Dirjen Hubdar Curhat: BTS Awalnya Ditolak Pemda, Kini Jadi Diminati Masyarakat

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Irjen Pol (Purn) Aan Suhanan mengapresiasi kepada daerah yang sudah menerima program Buy The Service (BTS).

Diperbarui 08 Agustus 2025, 17:18 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Irjen Pol (Purn) Aan Suhanan, mengatakan Program Buy The Service (BTS) yang digagas Kementerian Perhubungan sempat mendapat penolakan di sejumlah daerah.

Banyak pemerintah daerah (pemda) menilai program ini tidak menarik dan sulit dijalankan, terutama karena belum dipahami manfaat jangka panjangnya. Beberapa daerah bahkan menolak mentah-mentah, menganggap program BTS tersebut hanya akan menjadi beban baru.

"Awalnya ditolak, banyak yang menolak karena program ini pun tidak seksi, tapi manfaatnya untuk masyarakat luar biasa," kata Aan dalam diskusi Masa Depan mobilitas Kota, di Jakarta, Jumat (8/8/2025).

Namun, setelah lima tahun berjalan, program BTS mulai menunjukkan hasil konkret. Daerah-daerah yang dulu ragu kini bisa merasakan manfaatnya, terutama dalam menyediakan moda transportasi massal yang terjangkau, aman, dan nyaman bagi warganya.

Bahkan, sebagian sudah mengelola layanan ini secara mandiri tanpa bergantung penuh pada bantuan pusat.

"Dan setelah lima tahun baru dirasakan manfaat ini. Jadi ini terima kasih kepada daerah yang sudah menerima, dan sekarang sudah mandiri, banyak kota-kota yang melaksanakan prorgam BTS ini secara mandiri," ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa BTS kini telah diterapkan di 14 kota di Indonesia. Penerimaan masyarakat pun semakin positif, seiring dengan meningkatnya pemahaman akan pentingnya sistem transportasi massal yang terorganisasi.

Dari Stimulus Jadi Gerakan Mandiri Daerah

Aan menjelaskan, program BTS dirancang bukan hanya sebagai layanan transportasi semata, tetapi juga sebagai stimulus bagi pemda untuk mulai serius menata sistem angkutan umum di wilayahnya.

Beberapa kota kini bahkan telah menjalankan program BTS secara mandiri. Salah satu contohnya adalah Semarang dan sejumlah wilayah di Jawa Tengah, yang berhasil menjadikan BTS sebagai bagian penting dari sistem transportasi kota. Mereka telah membuktikan bahwa ketika ada komitmen, transformasi layanan publik bisa terjadi.

"Ada di 14 kota, di beberapa kota, salah satunya ya Semarang atau Jawa Tengah, ini yang sudah melaksanakan secara mandiri," ujarnya.

 

BTS Jadi Wajah Modernisasi Kota

Aan mengatakan, adanya program BTS menjadi indikator kemajuan sebuah kota. Masyarakat kini mulai beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

Load factor atau tingkat keterisian bus dalam program BTS telah menembus angka 50 persen di berbagai kota, mencerminkan tingginya minat dan kebutuhan warga akan moda transportasi massal yang dapat diandalkan.

"Ini syukur alhamdulillah dari 14 kota ini kita sudah melihat ada peningkatan load factornya sudah 50 persen lebih, kalau kita lihat di kota-kota yang sudah ada BTS data Mitra darat 50 persen lebih sudah mulai terisi," pungkasnya.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6