Rupiah Melesat terhadap Dolar AS, Sentimen Domestik jadi Pemicu

Ekonom menuturkan, dolar AS yang kembali jadi incaran di tengah perkembangan konflik Timur Tengah menahan penguatan rupiah.

Diterbitkan 12 Juni 2026, 18:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Jumat sore, (12/6/2026). Kombinasi sentimen domestik yang meredakan kekhawatiran pasar terhadap fiskal menopang rupiah.

Mengutip Antara, nilai tukar (kurs) rupiah naik 129 poin atau 0,71% menjadi 17.860 per dolar AS dari sebelumnya 17.989 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak menguat ke level 17.921 per dolar AS dari sebelumnya 17.981 per dolar AS.

“Faktor domestik yang membantu rupiah adalah koordinasi BI dan pemerintah yang lebih kuat, kenaikan suku bunga acuan, daya tarik imbal hasil aset rupiah, serta data APBN Mei yang relatif lebih baik. Defisit APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara) masih terkendali, keseimbangan primer surplus, dan pendapatan negara tumbuh cukup kuat,” ujar Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede dikutip dari Antara, Jumat pekan ini.

Dia menuturkan, langkah BI menaikkan suku bunga acuan memberikan bantalan terhadap rupiah.

Selain itu, penguatan data tarik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) yang lebih tinggi mulai menarik kembali sebagian dana asing, terutama ke SRBI serta SBN tenor pendek dan menengah.

"Namun, pasar masih menunggu bukti bahwa disiplin fiskal tersebut bisa dipertahankan hingga akhir tahun, terutama karena belanja pemerintah biasanya meningkat pada semester kedua dan risiko subsidi energi masih besar,” kata Josua.

Di sisi lain, penguatan rupiah juga tertahan kombinasi penguatan dolar AS, kehati-hatian pelaku pasar menjelang akhir pekan, dan masih tingginya ketidakpastian global.

“Berita dari Timur Tengah membuat dolar AS kembali diminati sebagai aset yang dianggap lebih aman. Pada saat yang sama, pelaku pasar masih mencermati arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat dan imbal hasil obligasi AS. Selama dolar AS masih kuat dan harga minyak masih mudah bergejolak, rupiah tetap rentan meskipun BI sudah menaikkan suku bunga,” kata dia.

 

Rupiah Menguat ke Rp 17.930 per Dolar AS, Efek Kenaikan BI Rate

Sebelumnya, nilai tukar rupiah membuka perdagangan Jumat (12/6/2026) dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda naik 59 poin atau 0,33 persen menjadi Rp 17.930 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.989 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi setelah pasar merespons positif keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,50 persen.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Muhammad Amru Syifa, mengatakan kebijakan moneter yang lebih ketat berhasil meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik.

“Pergerakan rupiah masih mendapat dukungan dari keputusan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50 persen. Kebijakan tersebut mendapat respons positif dari investor asing dan turut meningkatkan minat terhadap aset domestik, sehingga membantu menjaga optimisme pelaku pasar terhadap pasar keuangan Indonesia,” ungkapnya dikutip dari Antara.

Menurut Amru, meningkatnya minat investor asing terhadap instrumen keuangan dalam negeri turut memperkuat sentimen positif di pasar. Kondisi ini juga membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika pasar global yang masih penuh ketidakpastian.

Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati sejumlah faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang dalam jangka pendek.

 

Negosiasi AS-Iran Jadi Perhatian Pasar

Dari sisi global, rupiah masih menghadapi tekanan akibat penguatan dolar AS. Sentimen tersebut muncul setelah data Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) Amerika Serikat yang dirilis pada 11 Juni menunjukkan tekanan inflasi lebih tinggi dari perkiraan pasar.

Data tersebut memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam periode yang lebih lama.

Selain itu, investor juga memantau perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai dapat memengaruhi pasar energi global.

Menurut Amru, harapan tercapainya kesepakatan antara kedua negara berpotensi meredakan ketegangan geopolitik dan menjaga stabilitas pasokan energi dunia.

“Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak, kondisi ini dapat mengurangi tekanan terhadap kebutuhan devisa dan memberikan sentimen positif bagi rupiah. Namun, karena belum ada kesepakatan final, pelaku pasar masih cenderung bersikap hati-hati,” ujar dia.

Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen domestik dan global tersebut, Amru memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.850 hingga Rp 17.980 per dolar AS dalam perdagangan hari ini.

Pelaku pasar kini menunggu perkembangan lebih lanjut dari arah kebijakan The Fed serta hasil negosiasi AS-Iran yang berpotensi menjadi katalis baru bagi pergerakan rupiah dan pasar keuangan global.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6