Rupiah Berpotensi Menguat pada Perdagangan Senin 12 September 2022

Rupiah diprediksi menguat pada perdangan Senin (12/9/2022).

Diterbitkan 10 September 2022, 06:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Pada perdagangan Jumat (9/9/2022) Rupiah ditutup menguat 70 poin walaupun sempat menguat 80 poin di level Rp 14.830. Sedangkan, pada penutupan perdagangan sebelumnya Rupiah berada di posisi 14.917.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Rupiah berpotensi menguat pada perdagangan Senin, 12 September 2022.

“Mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp 14.800 hingga Rp 14.860,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Jumat, 9 September 2022.

Secara internal, pemerintah telah menghitung dampak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi terhadap inflasi. Dalam hitungannya, dampak dari kenaikan harga BBM ini dapat mengerek inflasi hingga 1,8 persen. 

Namun, dengan adanya tingkat risiko yang tinggi dari inflasi tersebut, pemerintah enggan untuk berdiam diri. Oleh karena itu pemerintah pusat akan mengawasi lebih ketat terhadap pemerintah daerah untuk melakukan antisipasi terhadap ancaman kenaikan inflasi. 

Misalnya, dengan memberikan bantuan sosial, penggunaan dana belanja tak terduga untuk mengatasi kenaikan biaya transportasi saat distribusi barang. 

Melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 134/PMK.07/2022 yang diterbitkan oleh pemerintah, maka Pemda berkontribusi memberikan dukungannya berupa penganggaran belanja wajib perlindungan sosial untuk periode Oktober sampai dengan Desember 2022 sebesar 2 persen dari Dana Transfer Umum (DTU) diluar Dana Bagi Hasil (DBH) yang ditentukan penggunaannya.

Namun, belanja wajib perlindungan sosial tidak termasuk belanja wajib 25 persen dari DTU yang telah dianggarkan pada APBD Tahun Anggaran 2022. 

Adapun belanja wajib tersebut dipergunakan untuk memberikan bantuan sosial kepada ojek, UMKM, dan nelayan, memberikan subsidi pada sektor transportasi, serta menciptakan lapangan kerja.

Dengan begitu, efektivitas pelaksanaan bantuan sosial sangat diperlukan. Maka, pengelolaan dan pemantauan atas pelaksanaan belanja wajib dilaksanakan oleh Kepala Daerah dan diawasi pelaporannya oleh Aparat Pengawas Internal Pemerintah Daerah agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat yang terdampak inflasi.

 

Indeks Dolar AS Melemah

Di sisi lain, Indeks dolar AS dan indeks dolar berjangka keduanya kehilangan 0,6 persen setelah Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga pada Kamis.

Bank Sentral Eropa menaikkan suku bunga dengan rekor 75 basis poin (bps), mengambil suku bunga deposito di atas 0 persen untuk pertama kalinya sejak 2012 ECB mengatakan pihaknya memperkirakan akan terus menaikkan suku bunga untuk meredam permintaan, dengan memprioritaskan perang melawan inflasi.

Adapun semalam, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bank akan bertindak "kuat" untuk mengendalikan inflasi. Komentarnya melihat para pedagang mulai menetapkan harga dalam peluang lebih dari 85 persen bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin bulan ini.

Penurunan klaim pengangguran AS juga menunjukkan kekuatan di pasar tenaga kerja, memberi The Fed lebih banyak ruang untuk menaikkan suku bunga.

Rupiah Menguat Usai Bank Sentral Eropa Kerek Suku Bunga Acuan

Sebelumnya, nilai tukar rupiah menguat jelang akhir pekan, seiring kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Sentral Eropa atau European Central Bank (ECB).

Kurs rupiah pagi ini menguat 26 poin atau 0,17 persen ke posisi 14.875 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.901 per dolar AS.

"Nilai tukar rupiah berpotensi menguat hari ini terhadap dolar AS seiring dengan kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Eropa semalam sebesar 75 basis poin," kata Pengamat Pasar Uang Ariston Tjendra saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Menurut Ariston, kenaikan suku bunga acuan ECB sedikit banyak mengurangi tekanan penguatan dolar AS. Indeks dolar AS terlihat mengalami koreksi.

Tapi di sisi lain, lanjut Ariston, pergerakan nilai tukar terhadap dolar AS masih belum lepas dari isu kenaikan lanjutan suku bunga acuan AS.

 

Selanjutnya

Semalam Gubernur Federal Reserve (Fed) Jerome Powell masih menegaskan bahwa fokus bank sentral adalah menurunkan tingkat inflasi AS secara signifikan mendekati target 2 persen.

"Ini artinya kenaikan suku bunga acuan sebagai alat moneter untuk mengendalikan inflasi bakal terus dijalankan. Hal ini masih akan memberi tekanan ke rupiah," ujar Ariston. 

Dari dalam negeri, Ariston menilai pelaku pasar masih mengamati isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan inflasi yang bisa memberikan tekanan ke rupiah.

Ariston memperkirakan hari ini rupiah akan bergerak di kisaran level 14.850 per dolar AS hingga 14.920 per dolar AS.

Pada Kamis, 8 September 2022, rupiah ditutup menguat 17 poin atau 0,11 persen ke posisi 14.901 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.918 per dolar AS.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6