Harga Minyak Melonjak Setelah AS-Iran Saling Serang

Harga minyak dunia kembali naik pada Rabu, (29/7/2026) di Asia setelah merosot tajam. Kenaikan harga minyak itu didorong konflik Timur Tengah.

Diterbitkan 29 Juli 2026, 15:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia melonjak tajam saat perdagangan di Asia pada Rabu, (29/7/2026). Kenaikan harga minyak ini seiring kembali memanasnya ketegangan di Timur Tengah setelah Iran melancarkan serangan terhadap pasukan Amerika Serikat (AS). Sementara itu, AS dan Arab Saudi menyerang lokasi-lokasi yang didukung Teheran di Irak.

Mengutip CNBC, Rabu pekan ini, kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman September naik 3,42% menjadi US$ 86,97 per barel. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 3,58% menjadi US$ 82,09 per barel.

"Pasukan Korps Garda Revolusi Islam meluncurkan sejumlah rudal balistik dari Iran dalam upaya serangan mendadak terhadap pasukan AS yang berpangkalan di Timur Tengah," demikian bunyi unggahan di platform X oleh Komando Pusat AS (U.S. Central Command/Centcom).

Pasukan AS dan Saudi juga menyerang sejumlah lokasi logistik dan persenjataan teroris di Irak timur pada Selasa sebagai balasan atas lebih dari 30 serangan pesawat nirawak (drone) dalam tiga hari terakhir yang dilakukan oleh "teroris yang berafiliasi dengan Iran," ungkap Centcom.

Secara terpisah, Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) melaporkan adanya "aktivitas mencurigakan" di Laut Merah melalui unggahan di X. Tanpa memberikan rincian lebih lanjut, badan tersebut menyatakan nakhoda sebuah kapal tanker mendengar suara ledakan saat melintas di wilayah selatan Laut Merah. Peringatan tersebut dikeluarkan pada Selasa, sementara insiden itu sendiri dilaporkan terjadi pada Senin.

Serangan Houthi yang menyasar fasilitas minyak Saudi juga telah memicu kekhawatiran mengenai pasokan. “Serangan Houthi terhadap infrastruktur produksi, penyimpanan, dan pelabuhan minyak dapat mengganggu pasokan di seluruh kawasan,” tutur Penasihat Industri Eksekutif di Xeneta, Bjorn Vang Jensen dalam program "Access Middle East" di CNBC pada Selasa.

 "Lonjakan harga minyak ditambah oleh nada bicara yang cenderung hawkish dari Ketua Kevin Warsh dalam pertemuan FOMC pertamanya sebagai pimpinan The Fed, dan para pedagang masih terpecah pendapat mengenai keputusan bank sentral yang dijadwalkan pada hari Rabu," menurut laporan Kitco.

Harga Minyak Merosot Hampir 5%, Ini Penyebabnya

Sebelumnya, harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026. Koreksi harga minyak terjadi saat Iran melakukan pembicaraan mengenai Selat Hormuz dengan Arab Saudi dan Oman.

Mengutip CNBC, Rabu (29/7/2026), harga minyak Brent yang menjadi acuan internasional, turun 4,8%, dan ditutup ke US$ 84,09 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) merosot 4%, dan ditutup ke level US$ 79,26 per barel.

Diplomat senior Iran, Seyyed Abbas Araqchi, melakukan pembicaraan terpisah melalui sambungan telepon dengan rekan sejawatnya dari Arab Saudi dan Oman, menurut pernyataan kementerian luar negeri yang diunggah di Telegram.

Mereka membahas perlunya "menghilangkan ketidakamanan di Selat Hormuz yang disebabkan oleh tindakan agresif Amerika Serikat," demikian bunyi pernyataan pihak Iran tersebut.

Jeda pertempuran antara AS dan Iran tampaknya masih bertahan pada Selasa, sehingga memunculkan harapan akan adanya de-eskalasi dalam konflik Timur Tengah yang telah mengganggu pasokan energi. Teheran telah membantah laporan yang menyebutkan mereka telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari dengan AS. Akan tetapi, memang terjadi jeda serangan untuk sementara waktu.

Hal ini menyusul laporan mengenai menipisnya persediaan amunisi AS. Presiden Donald Trump yang pada Jumat mengatakan kepada Axios sedang mempertimbangkan "serangan besar-besaran" terhadap Iran, kemudian menunda rencana tersebut di tengah kekhawatiran mengenai stok persenjataan. Hal itu seperti dilaporkan The New York Times.

Saat berbicara kepada para wartawan di dalam pesawat Air Force One pada Senin dalam perjalanan menuju Michigan, Trump menepis anggapan AS kekurangan senjata. Ia mengatakan, militer memiliki persediaan amunisi yang "melimpah".

 

 

Risiko Pasokan Energi

Commonwealth Bank of Australia pada hari Selasa menyatakan penurunan harga minyak baru-baru ini mencerminkan meredanya kekhawatiran akan eskalasi langsung antara AS dan Iran.

Namun, Goldman Sachs memperingatkan risiko terhadap pasokan energi global masih tetap tinggi. Meskipun "jeda dalam permusuhan AS-Iran tampaknya telah meredam ekspektasi bahwa konflik akan meningkat hingga mencakup serangan signifikan terhadap infrastruktur sipil dan energi," demikian pernyataan bank tersebut dalam sebuah catatan, mereka juga memperingatkan bahwa perselisihan terkait jalur pelayaran vital Selat Hormuz "dapat memicu kembali permusuhan."

Para analis Goldman Sachs menyatakan dalam sebuah catatan pada Selasa, harga minyak mentah Brent diperkirakan melandai ke level US$ 80 per barel pada akhir tahun "jika Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya" pada tiga bulan terakhir tahun tersebut.

"Namun, gangguan di Laut Merah dan serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi dapat menjadi sumber risiko baru yang mendorong kenaikan harga minyak mentah serta produk olahannya," tambah para analis.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6