Rupiah Hari Ini Kembali Melemah ke 18.000 Imbas Defisit Neraca Dagang

Sentimen domestik menekan laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa, (4/8/2026).

Diterbitkan 04 Agustus 2026, 18:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar (kurs) rupiah berbalik arah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa, (4/8/2026) dibandingkan perdagangan kemarin. Analis menilai, kurs rupiah tertekan seiring defisit neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026.

Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 30 poin atau 0,17% menjadi 18.027 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya 17.997 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak melemah di level 18.037 per dolar AS dari sebelumnya 17.991 per dolar AS.

"Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juni 2026 defisit US$ 450 juta dolar AS,” ujar dia dikutip dari Antara.

Defisit pada Juni 2026 terutama disebabkan oleh defisit pada komoditas migas sebesar US$ 3,49 miliar dengan komoditas utama penyumbang defisit pada migas yaitu hasil minyak dan minyak mentah. Defisit terjadi karena kinerja ekspor yang tercatat US$ 5,46 miliar lebih rendah dibandingkan impor yang tercatat sebesar US$ 25,91 miliar per Juni 2026.

Sementara itu, posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir Juli 2026 berada di level US$ 145 miliar. Penurunan cadev disebabkan keperluan stabilitas nilai tukar rupiah dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Posisi cadangan devisa ini turun dari posisi tertingginya, yakni 156,5 miliar dolar AS pada akhir Desember 2025.

“Sikap hati-hati juga masih mewarnai pasar menjelang rilis data PDB (Produk Domestik Bruto) kuartal kedua pada hari Rabu, 5 Agustus 2026 mengingat pasar mengantisipasi pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan lonjakan 5,6 persen pada kuartal sebelumnya,” ujar dia.

Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2026 akan melambat, diperkirakan berada di bawah 5,6%, tetapi tidak jauh dari 5,4%.

 

 

Perlambatan Ekonomi

Perlambatan ekonomi disebabkan tekanan eksternal seperti harga minyak mentah yang tinggi, eskalasi geopolitik, dan capital outflow dari pasar keuangan domestik.

Melihat sentimen global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur AS pada Juli meningkat dari 53,3 menjadi 55,6, melampaui perkiraan 54.

“Laporan tersebut menunjukkan permintaan yang berkelanjutan, kejelasan tentang tarif, dan hilangnya gangguan pasokan terkait Perang Teluk, yang meningkatkan permintaan di pasar kerja,” ujar Ibrahim.

Pembukaan Rupiah

Sebelumnya, nilai tukar rupiah kembali melemah pada awal perdagangan Selasa (4/8/2026). Mata uang Garuda turun 32 poin atau 0,18% menjadi 18.029 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di level 17.997 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai tekanan terhadap rupiah berasal dari kembali naiknya harga minyak dunia yang dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah pada kisaran di 17.980 per doalr AS-18.140 per dolar AS, dipengaruhi oleh global kembali naiknya harga minyak. Kenaikan harga minyak dipengaruhi oleh eskalasi konflik Timur Tengah yang melebar ke sisi produksi kilang minyak," ujarnya dikutip dari Antara, Selasa (4/8/2026).

Menurut Rully, kenaikan harga energi global berpotensi meningkatkan permintaan terhadap dolar AS sekaligus menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Mengutip Kantor Berita Anadolu, harga minyak Brent sempat melonjak sekitar 25% sepanjang Juli 2026 setelah konflik terbaru antara Amerika Serikat dan Iran menggagalkan kesepakatan damai sementara. Kondisi tersebut memicu gangguan pasokan energi, mulai dari Selat Hormuz hingga Laut Merah, sehingga mendorong harga minyak naik dalam beberapa pekan terakhir.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6