Rupiah Melemah Lagi Hari Ini, Konflik Timur Tengah Guncang Pasar Keuangan

Rupiah ditutup melemah ke Rp 17.989 per dolar AS akibat meningkatnya ketegangan AS-Israel dan Iran serta turunnya minat investor pada obligasi.

Diterbitkan 11 Juni 2026, 19:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis (12/6/2026) sore. Mata uang Garuda turun 45 poin atau 0,25 persen ke level Rp 17.989 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp 17.944 per dolar AS.

Sejalan dengan pelemahan di pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga menunjukkan tren serupa. Pada Kamis, JISDOR tercatat di level Rp 17.981 per dolar AS, melemah dibandingkan posisi sebelumnya yang berada di Rp 17.971 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, mengatakan pelemahan rupiah dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

"Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi dari faktor global risiko geopolitik meningkatnya eskalasi konflik AS Israel dan Iran terbaru," ujar Rully dikutip dari Antara.

Ketegangan terbaru terjadi setelah sejumlah wilayah di Iran bagian selatan dilaporkan menjadi sasaran serangan udara. Mengutip Anadolu, ledakan terdengar di kawasan Kargan, Kota Minab, serta Bandar Abbas.

Media Iran juga melaporkan aktivitas sistem pertahanan udara di sejumlah wilayah lain, seperti Jask, Qeshm, dan Sirik di Provinsi Hormozgan.

Perkembangan tersebut terjadi setelah Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan pasukan AS melancarkan serangkaian serangan tambahan yang disebut sebagai aksi "membela diri" terhadap sejumlah target di Iran.

Menurut CENTCOM, operasi militer itu dilakukan atas instruksi langsung Presiden AS Donald Trump sebagai respons terhadap apa yang disebut sebagai agresi berkelanjutan dari Iran.

 

 

Minat Investor Berkurang

Situasi semakin memanas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan serangan terhadap sejumlah aset militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

IRGC menyebut sedikitnya 18 target militer AS di Kuwait dan Bahrain menjadi sasaran, termasuk Pangkalan Udara Ali Al Salem dan Ahmad Al Jaber di Kuwait serta Pangkalan Udara Sheikh Isa di Bahrain.

Selain faktor geopolitik, Rully menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi berkurangnya minat investor terhadap surat utang pemerintah Indonesia. Kondisi tersebut tercermin dari kenaikan imbal hasil (yield) obligasi di berbagai tenor.

"Yield tenor 10 tahun naik 10 bps (basis points) ke 7,45 persen, 8 tahun naik 17 bps menjadi 7,46 persen, dan tenor 5 tahun naik 2 bps menjadi 7,47 persen," ungkapnya.

Kenaikan yield biasanya menunjukkan investor meminta tingkat imbal hasil yang lebih tinggi untuk menempatkan dananya pada obligasi pemerintah, sehingga menjadi sinyal meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6