19 Eksportir Walet Masih Kena Suspend Barantin Gegara Zat Terlarang

Sanksi penghentian sementara izin ekspor dilakukan karena eksportir walet tersebut melakukan pelanggaran dan kecurangan meski sudah diberi peringatan.

Diterbitkan 21 Agustus 2026, 13:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding memastikan, sebanyak 19 eksportir walet masih menjalani sanksi penghentian sementara (suspend) ekspor ke China.

Sanksi penghentian sementara izin ekspor dilakukan karena perusahaan tersebut melakukan pelanggaran dan kecurangan meski sudah diberi peringatan berulang kali.

 

"Sebenarnya bukan penghentian ya, ekspor sarang walet ini masih berjalan. Jadi dari 57 perusahaan yang ada di Indonesia, yang di-suspend ada 19,"ungkap dia saat dalam pelepasan ekspor bertajuk 'Merdeka Ekspor Karantina Banten', di Kantor Barantin Banten, di kawasan Perkantoran Bandara Soekarno Hatta, Jumat (21/8/2026).

Kecurangan yang dilakukan antara lain terkait kandungan aluminium yang mencapai 1.000, padahal hal tersebut dilarang dalam kegiatan ekspor. Temuan tersebut juga terdeteksi otoritas pengawas ekspor-impor China.

"Itu berarti pasti menggunakan zat-zat tertentu untuk pemutih. Pasti ada treatment treatment supaya ini kelihatan bagus. Jadi putih, jadi jernih. Ini kan istilah walet ini emas putih ya. Nah, mereka ingin diampelas putih, bersih, dan sebagainya. Standar-standar seperti itu enggak diperbolehkan," tegas Karding.

 

Dalam kesempatan tersebut, Balai Karantina Banten juga menggelar pelepasan ekspor beberapa komoditas senilai Rp 40,8 miliar ke berbagai negara tujuan, salah satunya pasar Asia Timur.

Komoditas diekspor antara lain burung walet, buah manggis, dan kepiting yang seluruhnya berasal dari Provinsi Banten.

 

Kinerja Ekspor Banten

Kepala Barantin Banten, Dumasari menuturkan, ada peningkatan kinerja ekspor yang signifikan pada periode Januari hingga Agustus 2026, jika dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

"Untuk sektor karantina hewan, terjadi lonjakan kinerja ekspor sebesar 37,21% dengan komoditas unggulan meliputi sarang burung walet, reptil, satwa liar, hingga vaksin," ujarnya.

Kenaikan sangat drastis terjadi di sektor karantina ikan yang mencatatkan nilai mendekati Rp 4 triliun atau melonjak hingga 27%, setara empat kali lipat dibanding tahun 2025. Komoditas utama sektor ini mencakup ikan hias air tawar, kepiting, koral, dan ikan hias air laut.

"Lalu, sektor karantina tumbuhan, nilai ekspor mencatatkan pertumbuhan 25,4 persen dengan komoditas andalan seperti buah manggis, buncis, rambutan, hoya, dan salak,"katanyan

Secara keseluruhan, pasar komoditas asal Banten masih didominasi negara-negara Asia Timur seperti Cina, Hong Kong, dan Taiwan. Pasar Asia Tenggara seperti Vietnam dan Singapura serta Amerika Serikat juga terus menyerap komoditas unggulan Banten.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6