Biaya Pendidikan hingga Harga Rumah Makin Mahal, Orang Tua Perlu Siapkan Ini

Biaya pendidikan di Indonesia terus mengalami kenaikan signifikan setiap tahunnya. Ketahui berapa anggaran yang harus disiapkan untuk pendidikan anak sampai kuliah, dari TK hingga perguruan tinggi, agar masa depan cerah.

Diterbitkan 12 Agustus 2025, 10:45 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Perencanaan anggaran pendidikan anak memerlukan pertimbangan matang bagi setiap orang tua di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh biaya pendidikan yang terus mengalami kenaikan signifikan setiap tahunnya, seringkali melebihi tingkat inflasi umum yang terjadi. Mempersiapkan dana pendidikan sejak dini menjadi krusial untuk menjamin akses pendidikan berkualitas bagi anak.

Sebagai contoh, biaya masuk sekolah SD di salah satu sekolah national plus ternama senilai Rp 25 juta pada tahun 2014, kini dapat mencapai sekitar Rp 80 juta di 2024. Selain itu, rata-rata kenaikan biaya sekolah dasar (SD) mencapai 12,6% per tahun dalam rentang 2018–2024.

Namun, di saat yang sama, kenaikan gaji orang tua hanya sekitar 2,6% per tahun. Artinya, kenaikan biaya pendidikan anak hampir 5x lebih cepat daripada pertumbuhan penghasilan. 

Selain memastikan kebutuhan jangka pendek terpenuhi, banyak orang tua juga mulai memikirkan kebutuhan jangka panjang — misalnya membelikan aset seperti rumah agar kelak anak tetap memiliki tempat tinggal yang layak dan nyaman, tanpa harus terbebani biaya yang kian tinggi di masa depan.

Walau demikian, terjadi kenaikan yang signifikan pada harga properti yang tercermin dari Indeks Harga Properti Perumahan (IHPP) yang mengalami peningkatan menjadi 110,9% di tahun 2025, dari 102,11% pada 2021. Nilai properti yang terus naik ini akan membuat pembelian properti untuk anak semakin sulit diakses jika tidak direncanakan dari jauh hari. 

Tak hanya biaya pendidikan dan properti, biaya-biaya terkait gaya hidup juga terus membumbung. Misalnya untuk liburan, yang telah menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hidup keluarga.

Contoh termudahnya adalah harga tiket pesawat yang melambung seperti tiket pesawat pulang-pergi Jakarta–Singapura yang semula sekitar Rp4 juta di tahun 2022 naik menjadi Rp6 juta di 2025. Sementara tiket Jakarta–Jepang naik dari Rp6,8 juta menjadi Rp13 juta dalam periode yang sama. Bahkan biaya untuk ibadah seperti umrah pun mengalami kenaikan, dari Rp29 juta pada 2022 menjadi sekitar Rp34 juta pada 2024.

Jika tren ini berlanjut, maka nilai uang yang disiapkan bisa kehilangan separuh kekuatannya dalam beberapa tahun mendatang, dan kekuatan daya beli akan berkurang. Tabungan yang terasa cukup saat ini, belum tentu mampu mengimbangi naiknya kebutuhan anak dan keluarga di masa mendatang.

 

 

 

Inflasi dan Ketidakpastian

Vivin Arbianti Gautama, Chief Customer Marketing Officer Prudential Syariah, mengatakan mempersiapkan masa depan keluarga bukan hanya tentang apa hadiah yang kelak ditinggalkan, tetapi memastikan hadiah yang orang tua siapkan hari ini tetap bernilai bahkan bertumbuh di tengah inflasi dan ketidakpastian.

"Kehadiran kita saat ini adalah hadiah berharga bagi keluarga, namun karena risiko hidup bisa datang kapan saja, penting menyiapkan perlindungan sejak dini yang mampu menjaga nilai dan tumbuh seiring waktu, agar apa yang kita upayakan hari ini tetap memberi arti bagi orang-orang tersayang, bahkan setelah kita tiada," tutur dia.

Ketika bicara soal mempersiapkan masa depan, sebagian besar dari orang mungkin langsung terpikir tentang menabung, menyekolahkan anak setinggi-tingginya, atau memiliki aset seperti rumah.

Tapi hidup sering berjalan tidak sesuai rencana. Musibah, kehilangan penghasilan, atau bahkan kepergian bisa datang tanpa aba-aba — dan saat ketidakpastian itu terjadi, tidak semuanya menyiapkan. 

Sebagai orang tua, tentu ingin meninggalkan “hadiah” yang bukan sekadar harta, tapi juga rasa aman. Supaya anak tetap bisa melanjutkan hidup dengan layak, menyelesaikan sekolah, bahkan punya tempat berpijak di masa depan, meskipun kita sudah tidak lagi ada di samping mereka.

Sayangnya, banyak yang masih merasa persiapan seperti ini bisa ditunda, padahal justru waktu adalah aset terbesar kita selama masih ada kesempatan.

Tanpa perencanaan yang tepat, nilai uang yang hari ini kita kumpulkan bisa menyusut dimakan inflasi. Tabungan yang terasa cukup sekarang, belum tentu bisa mencukupi kebutuhan anak kita 5–10 tahun ke depan. Di sinilah pentingnya memiliki solusi yang tidak hanya tersimpan, tapi juga bisa bertambah nilainya seiring waktu, sehingga apa yang kita siapkan hari ini tetap berarti ketika waktunya tiba.

Dengan asuransi jiwa syariah, kita dapat mempersiapkan jaring pengaman bagi keluarga ketika mereka sangat membutuhkannya, di saat kita sudah tiada. Mempersiapkan peninggalan lebih awal menjadi hadiah terbaik yang bisa kita berikan, bukan untuk hari ini saja, tapi untuk selamanya.

 

Faktor Penting dalam Perencanaan Anggaran Pendidikan

Mengingat besarnya biaya yang dibutuhkan, perencanaan anggaran pendidikan memerlukan strategi yang matang. Beberapa faktor kunci perlu dipertimbangkan untuk memastikan ketersediaan dana yang memadai.

  • Inflasi Pendidikan: Biaya pendidikan di Indonesia terus meningkat, dengan rata-rata kenaikan 10% per tahun, bahkan bisa mencapai 15-20% per tahun untuk sekolah swasta. Angka ini jauh lebih tinggi dari inflasi umum, sehingga perhitungan harus mempertimbangkan kenaikan ini secara realistis.
  • Perencanaan Dini: Penting untuk mulai menabung dan berinvestasi untuk pendidikan anak sedini mungkin, bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Perencanaan yang lebih awal dapat meringankan beban finansial di masa depan karena memiliki lebih banyak waktu untuk mengumpulkan dana.
  • Instrumen Keuangan: Memanfaatkan instrumen investasi yang tepat, seperti reksa dana, saham, atau emas, dapat membantu dana tumbuh seiring waktu. Selain itu, asuransi pendidikan juga bisa menjadi pilihan untuk melindungi dana pendidikan dari risiko tak terduga. Membuka rekening khusus pendidikan juga sangat disarankan untuk memisahkan dana ini dari pengeluaran lain.
  • Komponen Biaya Tambahan: Selain uang pangkal dan SPP, perlu diperhitungkan biaya lain yang sering terlewat. Ini termasuk uang saku, transportasi, buku, alat tulis, seragam, kegiatan ekstrakurikuler, biaya praktikum, dan biaya wisuda. Mengabaikan komponen ini dapat menyebabkan kekurangan dana di kemudian hari.
  • Konsultasi Perencana Keuangan: Berkonsultasi dengan perencana keuangan profesional dapat sangat membantu. Mereka dapat merancang strategi yang tepat dan memilih instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan keluarga Anda.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6