Rupiah Melemah, Eksportir Indonesia Reguk Keuntungan

Amerika Serikat dan Eropa dapat kembali meningkatkan pemulihan ekonominya akan mendukung perbaikan transaksi berjalan negara berkembang.

Diterbitkan 10 Februari 2014, 15:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Pelemahan mata uang yang menimpa sejumlah negara berkembang di Asia sejak pertengahan 2013 ternyata tidak sepenuhnya berdampak negatif.

Bagi para eksportir Indonesia, pelemahan mata uang justru membawa keuntungan tersendiri. Seperti dikutip dari The Star Business, Senin (10/2/2014), para eksportir memperoleh keuntungan dari peningkatan permintaan barang dan komoditas yang berasal dari negara-negara maju ditambah pertumbuhan ekonomi stabil di China.

Para ekonom mengatakan, surplus perdagangan dapat mengurangi tekanan transaksi eksternal negara-negara berkembang yang kian membengkak. Maklum selama ini, defisit transaksi berjalan membuat para investor asing enggan untuk membenamkan modalnya.

Akan tetapi, jumlah ekspor yang kian meningkat akan menjadi daya tarik bagi negara-negara berkembang guna mempertahankan pertumbuhan ekonominya meski laju permintaan domestik bergerak perlahan.

Aksi Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk mengurangi jumlah pembelian obligasinya (tapering off) memang telah menjadi pemicu utama pelemahan sejumlah mata uang di Asia, khususnya Indonesia dan India sejak 2013.

Kedua negara tersebut mengalami pelemahan mata uang terparah sepanjang 2013 dan pembengkakan defisit transaksi berjalan.
Namun  jika AS dan kawasan Eropa mampu mempertahankan laju pemulihan ekonominya, permintaan impor dari negara-negara eksportir juga akan meningkat. Hasilnya, Indonesia, India dan Turki dapat memperkecil jumlah defisit transaksi berjalan yang selama ini sulit diatasinya.

Menurut pengamatan CIMB Research di Indonesia, pelemahan di pasar keuangan tidak serta-merta bisa diterjemahkan sebagai penurunan kinerja perekonomian suatu negara. Terbukti, produk domestik bruto (PDB) riil Indonesia mampu tumbuh hingga 5,7% pada kuartal IV 2013.

Ekspor Indonesia tercatat melonjak, sementara volume impor melambat di tengah pelemahan rupiah yang masih terjadi pada 2013. Kondisi tersebut dianggap sebagai pemicu surplus perdagangan Indonesia hingga US$ 1,52 miliar.

Angka tersebut merupakan yang terbesar sejak November 2011. Sementara laporan-laporan perdagangan yang positif membantu mengurangi defisit transaksi berjalan sebesar US$ 4,06 miliar.

CIMB Research memprediksi, Indonesia mampu melalui berbagai rintangan ekokonomi hingga pertengahan 2014 karena dampak pengetatan kebijakan Bank Indonesia (BI) sejak pertengahan tahun lalu.

"Konsumsi masyarakat sebelum Pemilu dapat melampaui risiko pelemahan mata uang dan membuat PDB Indonesia tumbuh 5,6% sepanjang 2014," seperti tertulis dalam laporan para peneliti CIMB Research.

Selain rupiah, pelemahan mata uang ringgit juga tercatat membawa keuntungan bagi para eksportir Malaysia. CIMB Research memprediksi, Malaysia mampu mencetak laju pertumbuhan ekonomi sebesar 5,3% pada 2014. (Sis/Ahm)


*Bagi Anda yang ingin mengetahui hasil ujian CPNS Honorer K2 2013 silakan klik di cpns.liputan6.com

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6