Kalbe Kaji Opsi Delisting Anak Usaha EPMT

PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT), anak usaha distribusi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatat free float saham sekitar 7,53%.

Diterbitkan 11 September 2026, 15:25 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT), anak usaha distribusi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), kembali menghadapi ancaman lama yang belum juga tuntas yakni kewajiban memenuhi porsi saham publik minimum (free float) yang ditetapkan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sejak awal 2024, Kalbe Farma sudah beberapa kali melepas sebagian kepemilikannya di EPMT demi mengejar syarat free float bursa. Pada awal 2024, perseroan umumkan rencana pelepasan 5-6 juta saham EPMT ke publik. Pada akhir September 2025, EPMT kembali melepas 5,5 juta saham dengan harga Rp 2.400 per lembar, meraup dana sekitar Rp 31 miliar.

Direktur Kalbe Farma, Kartika Setiabudy, mengakui target itu masih belum tercapai. "Memang salah satu anak perusahaan kami saat ini secara free float belum memenuhi persyaratan yang baru yang diminta oleh IDX," kata dia.

Hal itu merujuk pada EPMT yang porsi saham publiknya masih di kisaran 7,53%, jauh dari ketentuan minimum 12,5% pada Maret 2027, dan 15% pada Maret 2028.

Dengan upaya-upaya yang belum membuahkan hasil signifikan, Kalbe mengaku tengah mengkaji dua opsi sekaligus yakni menambah porsi free float secara bertahap, atau justru menarik EPMT keluar dari bursa (delisting). "Kita sedang melakukan perhitungan secara internal dan juga menjajaki secara eksternal mengenai kemungkinan untuk memperoleh tambahan free float," ujar Kartika.

Kali ini, opsi delisting benar-benar dipertimbangkan sebagai alternatif, bukan rencana cadangan. "At the same time, kita juga menjajaki potensi untuk melakukan delisting sekiranya memang penanganan free float ini sulit untuk dilakukan," ujar dia.

Terlepas dari opsi mana yang akhirnya dipilih, Kartika memastikan Kalbe akan tunduk pada aturan bursa. "Kita akan comply dengan peraturan IDX," ucapnya sambil menegaskan keterbukaan terhadap masukan pasar untuk opsi terbaik yang harus ditempuh.

Kinerja Semester I 2026

Sebelumnya, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencatat kinerja keuangan beragam sepanjang semester I 2026. Perseroan mencatat pertumbuhan penjualan tetapi laba turun hingga 30 Juni 2026.

Mengutip laporan keuangan yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu, (1/8/2026), PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) meraup penjualan Rp 19,47 triliun hinggga 30 Juni 2026. Penjualan perseroan naik 14,04% dari periode sama tahun sebelumnya Rp 17,07 triliun.

Beban pokok penjualan naik 20,71% menjadi Rp 12,16 triliun hingga Juni 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 10,07 triliun. Seiring hal itu, laba bruto perseroan naik 4,45% menjadi Rp 7,31 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 7 triliun.

Perseroan mencatat kenaikan beban penjualan menjadi Rp 3,85 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 3,56 triliun. Beban umum dan administrasi bertambah menjadi Rp 748,06 miliar dari semester I 2025 sebesar Rp 723,88 miliar. Sementara itu, beban penelitian dan pengembangan turun menjadi Rp 235,74 miliar hingga semester I 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 248,46 miliar.

Pendapatan operasi lainnya turun menjadi Rp 44,18 miliar hingga semester pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 99,40 miliar. Beban operasi lainnya naik menjadi Rp 90,83 miliar hingga semester pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 38,20 miliar. Perseroan juga mencatat kenaikan laba entitas asosiasi sebesar Rp 46,79 miliar hingga 30 Juni 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 35,24 miliar.

 

 

 

Aset Perseroan

Perseroan mencatat laba periode berjalan turun 2,7% menjadi Rp 1,97 triliun hingga 30 Juni 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 2,02 triliun.

Sedangkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 2,8% menjadi Rp 1,91 triliun dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,97 triliun.

Perseroan mencatat laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp 42,42 hingga semester pertama 2026 dari periode sama tahun sebelumnya Rp 43,35.

Total ekuitas naik menjadi Rp 25,76 triliun hingga 30 Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 24,72 triliun. Liabilitas naik menjadi Rp 7,3 triliun hingga 30 Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 5,97 triliun. Aset perseroan naik menjadi Rp 33,07 triliun hingga 30 Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 30,69 triliun. Perseroan kantongi kas dan setara kas sebesar Rp 4,83 triliun hingga 30 Juni 2026 dari Desember 2025 sebesar Rp 4,33 triliun.