Bahlil Tegaskan Harga DMO Batu Bara Tetap US$ 70 per Ton

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan harga DMO batu bara belum berubah dan membentuk tim khusus demi amankan pasokan listrik PLN.

Diterbitkan 23 Juni 2026, 11:15 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, harga patokan domestic market obligation (DMO) batu bara belum mengalami perubahan. Produsen batu bara juga disebut tidak lebih memilih menjual ke luar negeri daripada memasok ke PT PLN (Persero).

Bahlil menyebut, harga patokan DMO batu bara masih US$ 70 per ton, angka yang berlaku sejak lama. Menurutnya, perubahan harga DMO tersebut masih dalam proses kajian.

"Enggak ada (perubahan), DMO tetap. Kita masih kaji, belum ada keputusan," kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Selasa (23/6/2026).

Terpisah, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno juga mengatakan bahwa belum ada perubahan harga acuan DMO batu bara dalam waktu dekat.

"Belum, ya belum, rasanya belum," ucap dia.

Menurutnya, kendala pasokan batu bara ke pembangkit PLN bukan karena produsen lebih memilih menjual ke luar negeri, melainkan karena adanya masalah pada rantai pasok ke pembangkit listrik.

"Enggak ada juga. Kemarin kan kita tahan. Kita ada beberapa yang mau penjualan luar negeri sudah kita tahan, kita alihkan ke PLN. Jadi sebetulnya supply chain saja yang mesti diperbaiki, kalau isu batu bara enggak ada," beber dia.

 

Bahlil Enggan PLN Kekurangan Batu Bara Lagi

Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tidak ingin kendala pasokan batu bara ke pembangkit listrik terjadi berulang. Untuk itu, dia membentuk tim khusus pengadaan batu bara ke pembangkit PT PLN (Persero).

Dia menjelaskan, kurangnya pasokan batu bara ke pembangkit PLN tidak hanya terjadi saat ini. Menjelang tahun 2022, PLN pernah menghadapi kendala serupa. Minimnya pasokan ini pula yang disinyalir menjadi penyebab pemadaman listrik bergilir di sejumlah daerah di Pulau Jawa kala itu.

"Kan 2022 kejadian begini juga. Jadi bukan kejadian baru bagi PLN, 2022 juga begini. Masa setiap tahun kita masalah begini terus? Menurut kami dari pihak regulator melihat kalau ini tidak diawasi, kita tidak mau lagi seperti ini terus. Maka saya membentuk tim," tegas Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (22/6/2026).

 

Masih Butuh 20 Juta Ton Batu Bara

Saat ini PLN diketahui masih mencari sekitar 18 hingga 20 juta ton batu bara berkalori sedang untuk kebutuhan pembangkit. Bahlil ingin pengadaan tersebut dan langkah ke depannya dikawal ketat.

Tim yang dibentuk Bahlil terdiri dari pihak PLN, Direktur Jenderal Minerba, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), hingga Inspektur Jenderal Kementerian ESDM.

"Dan tidak menutup kemungkinan kita melibatkan juga pendampingan dari aparat penegak hukum agar hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi ya," tegas dia.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6