Ingin Dibilang Tajir? Anda Harus Punya Rp 50 Miliar Dulu

Setiap orang punya definisi masing-masing untuk kata 'kaya'. Apa saja?.

Diterbitkan 26 Juli 2013, 21:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Setiap orang punya definisi masing-masing untuk kata 'kaya'. Beberapa orang mengatakan, kaya setara dengan harta Rp 10 miliar atau yang lainnya mengatakan Rp 10 triliun.

Sebagian lain berpendapat, kaya berarti Anda tak perlu bekerja dan memiliki hubungan yang baik dengan teman.

Namun seperti dilansir dari CNBC, Jumat (26/7/2013), sebuah survei dari UBS, perusahaan global penyedia jasa keuangan mengungkapkan, kaya setara dengan harta US$ 5 juta atau setara Rp 50 miliar, dengan setidaknya uang tunai senilai US$ 1 juta atau Rp 10 miliar.

Investor Watch UBS yang memberikan pelayanan ke lebih dari 50 negara ini melibatkan 4.450 investor dalam surveinya.

Sebanyak 60% dari mereka yang memiliki harta sebesar US$ 5 juta atau lebih menyatakan dirinya adalah orang kaya. Sementara hanya 28% yang mendefinisikannya dengan kekayaan mulai dari US$ 1 juta hingga US$ 5 juta.

Setengah dari responden menjelaskan lebih lanjut, menjadi kaya berarti tak melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan uang.

Sementara hanya sekitar 16% yang setuju bahwa memiliki aset dalam jumlah tertentu sudah bisa dikategorikan kaya. Dari seluruh responden, 10% menjelaskan orang kaya adalah mereka yang tak perlu bekerja lagi.

Meski demikian, kaya tak hanya berarti memiliki aset atau investasi miliaran rupiah. Mengingat buruknya masa krisis moneter dimana banyak orang kaya hanya memiliki sedikit uang tunai.

Sedangkan para investor hanya memperoleh 23% dari seluruh alokasi asetnya dalam bentuk tunai. Jumlah tersebut merupakan yang tertinggi sejak 2010.

Sekitar dua per tiga dari seluruh investor yang mengikuti survei merasa dirinya telah memiliki jumlah aset yang tepat. Selama mereka mengambil risiko dengan menginvestasikan uangnya dalam ekuitas, mereka mengharapkan uang tunai dalam jumlah besar untuk menekan risiko.

Berdasarkan hasil penelitian UBS, para investor cenderung mengalokasikan asetnya dengan menggunakan lebih banyak uang tunai dari yang direkomendasikan industri.

Alasan terbanyak yang diungkap para investor untuk menyimpan uang tunai adalah untuk menutupi biaya tak terduga, memberikan ketenangan dan untuk melakukan pembelian dalam jumlah besar tanpa menjual aset. (Sis/Ndw)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6