pendapat itu bermasalah, jadi cara mengenali orang haus validasi yang suka caper dari kalimatnya sehari-hari harus dilengkapi dengan pengamatan sikap. Kuncinya adalah membedakan kebutuhan dukungan yang wajar dari ketergantungan yang menguras energi orang di sekitarnya.
-
Amati pola, bukan satu kejadian: Sesekali minta kepastian itu normal. Yang menjadi penanda adalah polanya yang terus berulang, seolah tidak pernah ada jawaban yang cukup untuk menenangkannya.
-
Cek apakah kepastian pernah "cukup": Pada orang haus validasi, rasa lega hanya bertahan sesaat lalu ia bertanya lagi. Para ahli menyebut pola ini sebagai pencarian kepastian yang berlebihan atau excessive reassurance seeking.
-
Perhatikan arah percakapan: Saat kamu mulai bercerita, apakah topik selalu ditarik kembali ke dirinya? Percakapan yang seharusnya dua arah berubah menjadi panggung tunggal untuk pengakuannya.
-
Lihat reaksinya saat sepi respons atau dikritik: Orang yang bergantung pada validasi cenderung defensif, ngambek, atau membuat drama kecil ketika unggahannya sepi atau saat menerima masukan.
-
Kenali sumber rasa amannya: Tanyakan pada diri sendiri, apakah ketenangannya datang dari dalam atau selalu menunggu persetujuan luar? Ketergantungan pada sumber eksternal inilah pembedanya.
Dr. Regina Lazarovich, psikolog klinis, dikutip dari AOL menjelaskan, "Ketika seseorang mengalami harga diri yang rendah, ia kekurangan keyakinan pada dirinya sendiri dan kemampuannya." Kondisi harga diri yang rapuh ini yang membuat pujian dari luar terasa seperti bahan bakar utama, dan tanpa itu ia mudah merasa kosong. Karena itu, penting membedakannya dari rasa insecure biasa yang dialami hampir semua orang.
Ken Dubner, seorang praktisi hipnoterapi dan NLP, dikutip dari Talkspace menuturkan, "Validasi eksternal adalah jalan buntu jika hanya itu yang bisa kamu lakukan."Â Selama seseorang masih bisa menyeimbangkan masukan orang lain dengan penilaian dirinya sendiri, kebutuhan itu masih tergolong sehat. Sebaliknya, bila seluruh nilai dirinya digantungkan pada tanggapan orang lain, di situlah ia mulai kehilangan kendali.
Cara Menyikapi Orang Haus Validasi yang Suka Caper di Sekitarmu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3459188/original/022683600_1621386808-cowomen-cKQkMFzXHAI-unsplash_Fotor.jpg)
Setelah paham cara mengenali orang haus validasi yang suka caper dari kalimatnya sehari-hari, langkah berikutnya adalah menyikapinya dengan bijak agar hubungan tetap sehat dan kamu tidak ikut kelelahan. Tujuannya bukan menjauhi, melainkan menempatkan diri secara tepat.
-
Tetap berempati, jangan langsung menghakimi: Sadari bahwa di balik sikap caper sering ada rasa tidak aman. Menanggapi dengan empati lebih membantu daripada memberi label negatif secara terbuka.
-
Tetapkan batasan yang sehat: Kamu tidak wajib selalu tersedia untuk menenangkan setiap keraguannya. Beri dukungan secukupnya tanpa menjadi satu-satunya sumber pengakuannya.
-
Jangan biasakan memberi pembelaan instan: Alih-alih langsung berkata "nggak, kok, kamu hebat", coba balikkan dengan pertanyaan agar ia belajar menjawab keraguannya sendiri.
-
Arahkan pada apresiasi usaha, bukan sekadar pujian: Dorong ia menghargai proses dan nilai dirinya sendiri, sehingga validasi tidak lagi bergantung pada suka dan komentar orang lain.
-
Sarankan bantuan profesional bila mengganggu: Jika pola ini sudah merusak keseharian atau hubungan, ajak bicara secara sensitif tentang menemui psikolog, bukan sebagai tuduhan.
Lauren Cohen, psikolog klinis, dikutip dari Gulf News menjelaskan, "Ini bukan hanya soal merasa dilihat dan didengar; ini juga berarti perasaan mereka diakui, dihormati, dan diterima. Memahami hal ini membantu kita menyikapinya dengan lebih manusiawi. Perlu diingat, sikap ini berbeda dengan pola narsistik atau NPD yang menuntut kekaguman disertai minimnya empati, sehingga cara menghadapinya pun tidak bisa disamakan.
Dari sudut pandang redaksi, menghadapi orang seperti ini menuntut keseimbangan antara peduli dan menjaga diri. Bila kamu merasa terus-menerus dikuras energi, pelajari juga cara menghadapi teman toxic agar batasanmu tetap terjaga. Jangan lupa, kadang caper juga muncul dari kebiasaan playing victim yang menuntut simpati terus-menerus.
Advertisement
Penyebab dan Dampak di Balik Perilaku Haus Validasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3149886/original/063987900_1591856310-group-friends-eating-restaurant_23-2148006691.jpg)
Memahami akar perilaku ini akan membuat kita lebih bijak dalam menyikapinya, alih-alih sekadar kesal. Banyak dari kebiasaan haus validasi dan suka caper bukanlah "kejahatan", melainkan respons terhadap luka atau kebutuhan yang belum terpenuhi sejak lama.
Akar paling umum sering berasal dari masa kecil dan pola asuh. Mengacu pada Psych Central, kasih sayang yang bersifat bersyarat, pengabaian emosional, atau pengalaman perundungan dapat menumbuhkan kebiasaan mencari persetujuan hingga dewasa. Anak yang hanya merasa dihargai saat berprestasi bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang meyakini nilai dirinya harus selalu ditegaskan orang lain. Inilah yang kemudian bertautan dengan rendahnya kepercayaan diri.
Pola kelekatan atau attachment style juga membentuk cara seseorang menuntut pengakuan. Mereka dengan kelekatan cemas cenderung memantau ekspresi, nada bicara, dan kecepatan balasan pesan demi mencari tanda diterima, sampai balasan yang telat pun bisa memicu overthinking berjam-jam. Sebagian orang lain justru menyembunyikannya secara diam-diam, sehingga kebutuhan validasinya tidak selalu tampak dari luar. Pemahaman ini penting agar kita tidak salah menilai orang yang tampak pendiam sekalipun.
Faktor pemicu berikutnya adalah media sosial. Mekanisme suka, komentar, dan pengikut menjadikan angka-angka itu seolah cerminan langsung dari harga diri, ditambah kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain yang tampak lebih baik. Kebiasaan mengecek ponsel berulang setelah mengunggah sesuatu menciptakan siklus "euforia sesaat lalu cemas lagi" yang melelahkan. Tidak mengherankan bila para ahli mengaitkan penggunaan media sosial dan kesehatan mental, terutama saat nilai diri mulai diukur dari jumlah interaksi. Efek serupa juga sering terlihat pada dampak media sosial pada remaja.
Dampaknya bisa serius, mulai dari kelelahan emosional, hilangnya jati diri, sampai hubungan yang terasa timpang karena satu pihak terus menuntut perhatian. Kabar baiknya, kebiasaan ini bisa dilatih ulang, mengenali dorongan sebelum bertindak, membuat jurnal berisi tiga hal baik yang kamu lakukan setiap hari, mengambil keputusan kecil berdasarkan nilai pribadi tanpa menunggu persetujuan, hingga melatih mindfulness. Membangun praktik self love yang sehat dan belajar membahagiakan diri sendiri tanpa bergantung pada orang lain adalah fondasi utamanya.
Sebagai catatan, dalam kasus yang ekstrem, dorongan menjadi pusat perhatian bisa menjadi bagian dari gangguan kepribadian tertentu. Sebagaimana dikutip dari Cleveland Clinic, gangguan kepribadian histrionik termasuk kondisi yang sulit dipahami dan jarang ditemukan, sehingga penilaiannya perlu dilakukan oleh tenaga profesional, bukan diagnosis sembarangan. Bila kamu sendiri yang merasakannya, tak ada salahnya menyimak cara mengatasi insecure sebagai langkah awal berdamai dengan diri.
Pada akhirnya, mengenali kalimat-kalimat khas hanyalah pintu masuk untuk lebih memahami manusia, termasuk diri sendiri. Alih-alih menghakimi, kita bisa memilih bersikap penuh empati sekaligus menjaga batasan, sambil terus belajar mencintai diri sendiri agar tidak ikut terjebak dalam pusaran mencari pengakuan.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Haus Validasi
Apa itu haus validasi dan caper?
Haus validasi adalah kondisi ketika seseorang terlalu bergantung pada pengakuan, pujian, atau persetujuan orang lain untuk merasa berharga, sedangkan caper atau cari perhatian adalah perilaku agar dirinya terus menjadi pusat perhatian. Keduanya sering berkaitan karena caper kerap menjadi cara untuk memperoleh validasi yang diinginkan.
Apa penyebab seseorang menjadi haus validasi?
Penyebabnya beragam, mulai dari harga diri yang rendah, pengalaman masa kecil yang minim penghargaan, hingga tekanan media sosial yang membuat nilai diri diukur dari jumlah suka dan komentar. Faktor-faktor tersebut membuat seseorang lebih sering mencari kepastian dari luar daripada dari dalam dirinya sendiri.
Bagaimana cara menghadapi orang yang haus validasi?
Tetaplah berempati, tetapi tetapkan batasan yang sehat agar kamu tidak menjadi satu-satunya sumber pengakuannya. Dorong ia membangun validasi dari dalam diri, dan sarankan bantuan profesional apabila perilakunya sudah mengganggu keseharian maupun hubungan.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315872/original/087159700_1785900314-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-05T102428.295.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315277/original/076754200_1785833101-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-04T154035.346.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9312395/original/029328500_1785490278-Screenshot_2026-07-31_154400.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306600/original/019959200_1784885023-PLN_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314474/original/078196200_1785748242-0bwii0CIuyUbhQgT3LDGbb4FPcjbZXXWqlRhHUiU.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9311070/original/068170100_1785387087-0Hw7c1LZOVQY16v9M8hlkVKCQLKBkqMWkSaXx4yJ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315768/original/012348600_1785894816-921.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4212872/original/043197200_1667443511-jim-teo-fHsX0eS5X9Y-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4322695/original/099919600_1676291689-lie-fake-cheat-word-concept_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314461/original/061183100_1785747505-7238e32c-ae27-4572-abf5-aed28a988fda.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4940763/original/078857600_1725937260-Ilustrasi_ngobrol__bicara__komunikasi__menyapa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315406/original/001041700_1785837019-a00ba15d-9b7f-45e3-8166-e6eddc2067fb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314477/original/055473200_1785748246-nIJzsNLwAJ6cNxoz26Xa1NpAvtznlMJTjvTgA5iX.jpg)