Mengenal Resi Gudang, Sang Penyangga Ekonomi Komoditas Indonesia

Sistem resi gudang menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas rantai pasok komoditas di Indonesia.

Diterbitkan 12 Maret 2026, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sistem resi gudang menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga stabilitas rantai pasok komoditas di Indonesia. Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia, Budi Susanto menjelaskan bahwa resi gudang pada dasarnya merupakan surat bukti kepemilikan atas barang yang disimpan di gudang.

“Resi gudang itu sebenarnya surat kepemilikan dari suatu pihak bahwa dia menyimpan barangnya di gudang. Jadi bukti bahwa barang tersebut dititipkan atau disimpan di pergudangan,” kata Budi saat ditemui Liputan6.com, di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Namun, menurutnya fungsi resi gudang tidak hanya sekadar bukti penyimpanan barang. Jika dilihat lebih luas, sistem ini merupakan bagian penting dari ekosistem rantai pasok komoditas yang terdiri dari tiga tahapan utama, yakni produksi di tingkat hulu, pergudangan dan perdagangan di tengah, serta konsumsi di hilir.

Pada tahap produksi, pelaku usaha seperti petani, nelayan, maupun pemilik perkebunan dapat menyimpan hasil panennya di gudang dan memperoleh resi gudang sebagai bukti kepemilikan. Dengan cara ini, produsen tidak harus langsung menjual komoditasnya saat panen raya ketika harga biasanya turun.

“Dengan resi gudang, produsen bisa menunda penjualan. Barangnya disimpan di gudang, sementara dia memegang resinya,” ujar Budi.

Dalam praktiknya di Indonesia, peran pengumpul atau pedagang berada di tahap tengah rantai pasok tersebut. Mereka membeli komoditas dari produsen sehingga petani atau nelayan tetap dapat memperoleh uang tunai untuk melanjutkan produksi.

Dana yang diterima produsen biasanya digunakan kembali untuk kebutuhan produksi berikutnya, seperti membeli bibit, pupuk, atau memenuhi kebutuhan hidup hingga masa panen selanjutnya.

“Dengan mekanisme ini, petani atau nelayan bisa menjual dengan harga yang lebih wajar dan tidak ditekan seperti ketika menjual ke tengkulak,” jelasnya.

 

Tambung Hasil Panen

Di sisi lain, pengumpul atau pedagang juga membutuhkan pembiayaan untuk menampung hasil panen dalam jumlah besar. Di sinilah resi gudang berperan sebagai instrumen pembiayaan, karena dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh modal kerja dari lembaga keuangan.

“Pembiayaan ini biasanya untuk jangka pendek, satu sampai tiga bulan, untuk menampung hasil panen sebelum disalurkan ke konsumen secara bertahap,” kata Budi.

Menurutnya, sistem ini juga membantu menjaga stabilitas harga komoditas. Saat panen raya, kelebihan pasokan dapat diserap oleh pengumpul dan disimpan di gudang, sehingga harga tidak langsung jatuh di tingkat petani. Sebaliknya, distribusi bertahap ke konsumen membantu mencegah lonjakan harga ketika pasokan menipis.

Selain menjaga stabilitas harga, resi gudang juga dapat berperan dalam menjaga stok pangan atau buffer stock di daerah. Beberapa pemerintah daerah bahkan mulai menerapkan kebijakan penyimpanan sebagian hasil panen sebagai cadangan pangan.

Sebagai contoh, di Jawa Timur terdapat kebijakan agar sekitar 20% hasil panen disimpan sebagai cadangan di daerah tersebut untuk menjaga ketersediaan pangan.

“Dengan sistem ini, rantai pasok menjadi lebih sehat, inflasi bisa dijaga, dan stok pangan juga lebih terjamin,” ujar Budi.

 

Penguatan Regulasi

Meski demikian, ia menilai penguatan regulasi masih diperlukan agar sistem resi gudang dapat berjalan lebih optimal, khususnya untuk memberikan kepastian bagi perbankan dalam menyalurkan pembiayaan kepada pengumpul, koperasi, maupun kelompok tani.

Budi menambahkan, praktik yang mirip dengan sistem resi gudang sebenarnya sudah lama dijalankan oleh Perum Bulog sebagai lembaga penyangga pangan nasional. Melalui mandat pemerintah, Bulog menyerap hasil panen untuk menjaga harga di tingkat petani sekaligus memastikan ketersediaan pasokan di pasar.

“Bulog pada dasarnya juga melakukan sistem seperti resi gudang, karena menyerap hasil panen untuk menjaga harga petani dan stabilitas pasokan,” ujarnya.

 

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6