Kurs Dolar Bikin Rupiah Ambruk, Analis Soroti Sentimen Ini

Kurs dolar menguat ke Rp16.752 per dolar AS. Analis menilai rupiah masih berpeluang menguat dipengaruhi isu The Fed.

Diterbitkan 29 Januari 2026, 10:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Kurs dolar Amerika Serikat (AS) kembali menguat terhadap rupiah pada pembukaan perdagangan Kamis di Jakarta. Nilai tukar rupiah tercatat melemah 30 poin atau sekitar 0,18 persen ke posisi Rp 16.752 per dolar AS, dibandingkan perdagangan sebelumnya di level Rp 16.722 per dolar AS.

Pelemahan rupiah terjadi di tengah dinamika sentimen global yang masih didominasi isu kebijakan moneter Amerika Serikat. Meski demikian, pergerakan kurs dolar terhadap rupiah dinilai masih berpeluang berbalik arah.

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut rupiah berpotensi menguat seiring meningkatnya perhatian pasar terhadap isu independensi Federal Reserve (The Fed).

"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp16.700-Rp16.750 dipengaruhi oleh global berlanjutnya tren pelemahan index dollar dan keputusan The Fed untuk menahan bunga acuan 3,5 persen sesuai prediksi. Independensi The Fed masih terus membayangi dan menimbulkan ketidakpastian," katanya dikutip dari Antara. 

Dari sisi global, tekanan terhadap kurs dolar muncul setelah The Fed memutuskan menahan suku bunga acuannya. Mengutip Anadolu, bank sentral AS tersebut mempertahankan suku bunga kebijakan pada kisaran 3,5 hingga 3,75 persen, sesuai dengan ekspektasi mayoritas pelaku pasar.

 

Tekanan Politik ke The Fed

Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bank sentral masih membuka peluang penurunan suku bunga, namun akan dilakukan setelah tekanan harga atau inflasi benar-benar menunjukkan penurunan. Pernyataan ini turut memengaruhi persepsi pasar terhadap arah kurs dolar ke depan.

Di sisi lain, The Fed juga menghadapi tekanan politik. Gubernur Federal Reserve Lisa Cook dijadwalkan menjalani persidangan bulan ini, menyusul tuduhan Presiden AS Donald Trump yang menganggapnya melakukan penipuan hipotek. Isu ini kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi campur tangan politik dalam kebijakan moneter.

Powell menegaskan bahwa independensi bank sentral merupakan elemen krusial dalam demokrasi modern dan berfungsi sebagai penghalang terhadap politisasi kebijakan moneter. Pernyataan tersebut disampaikan setelah Trump secara terbuka melontarkan kritik terhadap manajemen The Fed, termasuk pandangannya bahwa presiden seharusnya dilibatkan dalam pengambilan keputusan suku bunga.

Dari dalam negeri, Rully menilai penguatan rupiah terhadap kurs dolar masih akan terbatas. "Dari domestik, penguatan rupiah akan terbatas akibat arus dana keluar di pasar modal akibat dari penurunan peringkat investment Indonesia oleh MSCI (Morgan Stanley Capital International)," ungkapnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6