Rupiah Hari Ini Tersungkur ke 18.135, Ekonom Ungkap Penyebabnya

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih tertekan hingga tembus 18.100 pada Senin, (26/10/2026).

Diterbitkan 26 Oktober 2026, 19:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot pada penutupan perdagangan Senin, (26/10/2026). Bahkan, rupiah menyentuh 18.135 per dolar AS.

Mengutip Antara, rupiah turun 55 poin atau 0,30% menjadi 18.135 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 18.080 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga bergerak melemah ke level Rp 18.116 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 18.069 per dolar AS.

Ekonom Bank Danamon, Faiz Irman menuturkan, pelemahan rupiah mencerminkan kombinasi tekanan global dan risiko domestik. Harga minyak yang masih tinggi meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi sekaligus menjaga risiko inflasi global, sehingga suku bunga AS berpotensi bertahan tinggi lebih lama. Investor juga cenderung berhati-hati menjelang keputusan The Federal Reserve (the Fed) pekan ini.

"DXY index berada sekitar 101,8, masih menunjukkan resiliensi sementara ketidakpastian MSCI menambah risiko penjualan saham asing dan repatriasi dana,” ujar Faiz saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menambahkan, surplus perdagangan yang menyempit juga mengurangi bantalan pasokan devisa, membuat rupiah lebih sensitif terhadap perubahan arus modal.

Secara ekonomi, Faiz menuturkan, koreksi rupiah ini dapat dijelaskan oleh perubahan kondisi eksternal dan meningkatnya premi risiko Indonesia.

"Investor membutuhkan kompensasi lebih besar untuk memegang aset rupiah, yang penyesuaiannya dapat terjadi melalui kenaikan imbal hasil maupun pelemahan kurs.Namun, dapat dijelaskan bukan berarti tekanannya boleh diabaikan,” kata dia.

Ia mengatakan, hal yang perlu dicermati adalah kecepatan pelemahan, likuiditas pasar valas, dan keberlanjutan arus keluar modal.

"Dalam skenario MSCI kami, potensi penjualan saham asing mencapai US$ 2,9–US$ 5,8 miliar. Angka ini merupakan skenario bersyarat apabila penghapusan dari indeks terjadi, termasuk penyesuaian investor aktif, bukan estimasi dana yang langsung keluar saat ini,” kata Faiz.

 

Kekhawatiran terhadap Fiskal Indonesia

Sementara itu, Analis Mata Uang Ibrahim Assuabi menuturkan, pelemahan rupiah itu dipengaruhi kekhawatiran terhadap fiskal Indonesia kembali meningkat seiring kenaikan harga minyak global.

"Kenaikan harga minyak berpotensi memperlebar defisit APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) melalui peningkatan biaya impor minyak dan beban subsidi energi serta kompensasi kepada Pertamina,” kata Ibrahim mengutip Antara, Senin pekan ini.

Mengutip Anadolu, harga minyak dunia melonjak pada Jumat, 23 Oktober 2026 dengan minyak mentah Brent mencapai level tertinggi sejak Juni 2022, di tengah kekhawatiran serangan baru AS terhadap Iran dan meningkatnya ketegangan regional yang mengancam pasokan energi.

Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, naik 2,7% atau US$ 3,06 menjadi US$ 116,20 per barel sejak Jumat, 23 Oktober 2026 pukul 13.50 GMT, melampaui level tertinggi yang tercatat pada awal perang.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi acuan AS, menguat 3,04% atau US$ 3,02 dolar AS menjadi US$ 102,50 per barel, level tertinggi dalam lima pekan terakhir.

 

Harga Minyak

Sepanjang pekan lalu, harga Brent telah meningkat sekitar 5%, sedangkan WTI naik sekitar 3%. Kenaikan tersebut membuat kedua acuan harga minyak itu berpeluang mencatat penguatan mingguan selama tiga pekan berturut-turut.

Lonjakan harga minyak terjadi seiring meningkatnya perkiraan Washington dapat kembali melancarkan serangan terhadap Iran dalam beberapa pekan mendatang. Presiden AS Donald Trump pada Kamis, 22 Oktober 2026 mengatakan negaranya mungkin akan melakukan serangan tambahan terhadap Iran.

Para pejabat AS dan Zionis Israel disebut telah menyusun rencana untuk melancarkan kembali serangan setelah pemilihan umum paruh waktu AS.

Selain itu, ketegangan regional juga meningkat ketika kelompok Ansarullah di Yaman terus melancarkan serangan terhadap Arab Saudi, sehingga memicu kekhawatiran mengenai ancaman terhadap infrastruktur energi. Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan personel yang tidak memiliki tugas penting untuk meninggalkan Arab Saudi.

“Meskipun kenaikan harga minyak dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor migas, manfaat tersebut berpotensi tidak cukup untuk mengimbangi kenaikan belanja energi, terutama apabila harga BBM (bahan bakar minyak) domestik tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi,” ujar Ibrahim.

Dengan demikian, persistensi harga minyak yang tinggi dapat dinilai mempersempit ruang fiskal dan meningkatkan risiko terhadap pencapaian target defisit APBN.

 

Biaya Impor

Apabila merujuk pada sensitivitas APBN 2026 terhadap perubahan asumsi dasar ekonomi makro, kata dia, kenaikan yield SBN (Surat Berharga Negara) dan depresiasi rupiah adalah dua dari tiga asumsi makro yang sensitif terhadap pelebaran defisit APBN.

Kenaikan setiap 0,1% yield SBN dapat memperlebar defisit sebesar Rp 1,9 triliun, sedangkan depresiasi rupiah setiap Rp100 per dolar AS bisa menambah defisit Rp 800 miliar.

Apa yang menjadi masalah, menurut Ibrahim , yaitu gejolak pada yield SBN dan rupiah dibarengi dengan kenaikan asumsi Indonesian Crude Price (ICP) yang memiliki sensitivitas terbesar kepada defisit APBN. Setiap kenaikan 1 dolar AS per barel dinyatakan dapat memperlebar defisit hingga Rp 6,8 triliun.

“Asumsi ICP sampai dengan akhir September 2026 sudah meleset jauh dari target APBN US$ 70 per barel ke US$ 91,9 per barel,” ujar dia.

“Biaya impor energi bisa membuat kantong negara semakin kering, hal ini terbukti dari belanja subsidi dan kompensasi sampai 30 September 2026 yang telah mencapai Rp 376,8 triliun atau naik 54,1% (year on year/YoY),” ia menambahkan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6