Harga Emas Dunia Menguat Setelah Kesepakatan Damai Iran-AS

Harga emas dunia naik di atas 2% dipicu kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Diterbitkan 16 Juni 2026, 06:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia menguat selama tiga sesi berturut-turut pada Senin, 15 Juni 2026 (Selasa waktu Jakarta) . Bahkan, harga emas ke level tertinggi lebih dari seminggu setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati syarat untuk mengakhiri perang. Hal ini menjadi sebuah langkah yang meredakan harapan kenaikan suku bunga.

Mengutip CNBC, Selasa, (16/6/2026), harga emas spot naik 2,6% menjadi US$ 4.327,82 per ons, setelah mencapai level tertinggi sejak 5 Juni pada awal sesi perdagangan. Kontrak berjangka emas AS ditutup menguat 2,7% ke US$ 4.351,6.

Indeks dolar AS turun 0,2%, membuat logam mulia yang dihargai dalam dolar AS lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain.

Pejabat AS menuturkan, sebuah nota kesepahaman untuk mengakhiri perang telah ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump, Wakil Presiden  ASJD Vance, dan ketua parlemen Iran. Laporan sebelumnya dari kedua belah pihak menunjukkan bahwa kesepakatan itu akan ditandatangani secara resmi dalam sebuah upacara di Jenewa pada Jumat.

"Pasar emas bergerak melewati konflik dan mengabaikannya. Berita kesepakatan damai menurunkan imbal hasil obligasi pemerintah, dolar, dan minyak, dan itu adalah risiko inflasi dan risiko lintas aset terbesar,” ujar Chief Market Blue Line Futures, Phillip Streible.

Emas telah menghadapi tekanan sejak konflik Iran dimulai karena harga energi yang tinggi dan kekhawatiran inflasi meningkatkan kemungkinan kenaikan suku bunga. Hal itu cenderung membebani aset yang tidak menghasilkan imbal hasil.

Setelah kesepakatan kerangka kerja, pelaku pasar menurunkan kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada Desember menjadi 58% dari hampir 70% minggu lalu, menurut alat CME FedWatch.

Perhatian kini beralih ke pertemuan kebijakan Federal Reserve pada 16-17 Juni, pertemuan pertama Ketua Kevin Warsh. Hal ini seiring pasar mencari petunjuk tentang prospek suku bunga.

“Pergerakan harga emas selanjutnya sepenuhnya bergantung pada Warsh, nada bicaranya, dan apa yang akan dia katakan tentang jalur suku bunga,” ujar Streible.

 Sementara itu, Singapura akan membangun sistem kliring emas di luar bursa dan memperkenalkan layanan penyimpanan emas bank sentral.

Harga Emas Dunia

Sebelumnya, harga emas naik 2% pada Senin, (15/6/2026). Kenaikan harga emas dunia terjadi setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik. Hal itu mendorong harga minyak turun dan meredakan kekhawatiran inflasi dan suku bunga yang lebih tinggi.

Mengutip CNBC, harga emas spot naik 2% menjadi US$ 4.304,11 per ons pada pukul 01.22 GMT, dan mencapai level tertinggi sejak 9 Juni. Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus melesat 2% menjadi US$ 4.325,20.

AS dan Iran mengatakan pada Minggu, 14 Juni 2026 telah menyepakati sejumlah hal untuk mengakhiri perang. Selain itu, menghentikan blokade AS terhadap Iran dan membuka kembali Selat Hormuz.

Pakta tersebut akan diteken resmi pada Jumat pekan ini di Swiss. Demikian disampaikan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif di platform X, dahulu bernama Twitter.

 

Dolar AS Melemah

Di sisi lain, dolar AS jatuh ke level terendah dalam 10 hari, membuat emas batangan yang dihargai dolar AS lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya. Sementara itu, harga minyak turun lebih dari 4%.

"Harga minyak yang lebih rendah dan dolar AS yang lebih lemah, yang berasal dari berkurangnya risiko geopolitik dan antisipasi pembukaan kembali Selat Hormuz, membantu meredakan harapan inflasi," ujar Chief Market Analyst KCM Trade, Tim Waterer.

"Kombinasi ini memberikan dorongan terbaik bagi logam mulia dalam beberapa minggu terakhir, meski keberlanjutannya akan bergantung pada seberapa tahan lama perjanjian perdamaian itu terbukti," ia menambahkan.

Harga emas telah turun sekitar 20% sejak dimulainya perang AS-Israel melawan Iran pada akhir Februari. Penutupan efektif Selat Hormuz telah menyebabkan peningkatan tajam harga minyak global, memicu kekhawatiran inflasi dan meningkatkan ekspektasi suku bunga akan tetap tinggi untuk waktu yang lebih lama.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6