Cat Yacht Kurang Berkilau Seperti Cermin, Picu Gugatan Rp 1,7 Triliun Miliarder Rusia

Kapal pesiar super mewah pesanan miliarder Rusia bergaya futuristis yang terinspirasi dari bentuk kapal selam itu berbeda dari apapun yang pernah ada di dunia

Diterbitkan 27 Juli 2026, 21:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ada-ada saja memang ulah miliarder bila keinginannya tidak terturuti. Seperti miliarder Rusia Andrey Melnichenko yang menggugat perusahaan cat sebesar Rp 1,6 triliun. Gugatan dilayangkan karena dia tidak puas saat memesan sebuah Motor Yacht A, yang bisa tampil sempurna sesuai keinginannya.

Kapal pesiar super mewah bergaya futuristis yang terinspirasi dari bentuk kapal selam itu berbeda dari apapun yang pernah ada di dunia. Kapal tersebut memadukan filosofi desain radikal Philippe Starck dengan teknologi rekayasa mutakhir.

Namun, alih-alih menjadi simbol hasil pengerjaan tanpa cela, kapal pesiar itu justru menjadi pusat salah satu sengketa hukum paling luar biasa dalam sejarah maritim. Penyebabnya, sang pemilik mengklaim bahwa lapisan akhir (finishing) kapal yang seharusnya berkilau ternyata tidak cukup mengilap saat terkena sinar matahari.

Melansir laman luxurylaunches.com, Senin (27/7/2026), perselisihan tersebut akhirnya membuat Melnichenko mengajukan gugatan di New Jersey, dengan tuntutan ganti rugi lebih dari USD$ 100 juta terhadap raksasa industri cat AkzoNobel.

Dalam gugatannya, Melnichenko menuduh bahwa lapisan akhir (finishing) kapal pesiar tersebut gagal memberikan efek pantulan seperti cermin sebagaimana yang telah dijanjikan.

Sebaliknya, permukaan kapal justru menampilkan garis-garis dan permukaan yang melorot, serta berbagai cacat lain seperti ruam pada lapisan cat, bercak-bercak, lapisan yang terpisah, pola retak menyerupai bintang (starring), pengenduran (sagging), dan tampilan yang secara keseluruhan tampak keruh saat terkena sinar matahari.

Kasus ini juga mengungkap bahwa AkzoNobel sebelumnya telah mengecat ulang kapal tersebut dengan biaya sendiri setelah menerima keluhan awal. Namun, hasil pengecatan kedua itu juga ditolak Melnichenko, sehingga miliarder tersebut memutuskan membawa sengketa tersebut ke pengadilan.

Berbeda dengan kebanyakan sengketa terkait pelapis kapal, yang biasanya berkaitan dengan cat mengelupas atau korosi, gugatan ini hampir sepenuhnya berfokus pada penampilan visual.

Menurut isi gugatan, lapisan akhir (finishing) kapal tersebut gagal menghasilkan permukaan yang sangat reflektif seperti cermin, sebagaimana yang diharapkan pada salah satu kapal pesiar pribadi paling ikonik di dunia.

Melnichenko berpendapat bahwa berbagai ketidaksempurnaan tersebut merusak daya tarik visual kapal pesiar itu. Karena itu, dalam dokumen gugatan, tuntutan ganti rugi atas kerugian yang disebut, di luar biaya jasa pengacara dan biaya proses litigasi.

Dibantah Perusahaan Cat

AkzoNobel dengan tegas membantah seluruh tuduhan tersebut. Dalam pembelaannya, perusahaan berargumen bahwa perkara ini tidak memenuhi syarat sebagai gugatan tanggung jawab produk (product liability) berdasarkan hukum New Jersey. Itu karena ketidakpuasan terhadap tingkat kilau lapisan cat tidak dapat dianggap sebagai kerugian yang diakui secara hukum.

Perusahaan juga menyatakan bahwa gugatan tersebut pada dasarnya hanya menuduh cat itu merusak dirinya sendiri, bukan menyebabkan kerusakan pada kapal pesiar. Selain itu, AkzoNobel berpendapat bahwa setiap penurunan kualitas lapisan cat merupakan akibat paparan normal terhadap sinar matahari, air laut, dan lingkungan maritim.

Laporan selama persidangan juga mengutip kesaksian seorang ahli cat kapal, yang menyatakan bahwa tidak ditemukan cacat permukaan yang serius yang dapat memengaruhi tingkat reflektivitas lapisan cat.

Sementara itu, sumber lain menyebutkan bahwa hasil inspeksi independen tidak menemukan masalah berarti, dan pemilik kapal sebelumnya juga telah menyatakan menerima hasil pengerjaan tersebut.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6