Jurnalis Bali Doa Bersama untuk 5 Wartawan Hilang di Perairan Anak Krakatau

Puluhan jurnalis lintas organisasi di Bali menggelar doa bersama untuk lima pewarta yang hilang saat meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Diterbitkan 13 September 2026, 23:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Jurnalis di Bali menggelar doa bersama pada hari keenam pencarian lima pewarta yang hilang saat meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Mereka berharap seluruh korban segera ditemukan dalam keadaan selamat.

Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Denpasar Dicky Bisinglasi mengatakan doa bersama digelar karena operasi pencarian memasuki hari keenam. Ia berharap upaya pencarian segera membuahkan hasil.

"Karena ini hari keenam, sekiranya operasi SAR tidak diperpanjang, kami semua berharap agar besok pada hari ketujuh bisa ditemukan atau ada hasil yang lebih baik dengan doa-doa yang kita panjatkan hari ini," kata Dicky di Denpasar, Minggu (13/9/2026).

Kegiatan tersebut diinisiasi PFI Denpasar bersama sejumlah organisasi profesi dan kewartawanan di Bali, di antaranya AJI Denpasar, IJTI Bali, IWO Bali, AMSI Bali, SMSI Bali, PENA NTT, dan PWI Bali.

Dicky mengatakan musibah yang menimpa lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut tidak terlepas dari tuntutan kerja jurnalis visual yang membutuhkan gambar langsung dari lokasi kejadian.

"Ada perbedaan yang sangat signifikan terhadap wartawan visual, baik foto maupun video dengan wartawan teks. Dalam logika visual, jika beritanya erupsi Gunung Anak Krakatau, logika visualnya harus dapat minimal gunungnya atau visual erupsinya, rupanya itulah yang menjadi motivasi kelima teman kita," ujarnya.

Menurut Dicky, lima jurnalis yang hilang merupakan pewarta berpengalaman dalam meliput konflik maupun bencana. Salah satunya Ari Basuki dari Merdeka.com yang telah meliput konflik Aceh pada 2003, tsunami pada 2004, hingga konflik Libya.

Namun, ia mengingatkan pengalaman tidak menghilangkan risiko dalam peliputan di wilayah bencana.

"Kembali lagi kepada prinsip wartawan bahwa tidak ada berita seharga nyawa, baik jurnalis visual, teks, maupun radio, ada baiknya kita tetap mempertimbangkan keselamatan diri sendiri, tim, serta kelayakan sarana, seperti kapasitas perahu dan pelampung," tuturnya.

Dicky juga mendorong perusahaan media dan organisasi profesi untuk rutin memberikan pelatihan serta memperkuat mitigasi bencana bagi jurnalis yang bertugas di lapangan.

 

Refleksi Bersama Jurnalis dan Pengelola Media

Kepala LKBN ANTARA Biro Bali Ardi Irawan mengatakan peristiwa tersebut harus menjadi refleksi bersama bagi jurnalis dan pengelola media. Menurut dia, publik juga perlu memahami risiko dan proses kerja jurnalistik di lapangan.

"Sedih sebenarnya mendengar kondisi di luar sana yang mempertanyakan kenapa harus mendekat atau tidak menggunakan teknologi, banyak yang hanya melihat hasilnya, tetapi prosesnya dikesampingkan, padahal yang dilakukan lima ksatria pewarta kita adalah perjuangan," kata Ardi.

Ardi mengajak para jurnalis menyerahkan hasil pencarian kepada Tuhan setelah seluruh upaya dilakukan di lapangan.

"Ini bukan kuasa kita, kita sampaikan kepada Tuhan yang paling berkuasa, kita sudah berusaha semaksimal mungkin, kini saatnya melangitkan doa-doa kita, saya percaya Tuhan punya rahasia, semoga kita mendapat kabar bahagia mereka selamat dan kembali ke keluarga serta organisasinya," ucapnya.

Ketua AJI Denpasar Kadek Novi Febriani juga menekankan pentingnya peristiwa tersebut menjadi pembelajaran bersama bagi jurnalis, khususnya dalam menerapkan mitigasi keselamatan kerja saat bertugas.

"Ini menjadi refleksi bersama bagaimana agar saat bekerja ke depan kita selalu melakukan mitigasi risiko, meskipun bencana kadang tidak bisa dihindari," ujar Novi.

Doa bersama berlangsung khidmat di area Monumen Perjuangan Rakyat Bali Niti Mandala Renon dan dihadiri puluhan jurnalis dari berbagai organisasi. Kegiatan dimulai sekitar pukul 18.00 Wita.

Prosesi diawali doa dari perwakilan masing-masing agama, dilanjutkan mengheningkan cipta bersama mengelilingi poster dan lilin, serta pembacaan puisi sebagai bentuk dukungan moral bagi para korban yang masih dalam pencarian.

Lima pewarta yang hilang saat meliput aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yakni Muhammad Bagus Khoirunnas dari ANTARA Biro Banten, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro dari iNews.id, Firman Daus dari Anadolu Agency, dan Donal Husni, jurnalis lepas.