Danantara Ungkap Skema Penutupan 750 Perusahaan BUMN

Danantara berharap dapat menutup sekitar 750 BUMN pada akhir 2026.

Diterbitkan 26 Oktober 2026, 14:31 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Danantara Indonesia menargetkan penutupan, penggabungan, dan konsolidasi 750 perusahaan terkait badan usaha milik negara (BUMN) hingga akhir 2026. Langkah ini menjadi bagian dari restrukturisasi untuk memangkas tumpang tindih usaha, menekan inefisiensi, dan meningkatkan kinerja perusahaan pelat merah.

COO Danantara Indonesia Dony Oskaria mengatakan, Danantara mengelola 1.074 perusahaan terkait BUMN. Namun, sebagian perusahaan memiliki struktur berlapis dan kegiatan usaha yang tumpang tindih sehingga membebani kinerja grup.

“Kami berharap pada akhir tahun ini dapat menutup setidaknya 750 perusahaan (BUMN) di bawah Danantara Indonesia melalui konsolidasi, merger, divestasi, dan likuidasi, ujar Dony dalam Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Senin (26/10/2026).

Dony mengungkapkan, sekitar 52% perusahaan dalam portofolio tersebut mencatat kerugian dengan total mencapai Rp 23 triliun per tahun. Danantara juga memperkirakan inefisiensi akibat struktur perusahaan berlapis mencapai US$ 2 miliar per tahun.

“Lebih mudah bagi saya mengelola delapan perusahaan yang menyumbang 97% dividen daripada mengelola 1.074 perusahaan,” lanjutnya.

Untuk merampingkan struktur, Danantara menyiapkan sejumlah skema, mulai dari konsolidasi perusahaan, likuidasi, restrukturisasi keuangan, hingga penataan entitas yang tidak lagi sesuai dengan bisnis inti. Rencana tersebut mencakup sekitar 200 perusahaan untuk dikonsolidasikan, 213 perusahaan untuk dilikuidasi, 15 perusahaan untuk direstrukturisasi secara keuangan, serta sekitar 280 entitas noninti untuk ditata.

 

364 Perusahaan Telah Dirampingkan

Danantara menyebut sekitar 364 perusahaan telah dirampingkan dalam 18 bulan terakhir. Danantara juga menargetkan jumlah perusahaan dalam portofolio-nya turun menjadi kurang dari 200 pada 2029–2030.

"Kalau kita gagal mengelola BUMN dengan baik, tidak akan ada lagi Danantara Indonesia. Kuncinya adalah bagaimana kita meningkatkan kualitas BUMN,” kata Dony.

Restrukturisasi tersebut juga mulai diarahkan pada peningkatan kinerja operasional. Dony menyebut laba bersih Semen Indonesia meningkat 427% dan Telkom meningkat 233%. Sementara itu, penggabungan tiga entitas bisnis hilir Pertamina menghasilkan penghematan sekitar US$ 1 miliar atau Rp 18,12 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 18.130 per dolar AS) dalam enam bulan.

Danantara menargetkan laba bersih BUMN mencapai Rp 360 triliun pada 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 200 triliun ditargetkan masuk ke kas negara.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6