Harga Pertamax Bakal Disesuaikan, Ini Bocoran ESDM

Harga minyak dunia turun di bawah US$ 84 per barel. Kementerian ESDM beri sinyal penyesuaian harga Pertamax.

Diterbitkan 29 Juli 2026, 11:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mengkaji ulang tingkat keekonomian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax. Langkah ini merespons pergerakan harga minyak mentah dunia yang fluktuatif akibat ketegangan geopolitik global.

Penetapan harga Pertamax nantinya bakal memperhitungkan skema Biaya Pokok Penyediaan (BPP) dari Pertamina yang ditambahkan dengan margin keuntungan. Kementerian ESDM pun akan memantau kalkulasi tersebut secara cermat.

"Jadi nanti akan dihitung BPP (biaya pokok penyediaan)-nya Pertamina ditambah keuntungan. Nanti kami dari Kementerian ESDM akan mencoba melihat kira-kira harga yang ini keekonomiannya bagaimana," ujar Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung dikutip dari Antara, Rabu (29/7/2026).

Yuliot menggarisbawahi bahwa fluktuasi harga Pertamax sangat dipengaruhi oleh pasar internasional. Menurutnya, dinamika geopolitik yang tengah berlangsung memicu tingkat ketidakpastian yang tinggi pada harga pasar dunia.

Oleh sebab itu, Kementerian ESDM akan menghitung rata-rata harga minyak global secara berkala. Jika tren rata-rata menunjukkan penurunan dibanding periode sebelumnya, peluang penurunan harga Pertamax oleh Pertamina terbuka lebar.

"Kalau potensi nanti ini harga minyak secara rata-rata turun, ya tentu dari Pertamina akan menyesuaikan harga,” kata Yuliot.

Di pasar internasional sendiri, harga minyak bumi sempat melandai. Mengutip laporan Sputnik, harga minyak dunia merosot lebih dari 2% pada perdagangan Selasa (28/7). Minyak mentah acuan Brent bahkan merosot di bawah level US$ 84 per barel untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli.

Update Harga Minyak Dunia

Harga minyak dunia ditutup melemah pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026. Koreksi harga minyak terjadi saat Iran melakukan pembicaraan mengenai Selat Hormuz dengan Arab Saudi dan Oman.

Mengutip CNBC, Rabu (29/7/2026), harga minyak Brent yang menjadi acuan internasional, turun 4,8%, dan ditutup ke US$ 84,09 per barel. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) merosot 4%, dan ditutup ke level US$ 79,26 per barel.

Diplomat senior Iran, Seyyed Abbas Araqchi, melakukan pembicaraan terpisah melalui sambungan telepon dengan rekan sejawatnya dari Arab Saudi dan Oman, menurut pernyataan kementerian luar negeri yang diunggah di Telegram. 

Mereka membahas perlunya "menghilangkan ketidakamanan di Selat Hormuz yang disebabkan oleh tindakan agresif Amerika Serikat," demikian bunyi pernyataan pihak Iran tersebut.

Jeda pertempuran antara AS dan Iran tampaknya masih bertahan pada Selasa, sehingga memunculkan harapan akan adanya de-eskalasi dalam konflik Timur Tengah yang telah mengganggu pasokan energi. Teheran telah membantah laporan yang menyebutkan mereka telah menyepakati gencatan senjata selama 10 hari dengan AS. Akan tetapi, memang terjadi jeda serangan untuk sementara waktu.

Hal ini menyusul laporan mengenai menipisnya persediaan amunisi AS. Presiden Donald Trump yang pada Jumat mengatakan kepada Axios sedang mempertimbangkan "serangan besar-besaran" terhadap Iran, kemudian menunda rencana tersebut di tengah kekhawatiran mengenai stok persenjataan. Hal itu seperti dilaporkan The New York Times.

Saat berbicara kepada para wartawan di dalam pesawat Air Force One pada Senin dalam perjalanan menuju Michigan, Trump menepis anggapan AS kekurangan senjata. Ia mengatakan, militer memiliki persediaan amunisi yang "melimpah".

Risiko Pasokan Energi Masih Tinggi

Commonwealth Bank of Australia pada hari Selasa menyatakan penurunan harga minyak baru-baru ini mencerminkan meredanya kekhawatiran akan eskalasi langsung antara AS dan Iran.

Namun, Goldman Sachs memperingatkan risiko terhadap pasokan energi global masih tetap tinggi. Meskipun "jeda dalam permusuhan AS-Iran tampaknya telah meredam ekspektasi bahwa konflik akan meningkat hingga mencakup serangan signifikan terhadap infrastruktur sipil dan energi," demikian pernyataan bank tersebut dalam sebuah catatan, mereka juga memperingatkan bahwa perselisihan terkait jalur pelayaran vital Selat Hormuz "dapat memicu kembali permusuhan."

Para analis Goldman Sachs menyatakan dalam sebuah catatan pada Selasa, harga minyak mentah Brent diperkirakan melandai ke level US$ 80 per barel pada akhir tahun "jika Selat Hormuz dibuka kembali sepenuhnya" pada tiga bulan terakhir tahun tersebut.

"Namun, gangguan di Laut Merah dan serangan terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi dapat menjadi sumber risiko baru yang mendorong kenaikan harga minyak mentah serta produk olahannya," tambah para analis.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6