Sukses

Rupiah Berpotensi Melemah Lawan Dolar AS, Sentimen The Fed Biangkeroknya

Liputan6.com, Jakarta Nilai tukar rupiah terhadap doalr AS pada Selasa ini diproyeksikan masih akan dibayangi sentimen kenaikan suku bunga yang lebih agresif oleh bank sentral AS The Fed.

Rupiah pagi ini bergerak menguat 14 poin atau 0,1 persen ke posisi 14.559 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.573 per dolar AS.

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan, nilai tukar rupiah masih berpotensi untuk melemah hari ini terhadap dolar AS.

"Sentimen pasar kelihatannya masih kuat mendukung penguatan dolar AS karena ekspektasi pengetatan moneter AS yang agresif ke depannya," ujar Ariston, seperti dikutip dari Antara, Selasa (10/5/2022).

Indeks saham Asia juga bergerak negatif pagi ini mengikuti penurunan dalam indeks saham AS dan Eropa semalam.

Menurut Ariston, pelaku pasar masih melakukan penyesuaian portofolio mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan AS yang lebih tinggi.

 

2 dari 4 halaman

Sentimen Dalam Negeri

Sementara itu, lanjut Ariston, angka pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2022 yang positif, mungkin belum bisa menahan pelemahan rupiah karena kuatnya sentimen pasar terkait kenaikan suku bunga The Fed tersebut.

"Tapi data ini akan menjadi pertimbangan pasar ketika pelaku pasar kembali masuk ke aset berisiko," kata Ariston.

Ariston memperkirakan rupiah akan bergerak melemah ke kisaran 14.600 per dolar AS dengan potensi support di kisaran 14.550 per dolar AS.

Pada Senin (9/5), rupiah ditutup melemah 93 poin atau 0,64 persen ke posisi 14.573 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 14.480 per dolar AS.

3 dari 4 halaman

Rupiah Berpotensi Melemah Selasa 10 Mei 2022

Pada perdagangan Senin (9/5/2022) Rupiah ditutup melemah 92 poin walaupun sebelumnya sempat melemah 95 poin di level Rp 14.572.

Sedangkan, pada penutupan perdagangan sebelumnya rupiah berada di posisi 14.480. Direktur PT TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Rupiah berpotensi melemah pada perdagangan Selasa, 10 Mei 2022.

“Mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 14.450 hingga Rp 14.600,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, Senin (9/5/2022). 

Secara internal, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia pada kuartal I 2022 tumbuh 5,01 persen secara year on year. Pertumbuhan ini ditopang pulihnya sejumlah aktivitas ekonomi pasca-pandemi Covid-19. 

Pertumbuhan signifikan ini juga karena ada low base effect pada kuartal I 2021 yang diketahui ekonomi Indonesia terkontraksi 0,7 persen.

Pada kuartal yang sama 2021 lalu, pertumbuhan ekonomi masih minus 0,7 persen. Inilah yang disebut low base effect atau kecenderungan pertumbuhan dari nilai yang kondisi awalnya rendah.

Meski tumbuh tinggi, perekonomian tanah air secara kuartal menurun bila dibandingkan dengan Kuartal Keempat 2021. Penurunannya sebesar 0,96 persen. 

 

4 dari 4 halaman

Selanjutnya

Dengan pertumbuhan ekonomi ini, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku pada kuartal I 2022 mencapai Rp 4.513 triliun. Sedangkan nilai PDB atas dasar harga konstan Rp 2.819 triliun.

Sedangkan menurut lapangan usaha, 65,74 persen PDB berasal dari sektor industri, perdagangan, pertanian, pertambangan, dan konstruksi. 

Sementara itu berdasarkan komponen pengeluaran distribusi, PDB kuartal I 2022 berasal dari konsumsi rumah tangga dan investasi.

Pergerakan mobilitas penduduk pada kuartal I 2022 juga sudah sangat baik. Kondisi ini memberi dampak positif kepada pertumbuhan produksi, konsumsi, dan investasi.