Fondasi Ekonomi Indonesia Kuat, Menkeu Purbaya Sebut Rupiah Lebih Tangguh dari Negara Tetangga

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa menuturkan, fondasi ekonomi Indonesia tetap terjaga. Ia juga mengatakan, pemerintah berupaya perbaiki kendala di ekonomi.

Diterbitkan 25 April 2026, 14:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya menilai fondasi ekonomi Indonesia tetap terjaga. Selain itu, nilai tukar rupiah lesu terhadap dolar Amerika Serikat (AS), ia menilai bukan mencerminkan fundamental ekonomi terganggu.

Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menunjukkan ketahanan yang solid di tengah dinamika pasar global. Pada penutupan perdagangan Jumat sore, 24 April 2026, rupiah menguat sebesar 0,52% ke 17.205 per dolar AS. Penguatan ini sekaligus meredakan kekhawatiran sejumlah pihak terkait potensi pelemahan mata uang domestik.

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan pergerakan rupiah saat ini bukan mencerminkan adanya pemburukan fundamental ekonomi nasional. Dia menuturkan, posisi rupiah relatif masih lebih kuat dibandingkan sejumlah negara di kawasan.

“Saya ini bukan tanda pemburukan atau dipicu oleh memburuknya ekonomi domestik. Dibanding negara lain kita masih kuat. Bahkan dibanding Malaysia, Thailand, dan lain-lain masih kuat,” ujar Purbaya di Jakarta, Jumat, 24 April 2026, dikutip dari keterangan resmi, Sabtu (25/4/2026).

Ia menambahkan, fondasi ekonomi Indonesia tetap terjaga dan bahkan diproyeksikan semakin kokoh ke depan.

Pemerintah, kata dia, terus berupaya mempercepat perbaikan berbagai kendala struktural dalam perekonomian.

“Tapi yang jelas adalah fondasi ekonomi kita tidak berubah. Bahkan akan semakin cepat, karena kita akan semakin serius memperbaiki kendala-kendala di perekonomian,” ujar dia.

Ekonomi Indonesia Terus Membaik

Optimisme terhadap ketahanan rupiah juga didukung oleh target pertumbuhan ekonomi yang ambisius. Pemerintah membidik pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 mencapai 5,7%, sejalan dengan target tahunan sebesar 6%.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan mengandalkan berbagai instrumen, termasuk percepatan belanja negara guna menjaga momentum pertumbuhan.

Selain itu, kekuatan ekonomi Indonesia juga tercermin dari posisi eksternal yang solid, ditandai dengan surplus perdagangan yang telah berlangsung selama 70 bulan berturut-turut hingga awal 2026.

Di sisi domestik, daya tahan ekonomi turut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap kuat, inflasi yang terkendali, serta pengelolaan fiskal yang disiplin.

Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang rendah dan kebijakan hilirisasi yang berkelanjutan juga menjadi faktor penopang stabilitas ekonomi nasional.

Dengan berbagai indikator tersebut, pemerintah optimistis pergerakan rupiah akan tetap stabil dan mencerminkan kekuatan fundamental ekonomi Indonesia di tengah tekanan global.

Purbaya: Lembaga Rating Dunia Nilai Ekonomi Indonesia Masih Solid

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa sejumlah lembaga rating dan institusi keuangan global memberikan penilaian positif terhadap kondisi ekonomi Indonesia, di tengah maraknya sentimen negatif yang beredar.

Menurutnya, persepsi negatif yang berkembang di publik tidak sepenuhnya mencerminkan pandangan lembaga internasional. Ia mencontohkan, sejumlah institusi seperti JPMorgan, ADB, dan S&P justru menilai fundamental ekonomi Indonesia masih solid.

“Jadi banyak noise yang membuat menimbulkan sentimen negatif di mana-mana. Ini padahal lembaga dunia bilang. Padahal lembaga dunia yang paling canggih sudah bilang bagus. JPMorgan, ADB, S&P juga nggak komplain banyak,” ujar Purbaya dalam Media Briefing, Jumat (24/4/2026).

Purbaya menjelaskan, dalam pertemuan dengan lembaga pemeringkat dan investor global, pemerintah telah memberikan penjelasan komprehensif terkait arah kebijakan ekonomi nasional. Hal itu dinilai mampu mengubah pandangan sebagian investor asing terhadap Indonesia.

 

 

 

Ada Sejumlah Catatan

Meski demikian, ia mengakui masih ada sejumlah catatan, salah satunya terkait rasio pembayaran bunga terhadap pendapatan negara. Untuk menjawab hal tersebut, pemerintah terus memperkuat sektor perpajakan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan fiskal.

“Makanya kita perbaiki pajaknya. Karena interest payment kan kalau PNBP nggak masuk kan. Jadi pembaginya income, pajakan. Saya kan perkuat perpajakannya,” jelasnya.

Ia menegaskan, penguatan penerimaan negara menjadi langkah penting agar struktur fiskal tetap terjaga dan mampu merespons berbagai tantangan ekonomi global.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6