Prabowo Sempat Dorong Biodiesel B100, Akhirnya Pilih B50

Prabowo mengaku sempat mendorong penerapan biodiesel B100. Namun, pemerintah memilih B50 karena dinilai cukup untuk menghentikan impor solar.

Diterbitkan 09 Juli 2026, 17:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan dirinya sempat mendorong Indonesia untuk langsung menerapkan biodiesel B100 sebagai bagian dari upaya mewujudkan kemandirian energi nasional.

Namun, pemerintah akhirnya memilih meluncurkan biodiesel B50 setelah menerima kajian bahwa bauran tersebut sudah mampu menghentikan impor solar dari luar negeri.

Menurut Prabowo, keputusan tersebut menjadi salah satu pencapaian besar bangsa karena Indonesia kini resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50.

Gagasan mewujudkan swasembada energi telah menjadi prioritasnya bahkan sebelum resmi menjabat sebagai presiden.

"Dari sejak saya belum dilantik jadi presiden kepada tim inti saya, tim penasihat saya, selalu saya tekankan, 'harus swasembada pangan, harus swasembada energi. Tidak boleh impor BBM, tidak boleh impor pangan'," kata Prabowo dalam peluncuran B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026).

Dalam proses penyusunan kebijakan, Prabowo mengaku sempat mengusulkan agar Indonesia langsung mengembangkan biodiesel hingga B100. Menurut dia, langkah tersebut dinilai mampu mempercepat pencapaian target kemandirian energi.

Namun, usulan itu kemudian dikaji oleh para menteri yang membidangi sektor energi. Berdasarkan perhitungan teknis, pemerintah menilai penerapan B50 sudah cukup untuk menghapus kebutuhan impor solar.

"Saya dorong, saya menuntut dari tim saya kemandirian energi. B40 tidak cukup. Bahkan pada saat itu saya mendorong ke arah B100. Tapi menteri-menteri saya meyakinkan saya, Pak, dengan B50 saja kita sudah tidak impor solar lagi dari luar negeri. Jadi, ini adalah satu prestasi bangsa yang luar biasa," ujarnya.

 

Indonesia Jadi Negara Pertama Terapkan Mandatori B50

Prabowo menegaskan peluncuran B50 bukan sekadar pencapaian teknologi, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam perjalanan Indonesia memanfaatkan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan energi domestik.

"Dengan diluncurkan program ini, Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori biodiesel B50," ujarnya.

Ia menyebut program tersebut merupakan hasil perjalanan panjang pengembangan biodiesel nasional yang dimulai sejak penerapan B2,5 pada 2008 hingga kini mencapai B50 melalui delapan tahapan.

 

Diklaim Hemat Devisa Rp 170 Triliun

Prabowo menambahkan penerapan B50 diperkirakan mampu menghemat devisa negara hingga Rp 170 triliun atau sekitar US$ 10 miliar setiap tahun karena berkurangnya impor bahan bakar.

Ia menegaskan pemerintah akan terus mendorong berbagai kebijakan untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus menjaga kekayaan alam Indonesia agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.

"Bayangkan kita sekarang sudah bisa menghemat devisa uang keluar Rp 170 triliun. US$ 10 miliar kita hemat. Kita hemat di sini US$ 10 miliar, nanti kita hemat di beberapa tempat," pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6