Sukses

4 Kali Ganti Dirut, PLN Tak Putus Diterpa Masalah

Liputan6.com, Jakarta - PT PLN (Persero) baru saja menghadapai krisis pasokan batu bara untuk sistem kelistrikan di Tanah Air. Situasi ini membuat pemerintah terpaksa mengeluarkan kebijakan larangan ekspor batu bara, hingga berujung pencopotan direksi PLN.

Catatan tersebut menambah panjang daftar masalah yang dimiliki PLN selama beberapa tahun terakhir. PLN bahkan tercatat telah dinakhodai empat direktur utama berbeda selama 4 tahun terakhir sejak 2019.

Pergantian bos pertama bermula ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan adanya kasus suap pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Riau-1 pada 13 Juli 2018. Proyek tersebut terpaksa diberhentikan oleh Dirut PLN kala itu, Sofyan Basir pada 16 Juli 2018.

Naasnya, KPK pada akhirnya turut menciduk Sofyan Basir sebagai salah satu tersangka korupsi karena menerima janji pemberian fee untuk proyek pembangunan PLTU Riau-1. Pemerintah kemudian menonaktifkannya pada April 2019.

Kementerian BUMN yang kala itu dipimpin Rini Soemarno lantas mengangkat Djoko Rahardjo Abumanan sebagai Plt Dirut PLN pada 29 Mei 2019. Namun, posisi Djoko di kursi tertinggi perseroan hanya berlangsung kurang dari 3 bulan.

Posisinya kemudian digantikan Sripeni Inten Cahyani pada 2 Agustus 2019. Sripeni sendiri tergolong sebagai orang baru di PLN. Dia baru masuk sejak Mei 2019 untuk menjabat posisi Direktur Pengadaan 1 PLN.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Langsung Kena Blackout

Baru saja menjabat sebagai Plt Dirut 2 hari, Sripeni langsung dihajar kasus pemadaman total (blackout) listrik di hampir seluruh Jawa dan Bali pada 4 Agustus 2019.

Blackout listrik ini terjadi karena turun drastisnya aliran listrik di Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) Ungaran-Pemalang 500 KV.

Kejadian ini langsung mengundang reaksi Presiden Joko Widodo (Jokowi), yang segera mendatangi Kantor Pusat PLN guna mendapat penjelasan. Sripeni dan kolega pun lantas kena semprot Jokowi akibat kejadian tersebut.

Setelah kasus ini, posisi Sripeni sebagai bos tertinggi PLN masih bertahan hingga Desember 2019. Jabatannya kemudian diserahkan kepada Zulkifli Zaini yang kala itu merupakan Komisaris Independen Bank Negara Indonesia (BNI).

 

3 dari 4 halaman

Dinakhodai Bankir

Zulkifli Zaini resmi diangkat jadi Dirut PLN oleh Menteri BUMN Erick Thohir pada 23 Desember 2019. Nama tersebut sudah banyak malang melintang di perusahaan pelat merah, dan sempat mengisi Dirut Bank Mandiri pada 2010-2013.

Dengan masuknya bankir kenamaan itu, PLN berhasil memompa pendapatan usaha yang mencapai Rp 345,4 triliun dengan kenaikan laba bersih 39,3 persen menjadi Rp 5,99 triliun pada 2020.

Di tangan Zulkifli, PLN juga mampu menurunkan jumlah rasio utang sebesar Rp 452,4 triliun.

Tapi lagi-lagi, kursi panas Dirut PLN kembali memakan korban saat diduduki Zulkifli Zaini. Dia harus merelakannya saat dicopot oleh Erick Thohir pada 6 Desember 2021.

Erick sejauh ini memang belum memberikan alasan pasti terhadap keputusan itu. Namun tak lama pasca pencopotan Zulkifli, diketahui PLN tengah kekurangan pasokan batubara untuk sistem kelistrikan nasional.

 

4 dari 4 halaman

Darmawan Prasodjo Naik, Masalah Belum Selesai

Kursi Dirut PLN selanjutnya diberikan kepada Darmawan Prasodjo yang sebelumnya mengisi kursi Wakil Direktur Utama di bawah Zulkifli Zaini pada 6 Desember 2021.

Krisis batubara jadi masalah pertama yang harus dituntaskannya, hingga memaksa pemerintah mengeluarkan kebijakan ekspor batubara pada 1-31 Januari 2022.

Masalah tidak selesai di situ, Darmawan kedapatan positif Covid-19 saat Erick Thohir dan Menteri ESDM Arifin Tasrif melakukan sidak di Kantor Pusat PLN, Selasa (4/1/2022) untuk memastikan pengamanan stok batubara.

Aksi sidak turut memakan korban Rudy Hendra Prastowo, yang dicopot dari kursi Direktur Energi Primer PT PLN (Persero). Posisinya digantikan Hartanto Wibowo, yang sebelumnya merupakan Direktur PLN Batu Bara.

Tugas besar langsung diberikan kepada Hartanto untuk menjaga pasokan listrik tetap aman. Sebab, 10 juta pelanggan listrik PLN terancam terkena pemadaman lantaran 20 pembangkit tidak mendapat pasokan batu bara.

"Karena itu saya putuskan saya mengganti (Direktur Energi Primer PLN) dan saya pastikan dalam 1-2 hari saudara Hartanto harus melakukan perbaikan-perbaikan. Saya juga minta sama saudara Hartanto hal-hal yang kita alami seperti ini (krisis batubara) tidak boleh terjadi lagi," pinta Erick Thohir.