CEO Shein Sky Xu Jaga Privasi hingga Tak Dikenali Karyawan

Pendiri dan CEO Shein, Sky Xu, yang sangat tertutup hingga mendapatkan julukan CEO paling anonim mulai disorot jelang IPO perusahaannya.

Diterbitkan 05 Agustus 2026, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pendiri dan CEO salah satu perusahaan mode terbesar Shein, Sky Xu (42), memiliki kepribadian sangat tertutup sehingga mendapat julukan “CEO paling anonim,” tapi pebisnis kelahiran China ini mulai mendapat perhatian menjelang peluncuran Initial Public Offering (IPO) perusahaannya. 

Melansir VnExpress, Rabu (5/8/2026), Shein, perusahaan yang didirikan di China dan berkantor pusat di Singapura baru-baru ini mendapat izin dari Beijing untuk meluncurkan IPO di Hong Kong. Ini adalah upaya IPO ketiganya.

Izin ini didapatkan setelah Xu melakukan penampilan publik pertamanya dalam sebuah acara kepemerintahan Februari. Dia menekankan akar sejarah Shein di provinsi selatan Guangdong dan mengapresiasi pihak berwenang yang mendukung pertumbuhan perusahaannya.

Lantaran, sebelum itu Xu selalu menghindari perhatian publik dan menjaga kesederhanaan, bahkan jika dibandingkan dengan pengusaha teknologi yang baru, di mana sebagian besar dari mereka menghindari mengungkap hal personal.

Kecenderungan unik Xu ini sudah terdokumentasikan secara luas, contohnya kejadian di mana karyawannya sendiri tidak mengenalinya.

Wall Street Journal (WSJ), yang memberinya julukan “CEO paling anonim” di judul artikelnya pada 2023, menceritakan kembali insiden di mana Xu naik elevator di kantor Shein Guangzhou bersama seorang penasihat senior dan segerombol karyawan.

Saat penasihat itu terkejut karena karyawan di sana terlihat tidak mengenali CEO mereka, Xu hanya menjawab bahwa itu bukan budaya mereka.

Identitas Xu Buat Bingung Publik

Shein belum pernah merilis foto resmi Xu. Bahkan, foto profil internalnya tidak menunjukkan wajahnya, sedangkan diisi oleh slogan “jika Anda memiliki mimpi, Anda luar biasa” di atas foto lanskap alam, menurut laporan South China Morning Post tahun 2024.

Karyawan yang gemar membuat meme bos mereka, suatu kebiasaan di industri teknologi China, hanya bisa membuat meme berbasis teks.

Selain itu, WSJ melaporkan pada 2023, foto yang sering digunakan dalam artikel berbahasa China tentang Xu sebenarnya adalah pengusaha lain yang kebetulan memiliki nama yang sama.

 

Perjalanan Karier Xu

The Atlantic juga memverifikasi pada 2024 bahwa foto lain Xu, yang kerap muncul di artikel berbahasa Inggris dan hasil pencarian Google, adalah seorang profesor teknik Cornell University yang juga memiliki nama Chris Xu.

Faktor lain yang membingungkan mengenai Xu adalah namanya. Sebelumnya, dia menggunakan nama Chris, lalu diubah menjadi Sky, yang diambil dari salah satu karakter di nama China nya, Xu Yangtian.

Perjalanan Karier

Berdasarkan pernyataan media, detail dari Shein beserta prospektus awalnya, Xu dilahirkan oleh dua buruh pabrik di Shandong pada 1984. Dia lulus dari Qingdao University of Technology dengan gelar sarjana perdagangan internasional.

Xu sempat bekerja untuk perusahaan marketing dan bertugas membantu mendorong arus pencarian situs web dan mengembangkan keahlian dalam search engine optimization (SEO), menurut The Guardian.

Kemudian Xu pindah ke Nanjing dan meluncurkan ventura e-commerce pada 2008, di mana dia menjual produk secara langsung ke konsumen. Dia menggandeng tiga rekan setahun kemudian untuk mendirikan bisnis daring lainnya sebelum akhirnya meluncurkan situs SheInside pada tahun 2012 untuk menjual gaun pernikahan.

Tiga tahun kemudian, Xu dan ketiga rekannya, Molly Miao, Maggie Gu, dan Tony Ren, memperluas kategori produk perusahaan mereka, dan melakukan rebranding menjadi Shein serta meluncurkan bentuk aplikasinya.

Xu memiliki jabatan CEO, sedangkan Miao menjabat sebagai chief marketing officer, Gu sebagai general manager, dan Ren sebagai chief supply chain officer, berdasarkan prospektus awal Shein.

 

Menjadi Miliarder

Kesuksesan Shein telah membuat keempat rekan kerja itu menjadi miliarder, menurut Forbes, yang mengestimasikan kekayaan Xu sebesar US$ 6 miliar, atau Rp 107,5 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.926).

Namun, Bloomberg mengatakan bahwa kekayaannya berkisar US$ 10,5 miliar, atau Rp 188,2 triliun. Sebelumnya, mereka mengestimasikan kekayaan bersihnya sebesar US$ 23,5 miliar, atau Rp 421,2 triliun pada tahun 2020. Kala itu, Shein bernilai US$ 100 miliar, atau Rp 1,79 kuadriliun.

Semenjak itu, valuasi Shein merosot melalui beberapa putaran penggalangan dana lanjutan dan kini dilaporkan berada di bawah tekanan untuk menurunkannya lebih lanjut menjadi sekitar US$ 30 miliar, yakni Rp 537,7 triliun.

Shein memindahkan kantor pusatnya ke Singapura pada 2022, meskipun pemasok dan gudangnya tetap berada di China. Xu dikabarkan menjadi warga tetap Singapura.

Reuters mengungkap dia adalah salah satu kolektor koin antik yang paling aktif dan kerap terjun langsung ke dalam kegiatan operasional Shein meskipun merupakan perusahaan besar. Dia digambarkan sebagai individu yang penyabar, sederhana, dan pragmatis.

 

 

 

 

Xu Berambisi Dongkrak Keuntungan saat IPO

Orang-orang yang pernah bekerja dengan Xu mengatakan kepada SCMP kerahasiaannya berakar dari kepribadiannya dan kepercayaan perhatian publik akan menambah beban penilaian Shein.

Pun demikian, hal itu tidak dapat dihindari jika perusahaan mengejar penawaran saham yang sangat menonjol.

Prospektus saham Shein menunjukkan  mengalami kerugian bersih sebesar US$ 99 juta, atau Rp 1,7 triliun pada kuartal pertama 2026. Padahal, tahun lalu mereka mendapat keuntungan sebesar US$ 359 juta, atau Rp 6,4 triliun saat pendapatan bersih naik 1,1% ke US$ 9,05 miliar, atau Rp 162,2 triliun.

Selama 2025, perusahaan tersebut melaporkan peningkatan hampir 8% di penghasilan bersih ke US$ 41,85 miliar, atau Rp 750,2 triliun, meskipun keuntungan bersih turun 38,7% ke US$ 2 miliar, atau Rp 35,8 triliun.

Mereka berencana untuk meningkatkan US$ 2-3 miliar, atau Rp 35,8-Rp 53,7 triliun pada peluncuran IPO, yang berpotensi dimulai Agustus, demikian dari laporan Bloomberg.

Seiring melambatnya pertumbuhan dan menurunnya keuntungan, para analis semakin menilai Shein sebagai pengecer pakaian konvensional, bukan lagi sebagai pengganggu rantai pasokan berbasis teknologi seperti yang pernah dipandang sebelumnya.

Xu, bagaimanapun, tetap menunjukkan keyakinan terhadap masa depan perusahaan.

“Kami yakin bahwa, seiring dengan gelombang pembangunan berkualitas tinggi di Guangdong, Shein dapat bersama-sama dengan wilayah yang dinamis ini menjadikan ‘made in Guangdong’ sebagai standar global bagi industri mode,” katanya dalam acara pada Februari, dikutip dari Financial Times.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6