Papua Football Academy, Warisan Bumi Cenderawasih untuk Indonesia

Berdiri pada 2022, Papua Football Academy berupaya terus mencetak talenta-talenta berbakat dari Bumi Cenderawasih.

Diterbitkan 15 September 2026, 21:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sapaan selamat pagi datang dari siswa Papua Football Academy (PFA) yang sedang duduk di bangku cadangan ketika Liputan6.com melintas menuju ujung lapangan latihan Mimika Sport Center.

Senyum lebar turut mengembang dari bibir mereka. Sebuah gestur optimis, memperlihatkan semangat besar untuk mewujudkan mimpi.

Pagi itu, Selasa (15/9/2026), mereka tengah menjalani rutinitas dengan mengikuti sesi latihan. Hujan baru saja selesai turun.

Di satu sisi lapangan, Direktur PFA Wolfgang Pikal turun tangan memimpin usia 12-13 tahun. Di sisi lain, Kepala Pelatih PFA Ardiles Rumbiak memimpin latihan pemain 14-15 tahun.

Anak-anak ini datang dari berbagai penjuru Papua. Mereka mulai merajut asa menjadi pemain sepak bola profesional, sembari mengusung misi pribadi membanggakan nama keluarga dan Bumi Cenderawasih.

Para siswa PFA bangun jam 05.00 pagi, menjalani dua sesi latihan pagi dan sore, diselangi kelas analisis taktik serta sekolah akademik.

Rutinitas yang akan membosankan setelah dijalani beberapa bulan, serta menantang karena anak-anak ini jauh dari orang tua. Keceriaan bermain sepak bola juga berkurang. Pasalnya, permainan kerap dihentikan karena pelatih ingin mengoreksi atau menerapkan strategi tertentu.

Tapi mereka tidak menganggapnya sebagai masalah. "Tergantung bagaimana masing-masing kita. Kalau kita tidak ada kemauan, tempatnya bukan di sini. Kalau saya ingin buat nama keluarga harum, maka tempatnya di sini," tegas Yansen Terianus Awi, siswa PFA asal Jayapura.

Pembentukan Karakter dan Suntikan Akademik

PFA, yang diinisiasi PT Freeport Indonesia, tidak hanya membekali siswa dengan kemampuan sepak bola. Karakter mereka turut dibentuk sehingga tercipta perilaku baik yang juga diterapkan di luar lapangan. Salah satunya dengan membersihkan sisa makanan dari piring. Kebiasaan tersebut mereka bawa hingga pulang ke rumah, hingga saat berada di tempat umum.

"Waktu perjalanan Jawa saat makan di restoran, mereka bersikeras membersihkan sisa makanan meski pegawai sudah meminta agar piring dibiarkan saja di meja" cerita Komite PFA Children Safeguarding Nugroho Setiawan.

Bekal lain adalah pelajaran akademik. Pukul 15.00 pada hari kerja, para siswa PFA menimba ilmu agar tidak tertinggal dari teman-teman sebaya di luar.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Salah satu guru yang bertugas adalah Nirmalla Kurniawati. Dia mengajar kimia untuk kelas 10. Sesi berlangsung sehari per pekan selama satu setengah jam. Pada kesempatan itu dia mengajarkan teori atom. "Kalau siswa biasa, mereka pegang HP. Siswa di sini tidak pegang HP, jadi ketika belajar, mereka serius. Daya tangkapnya cepat," ungkap Nirmalla, yang sehari-hari mengajar di SMAN 4 Mimika. "Mereka sudah terbentuk di sini, jadwal sudah tersusun rapi, tidak pegang HP, daya pikir mereka luas karena tidak ada gangguan. Jadi kita pun guru, menyampaikan materi yang mudah di mereka."

Halaman
Show All
Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan