Gagal Lolos Piala Dunia 2026, Timnas Italia Tekor Miliaran Rupiah

Kegagalan Timnas Italia lolos ke Piala Dunia 2026 mengakibatkan kerugian finansial signifikan bagi FIGC.

Diterbitkan 01 April 2026, 16:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Dampak pada Anggaran dan Pendapatan FIGC

Anggaran FIGC untuk tahun 2026, yang telah disetujui beberapa waktu lalu, memperkirakan kerugian sebesar 6,6 juta euro. Presiden FIGC Gabriele Gravina sebelumnya menyatakan bahwa hasil anggaran akan sangat bergantung pada kualifikasi Piala Dunia, yang diharapkan akan memberikan dampak sangat positif.

Meskipun anggaran disusun secara hati-hati tanpa memperhitungkan manfaat partisipasi karena kualifikasi masih bergantung pada babak play-off, absennya Timnas Italia kini membuat proyeksi tersebut menjadi kenyataan. Namun, FIGC memiliki rekam jejak dalam menjaga keseimbangan manajemen, di mana pendapatan yang lebih rendah akan menyebabkan biaya yang lebih rendah.

Tim nasional telah menjadi sumber pendapatan utama bagi Federasi, menyumbang sekitar 60 persen dari total pendapatan FIGC. Pada tahun 2021, FIGC mencatat pendapatan rekor 230 juta euro, dengan 126 juta euro di antaranya berasal dari kesuksesan menjuarai Euro 2020.

Meskipun Italia berhasil membukukan keuntungan pada dua kesempatan sebelumnya saat gagal lolos Piala Dunia (2018 dan 2022), absennya untuk ketiga kalinya secara berturut-turut kali ini merampas pendapatan signifikan yang seharusnya dapat diinvestasikan kembali ke seluruh gerakan sepak bola Italia.

Penalti Sponsor dan Potensi Komersial yang Hilang

Klausul penalti dalam kontrak sponsor menjadi salah satu penyumbang terbesar kerugian finansial FIGC, dengan total pengurangan diperkirakan mencapai 9,5 juta euro. Penalti ini secara otomatis terpicu karena kegagalan Timnas Italia memenuhi syarat untuk Piala Dunia.

Segmen komersial FIGC sebenarnya telah menunjukkan pertumbuhan yang kuat dalam beberapa tahun terakhir. Pendapatan dari sponsor dan iklan yang terkait dengan tim nasional meningkat dari rata-rata 42 juta euro per tahun pada siklus 2015-2018 menjadi 49 juta euro pada 2019-2022, dan bahkan melampaui 70 juta euro pada periode 2023-2026, dengan puncaknya mencapai 81 juta euro pada tahun 2024.

Perjanjian dengan sponsor teknis Adidas, yang menggantikan Puma hingga tahun 2030, juga telah meningkatkan gaji pokok dari 22 juta euro menjadi 30-35 juta euro per tahun, serta royalti minimum yang dijamin untuk produk yang terjual, menghasilkan total 11 juta euro pada tahun 2024.

Namun, kurangnya pertumbuhan penjualan merchandise dan kegagalan dalam negosiasi kesepakatan sponsor baru akibat absennya timnas dari Piala Dunia menyebabkan kerugian tambahan sekitar 10 juta euro. Pasar Amerika Serikat, yang sangat strategis bagi Adidas, juga kehilangan momentum penting untuk promosi melalui ajang Piala Dunia.

Hilangnya Bonus Partisipasi FIFA

FIFA memberikan bonus partisipasi kepada setiap negara yang berhasil lolos ke Piala Dunia, berdasarkan hasil yang dicapai. Untuk partisipasi saja, tim akan menerima 9 juta euro.

Jumlah ini akan meningkat secara signifikan seiring kemajuan tim dalam turnamen. Sebagai contoh, tim yang lolos dari babak penyisihan grup akan menerima 11 juta euro, mencapai babak 16 besar akan mendapatkan 14 juta euro, dan perempat finalis akan memperoleh 18 juta euro. Pemenang turnamen bahkan bisa membawa pulang hingga 45 juta euro.

Dengan absennya Timnas Italia, FIGC secara langsung kehilangan pendapatan minimal 9 juta euro, belum termasuk potensi pendapatan yang jauh lebih besar jika tim berhasil melaju di fase gugur.

Meskipun hak siar TV tidak terpengaruh karena FIGC menerima bagian dari nilai pertandingan Italia melalui perjanjian negosiasi terpusat dengan UEFA, hilangnya bonus FIFA tetap menjadi kerugian besar.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan