Zulkifli Hasan: Tidak Ada Negara Maju Tanpa Swasembada

Zulkifli Hasan tegaskan pangan bukan sekadar nasi di piring, tapi soal peradaban.

Diterbitkan 04 September 2026, 17:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (Zulhas), menegaskan pentingnya kemandirian pangan sebagai fondasi utama kemajuan sebuah bangsa. Menurutnya, kedaulatan pangan berhubungan langsung dengan kehidupan para produsen di sektor tersebut.

"Tidak ada negara yang maju tanpa swasembada. Oleh karena itu, Pak Prabowo mengatakan swasembada itu kehormatan,” tegas Zulhas di Jakarta, dikutip dari Antara, Jumat (4/9/2026).

Pesan tersebut disampaikan dalam peluncuran buku berjudul Pangan Indonesia: Dari Piring Sehat ke Manusia Unggulyang ditulis Zulhas bersama Dirgayuza Setiawan, Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analisa Kebijakan.

Lewat buku ini, masalah pangan yang terkesan rumit dikemas agar lebih ramah dibaca masyarakat luas, mencakup sudut pandang kebijakan hingga kedaulatan bangsa.

"Tidak hanya makan itu sekadar nasi di piring, lauk di piring. Tapi kita akan mulai memahami betapa penting soal makan. Karena itu akan menyangkut soal kedaulatan, peradaban kita, masa depan kita," kata Zulhas.

Kondisi ketahanan pangan Indonesia memang terus bergerak positif. Pada Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan Indonesia telah berhasil mencapai swasembada untuk delapan komoditas utama, yaitu beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. 

Pemerintah kini mengejar target swasembada komoditas lain, seperti bawang putih yang diproyeksikan tuntas dalam tiga tahun, serta daging sapi dan kerbau dalam kurun lima hingga enam tahun.

Kesejahteraan Produsen

Kesejahteraan produsen pangan juga menunjukkan tren menguat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2026 mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) nasional berada di angka 129,19, atau naik 1,05% dari bulan sebelumnya.

Di saat bersamaan, Nilai Tukar Nelayan (NTN) turut merangkak naik 0,50% menjadi 109,04. Kenaikan ini ditopang oleh membaiknya harga komoditas tangkapan seperti ikan tongkol, kembung, teri, dan udang laut.

Meski indikator membaik, Zulhas menggarisbawahi perlunya penguatan posisi tawar nelayan saat menjual hasil tangkapan.

"Nelayan itu karena dia tidak punya daya tawar, tidak punya pendukung, dia serajin apa pun kalau dapat ikan dia tidak punya daya tawar, tetap ditawarnya rendah, harganya murah, kalau nggak ikannya busuk," ujar Zulhas.

Guna mengatasi persoalan ini, pemerintah gencar memperluas program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Hingga Agustus 2026, sebanyak 100 lokasi telah terbangun dari total target 1.386 kampung nelayan yang siap beroperasi pada akhir Desember 2026.

Pemikiran Melandasi Penulisan Buku

 

Pada kesempatan yang sama, Dirgayuza Setiawan menceritakan salah satu pemikiran yang melandasi penulisan buku ini datang dari pidato bersejarah Presiden pertama RI, Soekarno, saat meresmikan Kampus IPB Bogor.

"Jadi saya terinspirasi bersama Pak Zul menulis ini setelah membaca secara lengkap pidato Presiden Soekarno saat membuka Kampus UI Cabang Bogor, yaitu IPB sekarang," jelas Dirgayuza.

Ia menambahkan, ide tersebut menekankan bahwa jumlah konsumsi dan kapasitas produksi adalah dua hal berkesinambungan yang menentukan kemandirian suatu negara.

"Pidato itu sangat kuat matematikanya karena Presiden Soekarno merasa ujungnya matematik. Berapa yang kita konsumsi itu menentukan berapa yang harus kita produksi," urainya.

Melalui pendekatan yang lekat dengan keseharian masyarakat ini, Zulhas berharap kesadaran publik akan krusialnya swasembada pangan, baik bagi ekonomi, nasib petani-nelayan, hingga masa depan Indonesia dapat terus meningkat.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6