Pemerintah Mau Bikin BUMN Tekstil, Pengusaha: Jangan Sampai Rugi

Pengusaha mewanti-wanti soal rekam jejak BUMN Tekstil yang pernah merugi hingga dibubarkan.

Diterbitkan 21 Januari 2026, 13:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) merespons rencana pemerintah membentuk BUMN Tekstil. Namun, pengusaha mewanti-wanti soal rekam jejak BUMN Tekstil yang pernah merugi hingga dibubarkan.

Ketua Umum API, Jemmy Kartiwa menyambut baik rencana tersebut. Termasuk kehadiran BUMN masuk kembali ke industri tekstil Tanah Air.

"Kita menyambut baik rencana pemerintah untuk memiliki perusahaan tekstil milik BUMN," kata Jemmy saat dikonfirmasi, Rabu (21/1/2026).

Dia mengatakan, perusahaan tekstil pelat merah bukan hal baru dalam ekosistem industri tekstil nasional. Dahulu, ada PT Industri Sandang Nusantara (ISN) yang belakangan dinyatakan pailit.

Jemmy mewanti-wanti pemerintah untuk mempelajari musabab dari ISN bisa merugi hingga bubar. Utamanya, dalam pertimbangan menghadirkan lagi BUMN Tekstil.

"Seperti dahulu pernah (ada) Industri Sandang Nusantara. Tetapi kita harus memandang ke belakang kenapa pada saat itu BUMN tersebut merugi,” ujarnya.

Punya Pembeda

Jemmy melihat prospek positif dari industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Namun, hal itu perlu dukungan dari aspek regulasi agar mengurangi produk impor.

Pada konteks pengembangan industri, Jemmy juga berkaca pada kesuksesan China yang membangun industri tekstil baru di Guangxi.

“Zona industri tekstil baru di Guangxi dapat menyerap tenaga kerja yang banyak dan tidak membutuhkan (syarat) pendidikan yang terlalu tinggi," jelas dia.

 

 

Pengamat Soroti Strategi Danantara

Pemerintah berencana membentuk BUMN Tekstil baru lewat Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Namun, Danantara diminta agar memiliki strategi yang berbeda agar mampu menangkap potensi pasar dan bersaing.

Associate Director BUMN Research Universitas Indonesia, Toto Pranoto memandang pembeda itu diperlukan mengingat tantangan industri tekstil Tanah Air. Termasuk, tujuannya agar mampu bersaing dengan negara-negara sentra tekstil lainnya.

"Kalau Danantara berencana akan bangun industri tekstil lagi, berarti musti ada strategi diferensiasi yang sangat berbeda supaya ada segmentasi pasar yang berbeda dengan negara kompetitor di Asia," ungkap Toto saat dihubungi Liputan6.com, Selasa (20/1/2026).

 

Daya Saing Anjlok

Dia memandang industri tekstil merupakan sektor padat karya yang membutuhkan banyak pekerja. Tantangan saat ini, industri tekstil RI dihadapkak oleh penurunan daya saing antarnegara di kawasan Asia.

"Menurut saya daya saing tekstil Indonesia merosot karena masalah daya saing teknologi dan biaya SDM yang tidak kompetitif," ujarnya.

Atas hal tersebut, kata Toto, banyak perusahaan beralih ke negara dengan kebijakan upah murah seperti Bangladesh, India, hingga Vietnam.

 

Gandeng Swasta

Toto menyarankan, BUMN tekstil yang dibentuk nantinya turut bekerja sama dengan perusahaan swasta yang sudah menjalankan ekspor produk tekstil. Bisa dibilang, BUMN langsung masuk dalam rantai pasok industri nasional dan regional.

Menurutnya, hal tersebut akan menguntungkan Danantara karena telah lama BUMN tidak masuk dalam industri tekstil nasional.

"Saya kira BUMN sudah lama tidak terlibat di industri ini. Jadi ada baiknya Danantara juga melibatkan exportir tekstil swasta yang berpengalaman buat ber-partner dengan BUMN di tahap awal ini," beber dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6