Sukses

Saham Perusahaan Anjlok, Harta Miliarder China Amblas Rp 36 Triliun dalam Sehari

Liputan6.com, Jakarta - Profesor sekaligus miliarder pendiri raksasa Artificial Intelligence China SenseTime, yakni Tang Xiao'ou, kehilangan kekayaaan hingga USD 2,4 miliar atau setara Rp. 36 triliun hanya dalam satu hari. 

Penurunan kekayaan itu terjadi karena saham SenseTime yang terdaftar di Hong Kong merosot 51 persen setelah periode penguncian berakhir pada Kamis (30/6). 

Dilansir dari Forbes, Sabtu (2/7/2022) kekayaan bersih miliarder berusia 54 tahun itu sekarang bernilai USD 3 miliar atau setara Rp. 44,9 triliun, yang didasarkan pada kepemilikannya atas 6.906.1 juta saham kelas A di SenseTime.

Penguncian sebagian saham kelas B SenseTime, termasuk yang dimiliki oleh investor utama, telah berakhir hari ini.

Namun saham A yang dimiliki oleh pendiri Tang Xiao'ou, yang merupakan direktur eksekutif dan pemegang saham terbesar perusahaan itu, masih dikenakan pembatasan penjualan.

Manajemen SenseTime mengumumkan bahwa pihaknya akan secara sukarela memperpanjang penguncian saham kelas B yang dimiliki hingga 29 Desember mendatang.

Kepala Eksekutif SenseTime Xu Li, kepala ilmuwan Wang Xiaogang dan salah satu pendiri lainnya yakni Xu Bing juga membeberkan dalam pengajuan ke Bursa Efek Hong Kong, bahwa keputusan ini diambil "untuk mengekspresikan kepercayaan mereka pada nilai jangka panjang dan prospek perusahaan.

Direktur bank investasi yang berbasis di Beijing, Chanson & Co menyebutkan bahwa saham SenseTime turun karena investor menilai kembali prospek laba perusahaan. 

"Valuasi pasar sebelumnya terlalu tinggi," kata Shen.

"R&D SenseTime diarahkan pada apa yang disebut teknologi inti. Tapi ada banyak ketidakpastian dan akan memakan waktu cukup lama untuk pengeluaran yang menghasilkan keuntungan sebenarnya," tambahnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Gerah Ada Lockdown Covid-19, Miliarder Video Game China Ingin Hengkang ke Negara Lain

Salah satu pendiri perusahaan video game terbesar di China, XD, yakni Huang Yimeng mengungkapkan akan pindah bersama keluarganya ke luar negeri tahun depan.

Rencana pindahnya sang miliarder datang menyusul sejumlah besar orang kaya di China yang mempertimbangkan migrasi di tengah pembatasan Covid-19 di negara itu. 

Dilansir dari South China Morning Post, Kamis (30/6/2022) Huang mengatakan dalam sebuah memo internal yang dilihat oleh karyawan XD bahwa pemindahan tersebut akan dilakukan setelah liburan musim panas berikutnya.

Namun, Huang tidak mengungkapkan negara tujuan untuk tempat tinggal barunya nanti,

Pihak XD mengkonfirmasi keaslian memo tersebut dan mengatakan Huang tidak berencana untuk melepaskan kewarganegaraan China-nya. 

Keputusan Huang untuk pindah bersama keluarganya datang setelah Shanghai baru-baru ini mencabut lockdown Covid-19 yang berlangsung selama dua bulan sejak 1 April 2022.

"Dalam situasi ideal, kebijakan pencegahan Covid-19 China akan dilonggarkan dalam setahun, hubungan internasional akan kurang tegang dan lebih terbuka, dan kita semua dapat sering bepergian untuk tujuan pribadi dan pekerjaan," tulisnya dalam memo internal.

Saham XD ditutup turun 15,5 persen menjadi USD 2,71 pada Selasa (28/6).

Huang tidak menyebut lockdown Covid-19 di Shanghai sebagai alasan di balik rencana relokasinya, namun sebuah tangkapan layar memo Huang yang beredar di media sosial China telah menarik diskusi tentang meningkatnya jumlah keluarga kelas menengah yang ingin meninggalkan negara itu.

Banyak yang mengutip kekhawatiran atas lockdown berkepanjangan dan aturan tes Covid-19 massal yang berulang.

Keputusan Huang juga muncul saat perusahaannya mempercepat ekspansi ke luar negeri di tengah meningkatnya persaingan dan peraturan yang diperketat di dalam negeri.

3 dari 3 halaman

Jualan Pakai Platform Streaming, Taipan Bimbel China Kembali Jadi Miliarder

Michael Minhong Yu, pendiri perusahaan bimbingan belajar di China, New Oriental Education, kembali memasuki peringkat miliarder dunia.  Namun, kesuksesan miliarder berusia 60 tahun ini tidak hanya berhubungan dengan jasa bimbingan belajarnya.

Dalam upaya menghasilkan pendapatan setelah regulator China tahun lalu memerintahkan semua perusahaan bimbel menjadi nirlaba, Yu menambahkan jasa New Oriental yang mulanya hanya bimbel, kini juga menyediakan platform siaran langsung untuk aktivitas pembelian produk (bisnis e-commerce).

Dikutip dari Forbes, Sabtu (18/6/2022) Yu bersama dengan beberapa mantan guru bahasa Inggrisnya, kini memanfaatkan tayangan live streaming untuk berjualan berbagai macam barang seperti makanan hingga kebutuhan sehari-hari lainnya.

Bagi penonton, tayangan New Oriental Education memiliki satu nilai jual yang unik.

Setelah awal yang lesu, pembawa acara streaming langsung New Oriental sekarang menggabungkan pengajaran bahasa Inggris dengan penjualan barang.

Mulai pekan lalu, para mantan guru bahasa Inggris kerap mengeluarkan papan tulis untuk mengajarkan kosakata kepada pemirsa terkait merchandise yang mereka promosikan.

"Para guru hebat dalam menjual barang!" tulis seorang pengguna di Weibo, platform media sosial China.

"Mereka sangat fasih dan saya bahkan mencatat kata-kata bahasa Inggris baru sambil menonton," ungkap mereka.

Karena jumlah penonton yang melonjak dan penjualan kemudian meningkat, saham New Oriental yang terdaftar di Hong Kong telah melonjak lebih dari 80 persen dari posisi terendah di bulan Mei 2022.

Yu, yang memiliki 11,6 persen saham di perusahaan itu, sekarang mengantongi kekayaan bersih bernilai USD 1,1 miliar atau setara Rp. 16,3 triliun, menurut Real-Time Billionaires List.

Kekayaannya juga termasuk dividen saham dan hasil sebelumnya dari pelepasan saham New Oriental.