Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan swasembada pangan menunjukkan kehormatan suatu bangsa. Jika sumber pangan Indonesia hanya tergantung impor akan berdampak luas terhadap ekonomi Indonesia.
Zulkifli Hasan menuturkan, pangan mungkin sudah dianggap biasa karena hanya berkaitan dengan makanan sehari-hari. Padahal dibalik sumber pangan itu berasal kalau diketahui lebih lanjut sebagian dari impor, seperti beras hingga sapi.
"Kalau saudara mengikuti hampir semua makanan kita ini impor. 2024, impor beras 4,5 juta ton. Sudah biasa, kalau tidak ada beras impor saja. Begitu juga sapi. Satu juta satu tahun, satu juta ekor sapi. Kedelai itu 4 juta impor. Rata-rata gula 6 juta impor. Gandum oke, karena tidak bisa tumbuh,” kata Zulkifli saat acara peluncuran buku Pangan Indonesia yang ditulis oleh Zulkifli Hasan dan Dirgayuza Setiawan, di JCC, Jakarta, Jumat (4/9/2026).
Advertisement
Zulkifli menambahkan, makanan itu mencerminkan suatu perabadan bangsa yang dapat terlihat di swasembada pangan. “Tidak ada negara maju tanpa swasembada. Pak Prabowo menuturkan, swasembada kehormatan. Kehormatan siapa? Kita sebagai suatu bangsa, keluarga kita, kehormatan petani, nelayan, peternak kita,” ujar Zulkifli.
Ia mencontohkan, nelayan yang menghadapi persoalan kesejahteraan yang berdampak terhadap produktivitas sektor perikanan. Zulkifli mengungkapkan nilai tukar nelayan berada di angka 103, yang masih relatif rendah dan sebagai salah satu kelompok tertinggal karena masuk desil 1. Jika hal itu dibiarkan, Zulkifli menuturkan, Indonesia menjadi bangsa yang tidak bertanggung jawab. Ia mengatakan, jika nelayan Indonesia lemah akan berdampak terhadap nilai tawar nelayan Indonesia karena tidak memiliki pendukung.
"Kalau nelayan kita lemah, ikan kita dicuri Rp 200 triliun per tahun. Nelayan Jepang merupakan nelayan tangguh karena punya kapal besar. (Nelayan-red) kita tidak punya, kita hanya dekat, hanya kapal kecil. Apa yang terjadi?, dia tidak punya daya tawar. Tidak punya pendukung. Kalau dapat ikan, harganya murah, kalau enggak ikan busuk,” kata dia.
Ibarat Sebuah Surat Cinta
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340207/original/025827300_1788493897-Peluncuran_Buku_Menko_Pangan_Zulkifli_Hasan_4_September_2026.jpeg)
Penulis Buku Pangan Indonesia, Dirgayuza Setiawan menuturkan, buku ini menjadi sebuah surat cinta kepada makanan yang setiap hari ada di meja makan. Ia mencari tahu mengenal asal usul makanan tertentu. “Jadi tidak sekadar kita lihat ayam sebagai contoh. Ayam yang kita makan hari ini 90% lebih adalah ayam broiler di Indonesia. Ayam itu ternyata adalah hasil kontesi di Amerika tahun 1952. Nama kontesnya Chicken of the Future,” kata dia.
Ia menceritakan, ketika itu banyak peternakan menjajakan ayam untuk menjadi standar ayam dunia, dan dipilih satu jenis ayam yang sekarang dikonsumsi sebagai ayam broiker.
"Ketika konsumen kita pergi ke supermarket,ataupun pasar tradisional,ayam broiler bentuknya seperti itu. Kalau dibudidayakan selama sekian hari, bentuknya, ukurannya konsisten. Ini yang berbeda dengan ayam kampung,” kata dia.
Ia menambahkan, dalam dua buku itu disebutkan, dua perusahaan yang menjaga genetika ayam broiler yakni perusahaan Amerika Serikat dan Prancis. “Dan kita ya impor grandparent stock kita dari mereka akhirnya. Karena standar ayam yang dipikirkan oleh konsumen kita adalah ayam broiler pemenang kontes Chicken of the Future,” kata dia.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324106/original/075794500_1786690114-cek_fakta_-_alat_pertanian_tanam_padi_hingga_traktor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339837/original/071003300_1788430175-alat_pertanian_-cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336533/original/011425200_1788164909-cek_fakta_pppk_kemenag.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9302055/original/028598000_1784530995-Presiden_ke-7_Jokowi_kumpulkan_teman_kuliah.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340206/original/020324000_1788493870-Peluncuran_Buku_Menko_Pangan_Zulkifli_Hasan_4_September_2026a.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1412168/original/032906400_1479724398-Indonesia.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339978/original/052118400_1788438197-photo_6109495609271193752_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339940/original/070131800_1788436487-photo_6109495609271193743_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339490/original/078425800_1788418385-ICv51arM9s0mRAcXIh67iczUu1vwwzB6n8aTRWKM1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339858/original/078030200_1788431042-photo_6109495609271193700_w.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9325123/original/016867900_1786813553-WhatsApp_Image_2026-08-15_at_08.04.53.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339979/original/005407100_1788438770-WhatsApp_Image_2026-09-03_at_17.15.03.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339935/original/000619700_1788436286-APINDO-3_September_2026a.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4922913/original/081787900_1724128219-Untitled.jpg)