Bocoran Purbaya Soal Financial Center di Bali

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan, Dubai menjadi salah satu acuan kawasan pusat keuangan yang dijalankan.

Diterbitkan 07 Mei 2026, 20:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap desain pelaksanaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Financial Center di Bali. Menurut dia, kawasan tersebut tidak sebatas memberikan pengampunan pajak, tapi bisa jadi gerbang awal investasi di Tanah Air.

Dia menegaskan, desain Financial Center masih dalam dimatangkan bentuknya. Dubai menjadi salah satu acuan kawasan pusat finansial yang akan dijalankan. Nantinya, kawasan itu akan berdiri kurang lebih seluas 100 hektare.

"Itu menjadikan kawasan ekonomi khususnya, di situ akan berlaku common law, hukum tertentu, uang bisa masuk dari luar negeri ke situ, enggak saya pajakin. Nanti teman-teman Anda bilang, teman-teman ekonomi anda bilang, 'rugi dong kalau gitu?' Enggak, tadinya juga enggak ada apa-apa," ungkap Purbaya dalam Konferensi Pers Hasil Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), di Kompleks Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Dia memandang, Financial Center itu bisa menjadi semacam gerbang masuk investasi. Nantinya, dana investor yang masuk ke sana, bisa beralih ke proyek-proyek yang dijalankan Danantara dengan imbal hasil (return) yang menarik.

"Tapi ketika uang masuk ke situ, uang di situ akan bisa dipakai berinvestasi di proyek Danantara yang banyak dan return-nya bagus atau di proyek-proyek di luar tax haven itu, yang bukan tax haven, sorry, di luar kawasan ekonomi itu dengan prospek yang bagus," ujarnya.

Investor bisa membeli surat utang yang diterbitkan pemerintah. Sehingga berpengaruh pada sumber pembiayaan. "Jadi kalau misalnya di satu kawasan dipilih 100 hektare dia bisa investasi di luar itu. Untuk saya bisa juga mereka investasi di bond saya di Surat Utang saya, jadi pembeli saya juga bertambah pak Gub (Gubernur BI). Jadi makin kuatlah sumber pembiayaan pembangunan untuk swasta maupun untuk pemerintah," beber dia.

"Kalau dia ditaruh di situ saja enggak apa-apa, dia enggak akan dapat return, return-nya paling ya harusnya ditaruh di tempat saya, tempat pak Gub, di sektor finansial yang lain, tapi yang paling menarik di sektor riil," Purbaya menambahkan.

Segera Berjalan

Bendahara Negara ini menyampaikan, konsep Financial Center final masih dimatangkan pemerintah. "Itu yang sedang didesain, kira-kira ya, kelihatannya seperti itu gue bocorin itu ya, kira-kira yang saya tahu seperti itu dan itu akan didesain dalam waktu tidak terlalu lama akan segera dijalankan itu," ucapnya.

Dia membuka kemungkinan memberikan insentif di kawasan Financial Center tersebut. Namun, hal itu tak akan membatasi pendapatan negara.

"Kalau selama di tempat financial center-nya tadi dapat insentif, misalnya minta tax incentive saya kasih, kan enggak apa-apa, dulunya juga enggak ada apa-apa di situ. Tapi ketika dia keluar ada hasil, kan ada pajak dan lain-lain dan ekonomi jalan," tutur dia.

Di sisi lain, masuknya dolar AS ke Pusat Finansial itu diharapkan juga mampu menjadi stabilisator nilai tukar rupiah. "Jadi kita punya sumber pembiayaan baru yang mungkin lebih murah dari sekarang dan membuat pembiayaan kita lebih sustainable dan kalau yang masuk di luar negeri dolarnya banyak, rupiahnya juga akan lebih stabil," tandas Purbaya.

Jadi Magnet Investasi

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyatakan OJK mendukung pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) sektor keuangan atau financial center di Bali sebagai bagian dari upaya memperdalam pasar keuangan nasional dan meningkatkan aliran investasi global ke Indonesia.

Friderica mengatakan, pembentukan financial center tersebut telah dibahas dalam koordinasi bersama sejumlah kementerian dan lembaga, termasuk Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, hingga Kepala BPI Danantara.

"Kami kemarin pagi-pagi koordinasi dengan Pak Menko Perekonomian, Pak Menteri Keuangan, Pak Gubernur BI dan juga Kepala BPI Danantara Pak Rosan salah satunya yang kita bicarakan adalah bagaimana kita mempersiapkan pembentukan KEK sektor keuangan di Bali,” ujarnya dalam Konferensi Pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Kamis (7/5/2026).

Mempercepat Pendalaman Pasar Keuangan

Menurut dia, keberadaan financial center di Bali menjadi salah satu langkah strategis untuk mempercepat pendalaman pasar keuangan atau market deepening di Indonesia yang selama ini masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan otoritas sektor keuangan.

"Ini tentu saja untuk sebagai akselerator untuk market deepening,” tutur Friderica.

Ia menilai, pembentukan KEK financial juga dapat meningkatkan daya tarik Indonesia bagi investor internasional, sekaligus membuka ruang lebih luas bagi pengembangan layanan dan produk keuangan.

"Ini merupakan salah satu upaya untuk peningkatan pendalaman keuangan dan tentu saja yang utama adalah bagaimana hal ini menjadi peningkatan daya tarik untuk aliran investasi global masuk ke Indonesia,” ujarnya.

 

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6