Angkat Ornamen Nusantara, Brand Hijasmita Kembangkan Bisnis Hijab Modern Berkat Pemberdayaan BRI

Perjalanan Hijasmita, brand hijab modern bernuansa lokal asal Jakarta Timur, berkembang lewat program pembinaan BRI hingga menembus pasar internasional.

Diterbitkan 04 Maret 2026, 06:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Scarf dan hijab kini tidak lagi sekadar pelengkap busana, tetapi juga menjadi medium ekspresi sekaligus ruang bercerita. Hal ini tercermin dari perjalanan Hijasmita, brand fesyen asal Jakarta Timur yang menghadirkan desain scarf dan outer bergaya modern dengan sentuhan kearifan lokal Indonesia.

Hijasmita didirikan oleh Mita pada awal 2019, setelah ia memutuskan resign dari pekerjaannya di akhir 2018. Keputusan tersebut dilandasi keinginan untuk tetap produktif sekaligus membangun usaha sendiri.

Mita kemudian memilih bisnis fesyen karena tren hijab printing saat itu tengah berkembang pesat. Meski demikian, ia menyadari bahwa sebuah brand membutuhkan karakter yang kuat agar mampu bertahan di tengah persaingan.

Karena itu, Mita aktif mengikuti berbagai pelatihan dan program pembinaan untuk menemukan identitas brand yang tepat bagi Hijasmita.

Nama Hijasmita sendiri memiliki makna personal. Nama ini diambil dari kata Asmita yang dimaknai sebagai simbol hijrah atau perubahan. Makna tersebut merepresentasikan perjalanan Mita dari seorang karyawan menjadi wirausaha.

Sejak awal, Hijasmita tidak hanya menjual produk fesyen, tetapi juga membawa pesan transformasi dan pengembangan diri bagi siapa pun yang mengenakannya.

Desain Modern dengan Sentuhan Kearifan Lokal

Produk Hijasmita berfokus pada scarf yang dikreasikan secara fleksibel, mulai dari hijab, outer, waspina, hingga turunan seperti pouch dan scrunchie. Seluruh proses produksi mengedepankan prinsip keberlanjutan dengan memanfaatkan sisa kain agar tidak terbuang, sehingga setiap bahan memiliki nilai guna maksimal.

“Scarf itu sangat fleksibel, tidak hanya sebagai hijab, tetapi juga bisa menjadi outer, waspina, hingga diolah dari sisa kainnya. Saya ingin setiap bahan yang diproduksi tetap dimanfaatkan agar tidak terbuang sia-sia,” ujar Mita

Ciri khas Hijasmita terletak pada motif yang mengangkat ornamen lokal, khususnya dari Jakarta, seperti gigi balang, langkan, padi, dan flora Nusantara yang diterjemahkan dalam desain modern. Karya-karyanya telah tampil di berbagai pameran, masuk ke department store, menjalin kemitraan hingga Bali, serta menembus pasar internasional seperti Korea dan Malaysia.

Perluas Akses Pasar Lewat Program BRIncubator

Perjalanan Hijasmita memasuki babak baru saat Mita bergabung dengan Rumah BUMN Jakarta dan mengikuti program BRIncubator BRI pada 2023. Melalui program tersebut, ia memperoleh pendampingan intensif yang membantu arah pengembangan usahanya menjadi lebih terstruktur dan strategis.

Mita merasakan materi BRIncubator sangat aplikatif karena tidak hanya bersifat teoritis, tetapi langsung membahas tantangan nyata yang dihadapi pelaku usaha. Ia mendapatkan pembekalan mengenai pemasaran, branding, digitalisasi, serta pengelolaan keuangan yang dapat langsung diterapkan dalam operasional sehari-hari.

“Materinya sangat aplikatif. Kita nggak cuma dikasih teori, tapi benar-benar diajak diskusi sesuai masalah usaha yang lagi kita hadapi. Jadi apa yang dipelajari itu langsung kepakai di usaha aku sehari-hari,” kata Mita.

Dari proses evaluasi selama program, Mita menyadari pentingnya fokus dalam pengembangan produk dan penentuan target pasar. Salah satu keputusan strategis yang diambil adalah memaksimalkan produk outer, yang ternyata memiliki pasar lebih luas dibandingkan hijab, tanpa meninggalkan identitas budaya yang menjadi karakter utama Hijasmita.

Selain peningkatan kapasitas bisnis, Mita juga merasakan manfaat dari perluasan jejaring. Kesempatan mengikuti berbagai pameran yang difasilitasi BRI membuka akses pasar yang lebih luas sekaligus meningkatkan kepercayaan dirinya dalam menjalankan usaha.

Ke depan, Mita berharap Hijasmita terus berkembang secara konsisten dan mampu melangkah lebih jauh, termasuk menembus pasar internasional. Ia mengaku pendampingan tidak hanya memberinya ilmu, tetapi juga dukungan moral dari para coach dan sesama pelaku usaha, sehingga merasa lebih kuat dan tidak sendirian dalam menghadapi tantangan bisnis

Pada kesempatan terpisah, Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menjelaskan bahwa kehadiran Rumah BUMN BRI ditujukan sebagai wadah kolaboratif bagi para pelaku usaha agar mampu meningkatkan kapasitas sekaligus daya saing bisnis. Inisiatif ini disusun untuk mendukung UMKM dalam memperluas jaringan serta menangkap peluang di tengah persaingan pasar yang kian ketat.

Ia juga menekankan bahwa pembinaan UMKM menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan BRI dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Hingga saat ini, BRI tercatat telah membina 54 Rumah BUMN serta menggelar lebih dari 18.218 pelatihan bagi pelaku UMKM di berbagai wilayah Indonesia.

“Melalui peningkatan literasi, digitalisasi, dan kemudahan akses, UMKM didorong untuk memperkuat daya saing dan menghasilkan nilai tambah di pasar. Kisah pelaku usaha Hijasmita jadi kisah inspiratif yang dapat direplika oleh pelaku usaha lainnya di berbagai daerah,” pungkasnya

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6