BI Tahan Suku Bunga Disebut Sinyal Positif di Tengah Ketidakpastian Global

Selain langkah BI mempertahankan suku bunga acuan dinilai positif, pemerintah juga menilai konfisi fiskal tetap terjaga baik.

Diterbitkan 23 April 2026, 14:43 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah mendukung langkah Bank Indonesia (BI)  yang kembali mempertahankan suku bunga acuan BI Rate di level 4,75% pada April 2026. Kebijakan ini dinilai menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan di tengah meningkatnya ketidakpastian global, terutama akibat konflik di kawasan Selat Hormuz yang memicu fluktuasi harga energi.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, keputusan bank sentral tersebut mencerminkan upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal.

"Bank Indonesia mempertahankan BI Rate di 4,75 persen, dan ini juga sudah signal positif. Manufaktur walaupun turun tapi masih di atas 50 dan tetap kompetitif di kawasan ASEAN. Surplus neraca perdagangan tercatat 70 bulan berturut-turut, tunjukan resiliensi Indonesia dengan cadangan devisa memadai di USD 148,2 miliar,” ujar Airlangga dalam Konferensi Pers Realisasi Investasi Triwulan I 2026, Kamis (23/4/2026).

Selain faktor moneter, pemerintah juga menilai kondisi fiskal tetap terjaga dengan baik. Defisit APBN yang rendah menunjukkan disiplin fiskal tetap dijalankan meskipun pemerintah melakukan ekspansi untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

"Defisit APBN terjaga di 0,93 persen dari PDB, jadi disiplin fiskal dijaga di tengah ekspansi yang terukur,” ujar dia.

Airlangga menyoroti, ketahanan ekonomi Indonesia juga mendapat pengakuan dari lembaga internasional. Salah satunya adalah JPMorgan yang menilai Indonesia memiliki resiliensi tinggi, termasuk dalam sektor energi di tengah gejolak global.

"Baru-baru ini JP Morgan juga merilis, Indonesia adalah negara yang punya ketahanan energi. Artinya Indonesia adalah negara kedua di bawah Afrika Selatan yang punya resiliensi terhadap goncangan energi. Indonesia punya domestik energi yang sudah direncanakan dalam kebijakan energi, terutama akibat domestik energi gas, batu bara, hydro, dan yang lain,” ungkapnya. 

Ia menuturkan, diversifikasi energi domestik membuat ketergantungan Indonesia terhadap jalur distribusi global relatif lebih kecil, sehingga mampu meredam dampak fluktuasi harga energi dunia.

 

Bank Indonesia Tahan BI Rate

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tetap menahan suku bunga acuan atau BI Rate di level 4,75 persen pada April 2026.

"Berdasarkan berbagai assesment dan prospek, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 21 dan 22 April 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75 persen, suku bunga deposit facility sebesar 3,75 persen, dan suku bunga lending facility sebesar 5,50 persen," ujar Perry dalam Konferensi Pers Pengumuman Hasil RDG April 2026, Rabu (22/4/2026).

Perry menyatakan, keputusan ini masih konsisten dengan upaya meningkatkan efektivitas strategi penyesuaian struktur suku bunga instrumen operasi moneter dalam memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi perekonomian global akibat perang di Timur Tengah.

Ke depan, Bank Indonesia siap menempuh penguatan lebih lanjut kebijakan moneter yang diperlukan untuk tetap mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5±1%.

"Sementara itu, kebijakan makroprudensial tetap diperkuat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan kredit pembiayaan ke sektor riil dengan tetap mempertahankan stabilitas sistem keuangan," ujarnya.

Kebijakan sistem pembayaran juga terus diarahkan untuk turut menopang kegiatan ekonomi melalui penguatan sinergi dalam perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri sistem pembayaran, serta peningkatan keandalan dan ketahanan infrastruktur sistem pembayaran.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6