Sukses

Bos Sinemart Ungkap Biaya Bikin Film di Indonesia, Thailand, dan Malaysia, Mana Termahal?

Liputan6.com, Jakarta Direktur Utama Sinemart David Suwarto menyampaikan pembuatan film di Indonesia masih lebih mahal dibanding Thailand dan Malaysia. Sementara, Indonesia berada jauh dibawah Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Hal ini disampaikannya berkaitan dengan perkembangan industri media, termasuk film di tanah air. Biaya, menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan disamping konsep film tersebut.

"Di Indonesia itu ada USD 100 juta setiap tahun untuk film, di Amerika itu kira-kira seratus kali lipatnya. Korea lebih besar dari kita, tapi kita lebih besar dari Thailand dan Malaysia," kata dia dalam Webinar bertajuk 'Dibalik Layar' Emtek Career Festival, Kamis (4/8/2022).

Menurut data yang ditampilkannya, dalam satu tahun ada USD 121,02 total biaya yang dikeluarkan untuk film di Indonesia. Sementara, hanya USD 16,03 juta, dan Malaysia hanya USD 20,19 juta.

Disamping itu, di Amerika Serikat ada USD 11.377 juta untuk film. Serta Korea Selatan mencapai USD 794,844 juta untuk film dalam satu tahun.

Dari sisi jumlah rilis lokalnya, film di Indonesia cukup banyak yang dirilis selama satu tahun, mencapai 128 film. Amerika Serikat paling banyak dengan 856 film.

Korea Selatan tercatat merilis 88 film dalam setahun, Thailan sekitar 50 film, dan Malaysia 9 film.

Berbeda lagi dari sisi pendapatan dari penjualan tiket. Dari jumlah biaya dan banyaknya jumlah film tadi, David mengungkap pendapatan yang didapat oleh film dari penjualan tiket tidaklah besar.

"Ternyata jumlah film yang kita buat cukup banyak untuk total gross uang yang bisa didapatkan dari jualan tiket tersebut, sehingga setiap film di Indonesia itu hanya mendapatkan kurang dari 1 juta dolar," ujarnya.

Menurut datanya, hanya ada USD 950 Ribu yang didapatkan oleh film dari keuntungan penjualan tiket. Sementara, Amerika berhasil membagi USD 13,29 juta, Korea USD 9,03 juta, Thailan USD 320 ribu, dan Malaysia USD 2,24 juta.

 

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Jadi Masalah

Dari fenomena tersebut, David menilai dengan tidak imbangnya antara pengeluaran untuk pembuatan film dan pendapatan dari penjualan tiket jadi salah satu masalah industri kreatif dalam negeri.

Mengacu perolehan dibawah USD 1 Juta saja, ia bisa melihat ada fenomena dimana beberapa film bisa populer. Di sisi lain ada film yang bahkan tak bisa menutup biaya produksinya.

"Itu yang menjadi masalah, salah satu masalah utama yang kita hadapi di industri ini adalah size atau ukuran industrinya masih banyak bisa berkembang," kata dia.

"Dan kita perlu untuk mengembangkan ini, supaya kita bisa menjajaki genre-genre atau teknik-teknik film making yang lebih advance lagi, yang membutuhkan waktu atau biaya yang lebih besar," imbuhnya.

David juga mengisahkan, dalam pembuatan film di Indonesia masih ada perbedaan pandangan. Misalnya dari sisi penganggaran atau budgeting dan perencanaan konsep film.

Jika di Indonesia, biasanya berangkat dari besaran buget yang dimiliki, baru kemudian masuk kepada konsep. Sementara di Amerika Serikat cenderung lebih dulu konsep dan budget semaksimal mungkin menyesuaikan.

"Itu betul sekali, karena budget terbatas, kalau di luar negeri seringkali mereka mulai dari konsep dulu. Baru dihitung budget-nya berapa, kemudian diitung semaksimal mungkin budgetnya berapa sesuai dengan visi dari produser pembuat konsep," bebernya.

 

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS